Evaluasi Kinerja Dosen, Sudah Lebih Baik tapi Masih Ada yang Perlu Diperbaiki

Sumber gambar: hipwee.com

Berdasarkan data dari pihak Biro Sumber Daya Manusia Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BSDM UMY), diketahui ada sekitar kurang lebih seribu pegawai yang bekerja di kampus UMY. Jumlah tersebut termasuk di dalamnya 594 orang dosen baik dari gedung selatan maupun utara. Dari keseluruhan jumlah dosen tersebut memiliki penilaian kinerja yang berbeda-beda tergantung pada bagaimana pribadi dosen tersebut. Secara jumlah, dosen-dosen UMY terbilang cukup banyak. Agar kemudian terjadi penciptaan generasi penerus bangsa yang berkualitas, jumlah sumber daya pengajar saja tidak cukup, para pengajar juga harus memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mendidik mahasiswanya.
Pada bulan Mei 2016 lalu, kami mewawancarai Suryo Pratolo selaku Wakil Rektor II, beliau menilai kinerja dosen-dosen UMY saat ini mulai membaik dan terkendali. “Dulu mungkin belum terlalu terkendali sehingga agak susah untuk mengevaluasi dosen. Sekarang juga pemerintah sudah sangat mendorong prestasi dosen dengan adanya sertifikasi dosen. Dosen yang sudah disertifikasi setiap tahunnya akan melaporkan kinerjanya yang dinamakan dengan Laporan Evaluasi Beban Kerja Dosen (LEBKD)”.
Menelusuri opini mahasiswa mengenai hal ini, kami juga mewawancarai salah satu mahasiswa UMY pada bulan Juni 2016, Philip Arthur salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional,  “Kebanyakan dosen UMY khususnya di HI itu gak cuma ngajar materi kuliah aja, tapi juga kasih info-info yang emang bersifat universal, jadi ketika kuliah kita tuh nggak cuma dapet materi tapi juga pengetahuan umum yang pastinya berguna buat kita, dan lagi ada dosen yang memberikan challenge yaitu kayak yang dapet top 3 nilai UTS bakalan dikasi tiket nonton, yang pastinya bakal memacu semangat mahasiswa buat dapet nilai yang tinggi jadi ada persaingan dalam menjadi yang terbaik itu bagus banget.”
Mahasiswa asal kota Palembang tersebut juga menambahkan bahwa interaksi dosen dan mahasiswa di luar jam belajar mengajar dinilai sudah berjalan baik, “Interaksi dengan mahasiswa bisa dibilang berjalan dengan baik, karena memang dosen memeberikan nomor HP nya kepada mahasiswa untuk bertanya perihal perkuliahan di matakuliahnya.”
Agus Nugroho, selaku dosen di Fakultas Pertanian memperkuat argumen diatas dan berpendapat bahwa interaksi sosial dan ukhuwah sudah jauh lebih baik. Beliau menjelaskan mengenai adanya rasa kebersamaan, interaksi dosen, dan mahasiswa tidak ada gap yang terlalu jauh karena ada keterbukaan yang lebih besar. Beliau juga menjelaskan, untuk Fakultas Pertanian sendiri memiliki kegiatan-kegiatan seperti sarasehan antara dosen dan mahasiswa yang mana sebagai sarana sharing.
Kembali pada hakikat adanya positif pasti ada negatif dalam suatu hal,  tanggapan lain diberikan oleh salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan, Dela Setiawan. Dela berpendapat bahwa kinerja dosen tidak bisa diambil rata-rata, tergantung dari dosennya itu sendiri. Ia mengakui bahwa memang masih ada sebagian dosen yang kinerjanya dinilai kurang memuaskan, “Tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga dosen yang hanya datang, memberi tugas, dan duduk diam di depan dan kita disuruh mengerjakan tugas, dan kalau kita sudah selesai tugasnya kita disuruh presentasikan, yang menanggapi mahasiswa, jadi penanggapan dari dosen tersebut tidak ada.”
Namun, hal tersebut jelas masih bisa diperbaiki dengan perbaikan cara dalam mengajar. Ada berbagai cara agar seorang pengajar bisa lebih baik dalam proses belajar mengajar. Lebih lanjut Philip kembali menjelaskan mengenai sarannya terhadap cara mengajar dosen, agar tercapai proses belajar mengajar yang baik serta membuat UMY menjadi lebih berkualitas. Cara mengajarnya itu harus jelas, jadi sebelum masuk materi harus dipaparkan  dahulu kita bakal belajar apa. Jadi mahasiswa bakalan dapat gambaran terlebih dahulu tentang materinya yang bakal membantu mahasiswa dalam belajar sebelum materi dimulai, kemudian ada interaksi antara dosen dan mahasiswa jadi mahasiswa nggak merasa bosan dalam kelas, vokal suara juga harus lebih besar karena problem mahasiswa paling belakang susah mendengar suara dosen ketika menjelaskan.”
Sebagai individu-individu yang berpendidikan, seorang pengajar juga dituntut untuk turun ke lapangan dan berkontribusi dalam masyarakat, hal ini ternyata juga mampu berpengaruh terhadap cara mengajar dosen . Dalam hal ini Agus menjelaskan tentang perlunya  pengalaman turun ke lapangan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat yang kemudian akan menambah bekal untuk disampaikan kepada mahasiswa, sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik. “Semakin banyak kita punya pengalaman di lapangan, semakin banyak bekal yang akan disampaikan ke mahasiswa.”
Sejalan dengan pendapat Agus, Suryo juga menegaskan bahwa dosen harus melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mana salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat. beliau mencontohkan dengan aktif di kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Menurutnya, tidak sedikit para pengajar UMY yang aktif dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Salah satunya bahkan ada yang menjabat sebagai ketua PP Aisyiah.
Tidak menutup kemungkinan untuk diadakan perubahan menjadi lebih baik, walau memang sudah bisa dikatakan baik. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan baik dari segi pengajar, sistem bahkan fasilitas adalah untuk menunjang perwujudan kampus unggul berkualitas. Bukan hanya kepada satu pihak, tapi seluruh pihak dalam kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta harus saling bersinergi.  (AML,RAN)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar