Pemuda untuk Indonesia, Tanpa Kepentingan Golongan


Sekumpulan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah gencar menyatakan kepedulian dan kecintaannya terhadap tanah air. Hal itu terlihat dari panggung yang dilengkapi dengan stand mic serta dekorasi kertas di Taman Batu Fisipol. Kertas-kertas tersebut berupa harapan dan aspirasi mahasiswa menyambut Hari Sumpah Pemuda. Acara digelar hari Kamis, (27/10) mulai pukul 09.00 oleh panitia acara. Sejak pagi, sudah terlihat banyak mahasiswa berkumpul di tengah Taman Batu Fisipol untuk sekedar hadir dan menikmati acara tersebut. “ Hidup Mahasiswa!!”  sontak terdengar selalu disorakan. Setiap mahasiswa berdiri dipanggung sambil bergantian meneriakan aspirasi dan harapan yang diinginkan mahasiswa dalam menyambut Sumpah Pemuda. Tampak beberapa mahasiswa berorasi di hadapan mahasiswa lainnya. Tidak hanya orasi, mahasiswa bebas mengutarakan aspirasinya melalui puisi dan nyanyian akustiknya.

Acara ini sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh beberapa Mahasiswa Fisipol. Tanpa menggunakan embel-embel suatu organisasi atau pergerakan serta kepentingan golongan. Acara ini murni dan khusus dari mahasiswa untuk mengajak mahasiswa lainnya yang berasal dari berbagai jurusan bergabung dalam acara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Panitia memanfaatkan selebaran poster dan media sosial untuk menyebarkan informasi terkait acara ini. Poster bergambarkan Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dengan berbagai selogan berhubungan tentang Sumpah Pemuda serta hal yang harus dilakukan mahasiswa dalam memperingati Sumpah Pemuda dicantumkan pula kata-kata mutiara khas Soekarno yang sangat terkenal.

            “Beri aku 100 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 orang pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia”.

Isi slogan pidato Soekarno tersebut sangatlah akrab dengan orasi para mahasiswa untuk menyambut Sumpah Pemuda. Acara ini pun memiliki tujuan untuk mengembalikan semangat mahasiswa. Jika pada zaman dulu pemuda bersatu untuk menyatukan suara menyatakan berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu serta tuntutan terhadap pemerintah dari tiap-tiap pemuda. Lain lagi dengan kehidupan zaman sekarang, melalui acara ini Mahasiswa Fisipol UMY memang telah menyatakan berbangsa satu, bertanah air satu, berbahasa satu ditambah dengan usaha menghentikan budaya apatis yang sekarang sedang dialami kebanyakan mahasiswa, egoisme serta individualisme, dan lainnya.  Ade Yuginsyah, salah satu mahasiswa Fisipol penyelenggara acara menyatakan bahwa mahasiswa bersatu dan menyuarakan aspirasinya sebagai seorang mahasiswa tanpa membawa kepentingan organisasi atau kelompoknya, acara ini murni bertujuan untuk mahasiswa.

Antusiasme mahasiswa terhadap acara ini sangatlah beragam. Sebelum acara ini dimulai, teman-teman yang menjadi koordinator acara telah membagikan secarik kertas untuk mahasiswa menuliskan aspirasi dan harapannya kemudian oleh teman-teman kordinator kertas aspirasi dan harapan para mahasiswa ditempel dan digantung menjadi hiasan panggung di tempat acara diselenggarakan. Ini menjadi bentuk apresiasi kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat oleh mahasiswa sebagai seorang pemuda. Tak ketinggalan para mahasiswa baru yang juga menunjukan pasrtisipasinya. Walaupun acara semacam ini masih sangat baru dan asing tapi mereka menunjukan antusiasmenya. Koordinator acara menyatakan bahwa para mahasiswa baru sangat membantu dalam menyebarluaskan informasi acara ini serta ikut bergabung dalam acara.


Setelah melalui serangkaian acara yang diiringi oleh berbagai orasi, pidato, puisi, dan nyanyian, para mahasiswa menyampaikan pendapat dan tuntutannya terhadap BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fisipol dan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fisipol. Bagi mereka saat ini adalah salah satu kesempatan untuk menyeruakan tuntutan dan harapan mereka terhadap kedua organisasi internal Fisipol ini. “Bila dahulu sumpah pemuda diperingati dengan mengumpulkan para pemuda dari tiap daerah untuk mengkritik pemerinthan Indonesia. Maka  terjadi begitu juga terhadap mahasiswa Fisipol yang berkumpul untuk menuntut kinerja BEM dan DPM lebih baik lagi dengan tuntutan yang telah dikumandangkan melalui aksi kemarin,” ujar Arief Aulia Rahman, selaku panitia acara. Melalui Hari Sumpah Pemuda ini mahasiswa disatukan dan bebas untuk mengutarakan pendapatnya. (Layli)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar