Menata Masa Depan Anak, Menatap Masa Depan Negara

Sumber : jalan2.com

 Oleh: Qholiva Yuni Fadilla

Anak adalah kebanggaan suatu negara yang harus dijaga dan perlu dipupuk mulai dari usia dini hingga dewasa. Agar kelak dapat menjadi generasi penerus bangsa yang nantinya akan menentukan perjalanan nasib suatu negara. Anak merupakan harapan keluarga bahkan harapan negara di suatu hari nanti.
Menurut rencana program kerjasama United Nations Children's Fund (UNICEF) Indonesia tahun 2011-2015, pertama pemerintah telah mengeluarkan keputusan untuk melakukan peningkatan kualitas 95.000 PAUD dari 58.000 desa. Kedua, pemerintah Indonesia bergabung dengan gerakan peningkatan gizi global di tahun 2011 yang meluncurkan strategi untuk pemberian makan bayi dan anak pada 2014. Sehingga didapatkan data bahwa pemerintah  Indonesia telah berhasil mengurangi 5% anak yang mengalami pertumbuhan lambat. Ketiga, perlindungan anak adalah usaha untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan. Sehingga pemerintah mengasumsikan bahwa kekerasan anak dapat dicegah.
Namun berdasarkan laporan tahunan UNICEF Indonesia tahun 2015, diperoleh beberapa fakta bahwa Indonesia merupakan negara keempat tertinggi dengan total jumlah “anak sangat kurus” sebesar 3.000.000 kasus. Kemiskinan adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan hal ini terjadi. Faktor lainnya dari segi kesehatan yakni tidak meratanya peran pemerintah dalam melakukan vaksinisasi, dan imunisasi dikalangan masyarakat terutamanya masyarakat miskin.
Fakta kedua adalah persentase angka pendaftaran siswa mengalami penurunan setiap jenjang yang lebih tinggi lagi. Pendaftaran anak 7-12 tahun sebagai siswa SD yaitu 93,5%. Pendaftaran anak 13-15 tahun sebagai siswa SMP yaitu 80,7%. Pendaftaran anak 16-18 tahun sebagai siswa SMA yaitu 57%. Artinya  4,7 juta anak di bawah 18 tahun putus sekolah di Indonesia. Melalui penurunan persentase tersebut dapat diasumsikan bahwa pendidikan formal bukanlah suatu hal yang diprioritaskan di Indonesia.
Selanjutnya, total populasi anak Indonesia adalah 255 juta atau 33% penduduk Indonesia, adalah anak-anak yang tiap tahunnya meningkat 3 juta per tahunnya. Namun, perlindungan anak masih menjadi masalah serius yang tak pernah habis dibahas melalui media. Selalu ada saja kasus yang menyangkut kekerasan terhadap anak hampir setiap harinya. Mulai dari kasus bullying bahkan kekerasan fisik. Apalagi belakangan ini Indonesia telah digemparkan dengan kasus pemerkosaan, sodomi, dan pembunuhan. Bukan hanya sebagai korban, bahkan banyak anak-anak Indonesia menjadi pelaku suatu kasus diskriminasi. Banyaknya anak Indonesia yang belum mendapatkan perlindungan secara merata sehingga mengakibatkan tingginya angka kekerasan terhadap anak. Seorang anak jika pernah mengalami tindak kekerasan akan merasakan kesakitan bahkan trauma.
Dampak lain yang terjadi adalah timbulnya kesenjangan berfikir antara anak yang sekolah dengan anak yang tidak sekolah. Dampak nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia melalui kasus-kasus tersebut yaitu meningkatnya angka kemiskinan Indonesia tiap tahunnya. Tak heran bila kita banyak menemui fenomena banyaknya anak Indonesia yang putus sekolah. Namun ketika ditanyakan ‘mengapa?’ jawaban yang akan timbul tidak lain adalah ‘tidak punya uang’.
Berdasarkann fakta-fakta tersebut, kondisi anak Indonesia pada saat ini membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Perlu tindak lanjut dari stakeholder yang terkait untuk mengatasi keadaan miris yang dihadapi oleh anak Indonesia. Utamanya orangtua perlu meningkatkan kesadaran maupun literasi khusus mengenai pentingnya kesehatan, pendidikan, serta perlindungan terhadap anak.
Tidak hanya orangtua, anak muda pun memiliki peran penting untuk kemajuan anak-anak Indonesia. Kalangan muda sebagai generasi yang melek teknologi dapat menyuarakan aspirasi mereka melalui media sosial yang menjadi salah satu kekuatan utama mereka. Misalnya menuntut untuk pemenuhan atas hak pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Anak merupakan investasi berharga bagi suatu negara, karena menata masa depan anak adalah menatap masa depan negara. Maka, Pemerintah perlu meningkatkan perannya sebagai lembaga formal dalam melindungi dan memenuhi hak anak. Karena 30% penduduk Indonesia adalah anak-anak yang layak mendapatkan perhatian dari pemerintah. 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar