Terkendala Izin, Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra Dilarang Beroperasi

Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra dilarang beroperasi oleh pihak keamanan kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ketika sedang membuka perpustakaan jalanan di Taman Batu Fakultas Ekonomi, Rabu (21/9). Pihak keamanan beralasan tidak ada izin resmi kepada pihak kampus yang dikantongi oleh Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra tersebut untuk beroperasi.

Kronologi pelarangan operasional Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra UMY berawal ketika mereka membuka perpustakaan jalanan pada Rabu pagi pukul 09.00 WIB bertempat di Taman Batu Fakultas Ekonomi. Pihak keamanan kampus memaksa untuk tidak beroperasi terkait dengan izin dan prosedur yang berlaku. Sempat terjadi adu mulut antara pihak Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra UMY dengan pihak keamanan kampus hingga akhirnya perpustakaan jalanan terpaksa tidak dibuka di Taman Batu Fakultas Ekonomi.

Masih di hari yang sama, tepatnya pukul 10.00 WIB Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra mencoba membuka perpustakaan bertempat Lobi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), tidak berselang lama lima orang pihak keamanan kampus kembali memaksa untuk tidak beroperasi dengan alasan yang sama.

Dihubungi Nuansa, Muhammad Idra Faudu, selaku koordinator perpustakaan jalanan mengaku sangat menyayangkan hal ini terjadi. Menurutnya, gerakan Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra adalah gerakan dakwah. ”Gerakan kami adalah gerakan dakwah di bidang pengetahuan karena kami memberikan ruang alternatif kepada mahasiswa untuk membaca,” ujarnya.

Terkait izin yang harus dikantongi, Idra menegaskan gerakan perpustakaan jalanan adalah hak mahasiswa untuk membaca, di mana hal tersebut tidak perlu izin. “Karena kami membicarakan hak mahasiswa untuk membaca, itu adalah aktivitas bebas dan tidak perlu izin,” lanjut Idra.

Sementara itu, pihak Lingkungan dan Kawasan (Lingkawas) di bawah Biro Umum UMY mengaku keputusan tersebut telah sesuai prosedur yang berlaku, karena izin  penggunaan fasilitas kampus hanya diperuntukkan untuk kegiatan yang berada di bawah naungan (LPKA). ”Semua kegiatan yang saya beri izin hanya kegiatan yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Sementara perpustakaan jalanan bukan bagian dari itu,” ujar Noor Fajari Endriyanto selaku Kepala Urusan Lingkawas saat diwawancarai Nuansa di ruangannya, Kamis (22/9). 

Lebih lanjut Noor Fajari tidak mempermasalahkan terkait konten buku ataupun kegiatan perpustakaan jalanan, namun yang menjadi permasalahannya yakni terkait dengan perizinan yang berlaku. "Bukan berarti saya melarang mahasiswa untuk membaca, yang saya permasalahkan terkait dengan perizinan resmi kegiatan yang berada di bawah naungan LPKA,” tambahnya. Menyikapi hal itu, pihak Lingkawas merekomendasikan kepada perpustakaan jalanan untuk dapat bekerjasama dengan pihak terkait seperti BEM atau DPM terkait dengan penyuplaian buku dan perizinannya.

Perpustakaan Jalanan sendiri merupakan gerakan yang diadakan oleh komunitas Rakyat Sastra UMY di bidang literasi yang bertujuan untuk memberikan ruang baca terhadap mahasiswa dengan menyediakan berbagai macam jenis buku yang disediakan untuk dibaca mahasiswa. Gerakan tersebut telah hampir setahun berlangsung walaupun belum mengantongi izin yang resmi dari kampus. (HRP)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. UG Jurnal merupakan kumpulan jurnal penelitian dari semua fakultas yang ditulis oleh Dosen dan Mahasiswa Universitas Gunadarma. UG Jurnal terbit tiap sebulan sekali dan tiap bulannya memuat jurnal dari berbagai fakultas. Untuk mengetahui info lebih lanjut bisa mengakses http://ejournal.gunadarma.ac.id/

    BalasHapus