Merajut Ingatan : Satu Tahun Pasca Kantin ‘Ditata’

Keterangan Gambar: Kantin utara kampus UMY sebelum di tata menjadi lahan parkir.


Penulis : Bryan Bimantoro dan Mega Oktarina Putri

Ratusan orang tiap hari bersliweran datang ke sini. Mereka mengunjungi lapak-lapak yang berukuran 3m x 5m berbentuk semi-permanen itu. Belasan rentengan minuman kemasan berjejer menghiasi setiap lapaknya. Tak lupa juga etalase-etalase yang berisi pengenyang perut berbaris rapi untuk dilahap. Suara sendok yang beradu dengan piring dan clentingan-clentingan bunyi sendok saat mengaduk gula yang belum cair turut meramaikan suasana tempat ini. Keriuhan sangat terasa ketika siang mulai datang. Mulai dari obrolan receh sampai obrolan level dewa mereka lakukan di sini. Mulai dari mahasiswa ideologi kiri, ideologi kiri oke kanan oke, sampai mahasiswa borjuis ideologi kanan mentok bisa berkumpul berdampingan dan beristirahat bersama di tempat ini, tempat yang selalu ramah dengan mereka : kantin.

Tepat satu tahun yang lalu, kantin di sini ‘ditata’. Pedagang yang sudah belasan tahun berjualan bahkan sejak kampus itu masih di tempat yang lama, dibiarkan begitu saja. Mereka berpencar membuka lapak baru di sekitar kampus, pun ada yang tidak berjualan lagi karena mahalnya harga sewa tempat. Ketua paguyuban kantin zona selatan, Endang Ratna mengungkapkan dari sekitar 35 lapak yang dulu berjualan di kantin zona utara dan selatan, terhitung yang kembali berjualan di luar kampus tidak sampai 50 %-nya. Dari yang tidak sampai 50 %-nya itu, ada yang merasa sudah nyaman ‘mandiri’ dan ada juga yang masih berharap untuk kembali ke kampus, tapi ada juga yang tidak berjualan karena tidak ada modal usaha lagi.

“Alhamdulilaah. Di sini nyaman. Pasti ada saja yang beli. Kalau di dalam kan sore mahasiswa pada balik ya sudah kita pulang, habis ga habis. Kalau di sini bisa buka sampai malam dan ada terus yang beli,” kata Bu Lina, salah satu pemilik kantin. Pendapatan pun, kata Bu Lina, dirasa tidak berbeda dengan sebelumnya. Bahkan lebih menguntungkan. Saat ia berjualan di dalam ia tidak bisa memastikan pendapatan pastinya per bulan. Namun ketika di luar, bisa mendapatkan pendapatan yang lebih dari cukup per harinya.

Bu Lina bercerita bahwa dulu ketika ia tahu bahwa kantin akan ‘ditata’, ia merasa sangat terpukul. Karena ia telah berjualan di kantin sudah lama dan tidak ada kepastian untuk bisa kembali atau tidak. Ia juga telah mencari-cari lapak di luar kampus dan ia terkejut karena harganya hampir empat kali lipat lebih mahal. Jika di dalam kampus ia hanya membayar empat juta per tahun maka ketika ia menyewa di luar harga sewanya sampai 15 juta rupiah per tahun. “Dulu saya bingung mau ke mana karena harga sewa di luar itu mahal sekali. Setelah saya cerita ke keluarga di Ciledug, saya dipinjami uang untuk buka usaha lagi. Alhamdulillaah lah bisa melanjutkan hidup lagi,” jelas Bu Lina sambil membungkus makanan untuk pelanggan setianya.

Saat ditanya apakah ia akan pindah ke kampus lagi saat kantin sudah jadi, ia menjawab dengan ragu-ragu. Ia merasa sudah nyaman dengan tempatnya berjualan sekarang. Apalagi, tempat yang ia sewa sekarang itu, masa sewanya adalah dua tahun. “Ya kalau dipanggil lagi kenapa tidak? Tapi, saya sudah meyewa di sini dua tahun. Kalau masuk lagi juga harus mengurus ini itu di ranting terdekat katanya. Terus mengajukan proposal ke kampus, susah. Itu juga belum pasti diterima,” kata Bu Lina sambil tertawa.

Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya sendiri-sendiri, lanjut Bu Lina. Ia bercerita, jika di kampus hubungan kekeluargaan antara penjual dan mahasiswanya sangat kental sekali. Bahkan ada yang sering main ke rumahnya sampai dianggap anak sendiri. Tapi kalau di luar seperti ini, hal itu tidak ia temukan lagi. “Orang ke sini palingan juga dibungkus. Setelah itu ya pergi, tidak ada interaksi yang intens lagi,” terang Bu Lina.

Lain Bu Lina, lain pula dengan Bu Endang. Ia memilih tidak berjualan lagi setelah kantin ‘ditata’. Ia memilih untuk mengurus ini itu lalu mendaftar kembali ke kampus dengan membuat proposal. Setelah kantinnya ‘ditata’, ia ditawari oleh temannya untuk membuka kantin di UII. Namun, karena UII dirasa terlalu jauh dan pasti menghabiskan lebih banyak biaya, ia menolak tawaran temannya itu. Ia sendiri memilih berhenti berdagang dulu. Ia memilih seperti itu karena ia tidak bisa membayar sewa tempat yang mahal di luar kampus. “Namanya cobaan ya mas. Kemarin pas kantin digusur alhamdulillaah bapak masih bekerja membangun mal Hartono. Namun, selang enam bulan setelah Hartono selesai bapak tidak bekerja lagi. Sempat tidak punya uang sama sekali mas,” cerita Bu Endang dengan raut muka sedih. 

Bu Endang masih sangat berharap untuk kembali ke kampus walaupun harus mengurus syarat-syarat tertentu. Ia pun bersedia jika harus mengurus syarat membuka kantin lagi di gedung baru dengan menggandeng ranting terdekat. “Waktu rapat koordinasi terakhir dulu kan syaratnya harus menggandeng ranting Muhammadiyah terdekat. Kemudian harus mengurus nomor baku Muhammadiyahnya juga. Saya bersama teman-teman yang lain siap juga jika harus mengurus itu kalau memang kami semua bisa kembali berjualan di dalam kampus,” jelas Bu Endang. (baca : http://www.lppmnuansa.org/2015/11/pihak-kampus-mengadakan-rapat.html?m=1)

Ketika ditanya kapan ia akan menempati tempat berjualan yang baru di dalam kampus pun ia menjawab kurang mengerti. “Nanti pasti dihubungi kampus, insyaallaah. Mahasiswa-mahasiswa juga ibu mohon doanya supaya kami bisa kembali berjualan di sana,” jelasnya.

Maka ketika kampus lebih agresif mengedepankan visi internasionalisasi kampus , kini lapak-lapak yang menjadi tempat mahasiswa bercengkerama setelah kuliah itu telah berubah menjadi tempat parkir dan bangunan kembar kokoh lima lantai nan megah. Menghilangkan kantin yang katanya tidak higienis dan kumuh itu menjadi gedung mewah berarti juga menghilangkan salah satu tempat mahasiswa berkreasi dan berinovasi. (baca : http://www.lppmnuansa.org/2015/06/gunawan-budianto-tidak-ada-penggusuran.html)

Tidak ada lagi suara-suara keakraban yang terjalin antara penjual dan mahasiswa. Tidak ada lagi tempat ramah untuk mahasiswa dari berbagai macam ideologi itu. Tidak ada lagi salah satu tempat paling efektif di kampus untuk menjalin kehidupan sosial dan keakraban pada sesama. Tidak ada lagi sosok ibu kedua bagi mahasiswa perantauan yang selalu ramah bergurau akrab sambil menyiapkan makanan enak selepas penat berkegiatan. Tidak ada lagi tempat ramah dan murah bagi para aktivis itu untuk bercengkerama hingga muncul ide-ide baru untuk kemanusiaan dan pengabdian masyarakat.

Semuanya telah sirna. Kita mahasiswa biasa hanya bisa berharap. Semoga saja tujuan awal membangun gedung baru di tanah tempat kantin ‘ditata’ itu benar-benar untuk mahasiswa-mahasiswa yang selama ini tidak berkuliah di dalam kampus. Semoga tidak beralih fungsi untuk restoran cepat saji, dengan alasan mendorong kampus untuk makin go international
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar