Merelakan Hak yang Tak Terelakkan

Sumber gambar : mahasiswanews.com
Penulis  : Asni

Bangunan tak berpenghuni , hampa, dan sunyi
Kursi-kursi kosong meninggalkan bekas kenangannya
Pohon-pohon mulai kesepian
Angin tak lagi mendamaikan suasana
Kini hanya ada suara-suara mesin yang telah merampas hak mereka

Perjalanan mengisahkan sebuah kesedihan tak diundang
Saat kebijakan para penguasa telah merenggut peradaban generasi penerus bangsa ini
Menjadi diam, beku, dan mati secara perlahan
Tertunduk meratapi sebuah duka yang mengalir lagi
Menambah penderitaaan negeri yang katanya kaya raya

Ketika sebuah hak dirampas oleh mereka
Air mata berlinang mulai keluar dari buaiannya
Mereka menangis bukan berarti lemah, wahai penguasa!
Seenaknya kau bilang mereka cengeng!
Kau tuduh dan kau fitnah  mereka dengan kata-kata berbisa

Tetapi, apakah kalian sadar?
Bukan hanya kami-kami yang merasa haknya dirampas yang marah
Alam pun ikut marah dan murka
Dengan memporakporandakan semua yang ada
Semua beterbangan bagaikan debu yang terhempas

Kami, Mereka, dan Alam yang menangis
Merasakan sesaknya kenyataan dibalik gedung-gedung yang akan berdiri kokoh
Merelakan sebuah sumbu kehidupan yang tak terelakkan
Lagi.. lagi.. dan lagi

Hingga semua sesak, muak melihat akhir dari kenyataan
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar