Yoyok Sudibyo: Enggak Ada Motivasi Saya jadi Bupati


Memasuki hari ketiga pelaksanaan Mataf Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Kamis (8/9), serempak diadakan Mataf tingkat Program Studi, tidak terkecuali Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) UMY. Mataf Prodi IP 2016 diselenggarakan di Lapangan Bintang UMY. Seperti halnya acara Mataf Prodi pada umumnya yang mengundang tokoh-tokoh penting untuk memberikan materi kepada para mahasiswa baru, panitia Mataf Prodi IP pun tak kalah inisiatif pada penyelenggaraan Mataf tahun ini dengan mengundang Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo. Yoyok merupakan salah seorang tokoh pejabat dalam pemerintahan daerah yang terkenal dengan terobosan-terobosan uniknya, salah satunya adalah Festival Anggaran.

Pada diskusi dengan mahasiswa baru IP UMY, Yoyok menceritakan pengalamannya sebelum menjadi seorang bupati. Dahulunya beliau adalah seorang Perwira berpangkat Mayor yang memutuskan pensiun dini dari dunia militer untuk kemudian melanjutkan hidup menjadi seorang pengusaha. “Suatu saat saya merasa bimbang, saya berpangkat mayor dan saya dagang. Pada saat itu keduanya sedang berada pada pucaknya. Akhirnya saya pamit pada orangtua dan orang-orang terdekat saya untuk pensiun dini dari karir militer dan memilih untuk dagang,” jabar Yoyok.

Dalam diskusi tersebut banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa baru  IP kepada bupati muda tersebut. Salah satu pertanyaan yang muncul dari mahasiswa baru ialah mengenai motivasi beliau menjadi seorang bupati.  Secara terang-terangan Yoyok menjawab pertanyaan tersebut bahwa tidak ada motivasi baginya untuk menjadi seorang bupati. “Enggak ada motivasi. Awalnya dari guyonan adik saya yang seorang polisi menyampaikan kepada saya ‘Mas kenapa enggak berani? Tentara kok penakut! Dari situ saya memutuskan untuk menjadi bupati dan akhirnya saya jadi bupati betul,” cerita Yoyok dengan tawa khasnya.

Pada saat menjabat sebagai bupati, Yoyok yang sebelumnya memiliki usaha di bidang fesyen  mengaku harus mengambil risiko kehilangan gerai-gerainya yang semula terdapat kurang lebih 50 gerai sekarang hanya tinggal 13 gerai. Yoyok menyadari bahwa itu adalah risiko yang harus ia ambil karena memilih menjadi bupati. “Februari tahun 2012 terpilih menjadi bupati, saya mencoba serius untuk jadi bupati. Kemudian yang menjadi korban adalah dagangan saya habis, enggak masalah karena itu memang risiko,” ujarnya. Lebih lanjut Yoyok mengatakan bahwa ada seseorang yang pernah menyampaikan kepada beliau, “Yok, kalau kamu mau maju jangan pernah naruh dua kakimu itu di dua kapal yang berbeda.” Hal itulah yang kemudian menjadi patokan Yoyok untuk mantap dan serius pada salah satu bidang yang telah ia pilih. “Kalau berdagang ya berdagang saja. Kalau pemerintahan ya pemerintahan saja. Kalau tentara ya tentara saja. Jangan tentara sama dagang atau dagang sama pemerintahan,” tutup Yoyok.

Tidak hanya memberikan ilmu dan pengetahuan kepada para mahasiswa baru IP UMY melalui diskusi tersebut, pada akhir acara Yoyok menyempatkan diri menghibur seluruh orang yang hadir pada Mataf IP 2016 dengan menembangkan empat buah lagu. Hal tersebut menjadi poin tambahan bagi para mahasiswa baru IP di mana selain mendapatkan ilmu dan pengetahuan juga mendapatkan hiburan dari sang bupati. (KAF, NZ)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar