Perlunya Paham tentang Lembaga Keuangan dan Instrumennya

sumber gambar : mysharing.co 
Di era modern ini, masyarakat sudah harus sadar akan pentingnya pengetahuan tentang instrumen keuangan. Tidak hanya wilayah perkotaan, pengetahuan tentang lembaga keuangan dan instrumennya mutlak diperlukan di wilayah pedesaan, terutama di daerah-daerah terpencil Indonesia. Bukan hanya mempermudah proses transaksi, tapi juga memunculkan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia dibagi menjadi empat kategori. Pertama, well literate, yaitu memahami instrument lembaga keuangan secara detail dan bisa menggunakannya. Kedua sufficient literate, yaitu memahami instrument lembaga keuangan secara detail. Ketiga less literate, hanya sebatas tahu tentang lembaga keuangan dan instrumentnya, dan keempat not literate, tidak mengetahui apa itu lembaga keuangan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa literasi keuangan di Indonesia belum merata. Contohnya di daerah Jabodetabek pemahaman masyarakat akan lembaga keuangan sudah cukup baik dibandingkan dengan daerah luar Jawa seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan daerah kepulauan. Salah satu penyebabnya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendirikan lembaga keuangan, seperti bank. Selain itu, menurut Jupi Piji Aksen, mahasiswa Ilmu Ekonomi, masyarakat di daerahnya Tanjung Kemuning, Bengkulu masih beranggapan bahwa menggunakan instrumen bank merepotkan. Lebih nyaman menyimpan uangnya di rumah, karena bisa dilihat secara langsung, sedangkan jika disimpan di bank tidak bisa. Pendapat tersebut juga disetujui oleh Prengki, mahasiswa Ilmu Ekonomi yang berasal dari Taluk Kuantan, Riau. Menurut Prengki, di daerah asalnya yang menggunakan instrumen bank hanya mahasiswa dan pekerja kantoran. Ketersediaan lembaga keuangan yang tidak mencukupi juga membuat terbatasnya pengetahuan masyarakat akan lembaga keuangan.

Padahal dengan keikutsertaan masyarakat dalam pemanfaatan lembaga keuangan bisa membantu pembangunan ekonomi di daerahnya. Misalnya, masyarakat punya tabungan sekian rupiah, kemudian ditabung di perbankan. Nanti perbankan akan menjadikannya modal untuk membangun perekonomian daerah dengan pembiayaan terhadap sektor-sektor produktif.  Manfaat lain yang bisa diambil jika menyimpan uang di lembaga keuangan adalah keamanan dan kenyamanan.

Menurut Dimas Bagus Wiranata, dosen Ilmu Ekonomi, ada tiga solusi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Pertama penguatan aturan. Bank Indonesia (BI) selaku lembaga yang berwenang perlu menegaskan aturan dimana lembaga keuangan bisa masuk ke batas-batas terluar Indonesia. Sehingga, kebijakan yang nantinya dikeluarkan oleh BI terkait keuangan bisa produktif, sampai hingga ke masyarakat-masyarakat di daerah terpencil.

Solusi kedua adalah penguatan institusi. Untuk mempercepat literasi keuangan di masyarakat, lembaga keuangan yang melayani masyarakat perlu diperbanyak di daerah-daerah terpencil. Terutama yang melayani pembiayaan dalam jumlah kecil. Sehingga masyarakat akan terdorong untuk menggunakan instrument keuangan. Ketiga, penguatan kapasitas sosial. Sebagai contoh BI memberikan edukasi kepada masyarakat agar mulai tertarik menggunakan instrument keuangan yang sudah ada sekarang. Paling mudah adalah tabungan. Perlu juga diadakan pelatihan khusus untuk perangkat desa, mewakili masyarakat di daerah-daerah terpencil.

Sehingga nanti pada akhirnya, ketika ada aturan yang baik, kemudian ada kelembagaan yang memadai, ditunjang oleh peran masyarakat yang juga kondusif, diharapkan bisa bertemu dititik yang sama yaitu kesadaran akan pentingnya literasi keuangan bagi masyarakat yang belom terakses dari instrument keuangan.

Peningkatan literasi keuangan juga akan membawa dampak positif bagi Indonesia. Secara makro, Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah tabungan nasional. Penambahan dana dari tabungan nasional bisa digunakan sebagai sumber pembangunan ekonomi, yang juga akan meningkatkan pendapatan nasional nantinya. Dilihat dari sisi kebijakan moneter, penerapan kebijakan moneter akan semakin efektif karena bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya masyarakat tertentu saja. Sebagai contoh pengetahuan tentang naik turunnya suku bunga. Masyarakat jadi teredukasi bahwa ketika suku bunga turun adalah saat yang tepat untuk meminjam uang, karena bunga yang dibebankan pada peminjam menjadi kecil. Selain itu, akan semakin banyak lembaga keuangan yang muncul karena meningkatnya minat masyarakat untuk menyimpan uangnya di lembaga keuangan tersebut. Sehingga semakin banyak sektor-sektor ekonomi yang bisa dibiayai. Tentu saja tidak langsung. Namun melalui peningkatan literasi keuangan bisa terjadi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan melalui lembaga keuangan yang bermunculan tersebut. (SRS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar