Ilusi


Andai aku bisa berdamai dengan masa laluku, pasti saat ini aku bisa bangkit dan berlabuh di sebuah tempat indah nan nyaman, sebuah hati baru.
Saat ini aku tengah terdampar disebuah pulau dengan mataharinya yg terik. Aku haus dan lapar tapi tak ada sedikitpun makanan disini hanya ada beberapa pohon kelapa namun aku tak bisa memanjatnya. Hanya ada aku dan suara ombak yang menerjang karang begitu kuat sehingga terdengar suaranya yg garang.
Setiap aku berusaha untuk keluar dari pulau ini aku merasa bahwa aku tak sanggup,aku sudah nyaman disini meski terkadang aku harus menahan haus dan lapar yang berkepanjangan,tapi tak apa aku kuat menghadapi ini semua. Buktinya,sudah bertahun-tahun aku hidup disini dan aku masih hidup sampai sekarang, dengan keadaan yang sehat,namun memang aku akui,aku sedikit lebih kurus daripada biasanya.
Begitu teriknya matahari hingga aku sering melihat bayangan semacam ilusi,seorang lelaki yang datang dalam ilusiku selalu itu, aku sangat mengingat bagaimana wajahnya,garis mukanya,hingga senyumnya yang membuatku jatuh cinta. Lelaki itulah yang membuatku nyaman disini dan mengurungkan niatku untuk pergi. Apalagi ketika matahari sedang terik dan aku harus menahan dahaga,maka lelaki itu akan muncul di hadapanku,tapi sialnya siang ini aku sudah tak kuasa menahan dahagaku lagi.  Jika aku minum,lelaki itu akan datang besok,tapi  jika aku tak minum maka aku bisa meninggal disini. Bagaimana? Entahlah,sepertinya aku akan mencari air,biarlah dia datang esok,setidaknya aku masih bisa melihatnya esok daripada aku meninggal dan tak bisa melihatnya lagi.
“ aku ingin ada orang disini untuk menemaniku!”
Teriakan itu adalah doaku dan semoga Tuhan segera mengabulkannya dengan mengirimkan satu hambanya untuk menemaniku berjuang disini.
“matahari ini begitu menyiksaku,tak bisakah kau sedikit meredupkan sinarmu itu? Ini begitu mematikanku,aku butuh minum. Habis sudah persediaan minumku disini”.
Tidur,akan selalu menjadi alternatif ketika aku tak menemukan apa yang aku cari dan selama aku tidur,aku hanya membayangkan bagaimana hidupku esok jika sekarang hidupku selalu diambang kematian. Hanya itu yang ada dipikirkanku,terkadang aku juga bisa merasa kalut dalam keadaan seperti ini,Haha
Saat aku terbangun,entah siapa yang meletakkan dua buah botol air yang terlihat begitu segar di sampingku. Meneropong sekitarku tak ada seorangpun disini,apa mungkin aku bermimpi? Aku tak peduli,akan ku minum sedikit demi sedikit agar aku bisa bertahan hidup.
“ apa kau tak mau pulang bersamaku?”
Suara itu!Aku mengenalnya! Ku cari darimana suara itu tapi aku tak menemukannya.
“ kau tak bahagia disini, kau hanya akan mati perlahan disini. Pulanglah denganku”
Dia muncul dari balik batu karang itu,seorang pria bertubuh tinggi tegap menghampiriku.
“ aku tak mau, aku bahagia disini bersamanya”
“ ilusimu hanya membuatmu tersiksa, sudahlah tak ada gunanya. Sekarang apa maumu?”
“ aku akan terus menunggu hingga dia datang seperti biasanya”.
“ aku akan membuatmu bisa terlepas dari ilusi konyolmu”.
Ternyata dia benar-benar menginginkanku untuk pergi. Dengan dia terus memberiku cukup air dan makanan setiap harinya aku tak merasa lapar dan haus. Cara dia berhasil,aku sudah tidak bisa melihat ilusiku lagi. Bahkan sekedar memikirkannya pun tidak, itu karena dia. Alan,sahabatku.
Tapi,apa ini jawaban dari Tuhan tentang teriakanku waktu itu?Apa mungkin Alan? Aku merasa aman dan nyaman bersamanya,tak perlu lagi aku risau berjuang sendiri.
“ ayo kita pergi dan aku akan berada disampingmu Ilana”.
“ tapi,aku belum sepenuhnya rela meninggalkan ini semua”.
“ tak apa,aku akan membantumu untuk melepaskan semuanya disini tanpa terkecuali”
Dan terakhir, Ternyata kamu bukan kenyataan bagiku,ternyata kamu hanyalah ilusi. Aku sedang dalam proses menghilangkan semua ilusi tentangmu,tentang kisah kita dan perpisahan kita yang memilukan. Aku akan memulai hidup baruku,aku berharap aku tak kembali kesini lagi kecuali bersama masa depanku. Selamat tinggal Pulau Kenangan, terima kasih telah mengajarkanku berjuang hingga hampir berujung kematian. Aku akan meninggalkan semua perasaanku disini bersama ilusi tentangmu". (MTCH)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar