TIGA DESTINASI PARIWISATA DAN BUDAYA YOGYAKARTA SEMAKIN POTENSIAL PASCA PEMBERLAKUAN MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

Desa wisata Tembi.             
Dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini, sektor pariwisata di Indonesia dinyatakan yang paling siap dibandingkan profesi lainnya yang ada dalam kesepakatan Mutual Recognition Arrangements (MRA) antara negara ASEAN pada MEA 2015. Potensi pariwisata dan budaya yang dimiliki Indonesia begitu beragam, hal ini tentu sangat potensial untuk meningkatkan ekonomi di daerah-daerah yang ada di Indonesia. Sebagai contoh Yogyakarta yang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
                Saat ini Yogyakarta telah memiliki lebih dari dua puluh destinasi pariwisata dan budaya. Setiap objek pariwisata dan budaya ini menawarkan keindahan dan keistimewaannya masing-masing. Kekayaan dan keberagaman inilah yang menjadi keunikan Yogyakarta sebagai daerah destinasi pariwisata dan budaya bagi wisatawan yang berkunjung.
                Dalam penelitian tentang pengaruh Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) terhadap perkembangan pariwisata dan budaya di Yogyakarta, kami mencoba untuk mengambil tiga sampel data dari keseluruhan objek pariwisata dan budaya yang ada di Yogyakarta sebagai objek penelitian. Adapun tempat-tempat yang dimaksud di antaranya adalah:
1.    Museum Sonobudoyo
                Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa yang menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa, serta dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Peran Museum Sonobudoyo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal dalam mengatasi fenomena pengangguran saat ini dapat dikatakan cukup berhasil, khususnya pada kegiatan dan pelatihan yang diadakan oleh pegawai museum tersebut. Selanjutnya pelatihan tersebut akan menghasilkan sebuah keterampilan sebagai ladang usaha bagi mereka yang menggunakan fasilitas tersebut. Museum Sonobudoyo memiliki keunikan tersendiri, sehingga dapat memikat para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung. Pertunjukan wayang yang sering ditampilkan menjadi suatu magnet tersendiri dalam menggaet para pengunjung museum ini. Pertunjukan tersebut tetap mempertahankan budaya asli Jawa agar budaya leluhur dapat terus dilestarikan.
                Sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada awal Januari 2016 silam, jumlah wisatawan asing yang datang pada Museum Sonobudoyo secara bertahap terus mengalami peningkatan. Peningkatan yang paling signifikan mulai terjadi di Bulan Maret dan berlanjut hingga Bulan Mei ini. Jika kita bandingkan pada bulan yang sama di tahun 2015, mayoritas wisatawan yang datang berasal dari Eropa dan dalam jumlah yang tidak sebanyak seperti yang terjadi di tahun 2016. Sedangkan pada saat ini, dapat kita lihat bahwa jumlah wisatawan Asia dan Eropa akan seimbang.
                Pihak pengelola museum Sonobudoyo akan terus berusaha untuk selalu bertanggung jawab dalam peningkatan pelayanan dan perawatan fasilitas yang terdapat di museum ini. Karena nantinya Museum Sonobudoyo akan dijadikan sebagai museum internasional, dengan harapan jumlah pengunjung akan lebih meningkat dan akan semakin membantu perekonomian masyarakat sekitarnya.
2.    Desa Wisata Tembi
                Desa Wisata Tembi merupakan nama yang diadaptasi menjadi sebuah lembaga kebudayaan Rumah Budaya Tembi. Saat ini, objek pariwisata dan budaya ini dikelola oleh pengurus dengan dibantu oleh pemuda-pemudi yang ada di kampung setempat. Desa wisata ini telah berhasil menoreh berbagai prestasi, baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini terbukti dengan keberhasilan Desa Wisata Tembi mewakili Indonesia dalam ASEAN Tourism Community yang dilaksanakan di Filipina pada bulan Januari 2016 silam. Prestasi ini berhasil dicapai karena Desa Wisata ini memiliki Home Stay yang dilengkapi fasilitas pelayanan setara dengan hotel berbintang. Ditunjuknya Home Stay Desa Wisata Tembi sebagai standar ASEAN karena memiliki keunggulan dalam beberapa hal, di antaranya bangunan home stay dalam bentuk kebudayaan Jawa, fasilitas home stay yang setara dengan hotel berbintang lima, dan pengklasifikasian fasilitas home stay ke dalam beberapa level (tingkatan).
                Desa wisata Tembi tidak hanya menjadi target wisata bagi wisatawan asing, namun juga bagi wisatawan domestik. Selain itu tidak sedikit pengunjung Desa Wisata Tembi, yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat, datang berkunjung dengan tujuan untuk melakukan kegiatan edukasi, seperti untuk pelatihan membuat kerajinan tangan tradisional dan kegiatan outbond.
3.    Sanggar Tari Kampung Budaya Ndalem Pujokusuman
                Sanggar Tari Kampung Budaya Ndalem Pujokusuman merupakan salah satu  objek kebudayaan tari klasik Yogyakarta yang masih dilestarikan sejak tahun 1960 hingga sekarang. Sanggar Tari Ndalem Pujokusuman merupakan satu-satunya sanggar pelestari tarian asli dari keraton Yogyakarta yang belum tercampur dengan tarian budaya lain. Jadi visi dan misi dari pengajaran tari di sanggar ini adalah untuk melestarikan budaya asli Yogyakarta yang telah ada sejak masa leluhur.
Keberhasilan pihak sanggar dalam pemberian pembelajaran tari kepada murid-muridnya, terutama pelajar asing, sudah banyak membuahkan hasil yang membanggakan. Salah satunya seperti seorang pelajar yang berasal dari Jepang, yang mana dia telah berhasil mendirikan sanggar tari khas Yogyakarta miliknya sendiri di Jepang, tepatnya di Tokyo. Hal itu membuktikan bahwa seni tari di Indonesia sangat besar pengaruhnya bagi dunia internasional. Sanggar tari ini pun juga sudah cukup sering melakukan pementasan-pementasan tari di luar negeri, bahkan sampai di Eropa. Dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tidak menjadikan tarian khas Yogyakarta menurun eksistensinya.
Berkaca dari beberapa penjabaran di atas, maka saat ini langkah yang perlu diambil oleh pemerintah adalah harus lebih memperhatikan kondisi kelestarian pariwisata dan budaya yang ada di Yogyakarta, karena dua hal ini merupakan aset terbesar yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di dalam kondisi MEA saat ini. Kemudian masyarakat sebagai pihak yang menjalankan dan merasakan langsung dampak dari berjalannya MEA ini harus lebih peduli dengan pentingnya kondisi pendidikan mereka. Sehingga mereka dapat terus bersaing dengan masyarakat yang berasal dari  negara-negara anggota ASEAN lainnya.
Kita telah mengetahui bahwa MEA merupakan gerbang untuk unjuk gigi dalam eksistensi Indonesia sebagai negara yang sedang tumbuh berkembang. Pembenahan sektor pariwisata dan budaya baik di aspek infrastruktur maupun sumber daya manusia sangatlah penting. Di mana Yogyakarta sebagai salah satu daerah dengan banyak potensi wisata dan budaya seharusnya mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat yang bertempat tinggal di daerahnya.

Sumber : KOMAHI UMY
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar