Mataf FPB: Guru merupakan Ujung Tombak Pembelajaran

 Masa Ta’aruf (Mataf) Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) Universtias Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berlangsung aman dan kondusif. Tampak juga antusiasme 260 mahasiswa baru FPB yang mengikuti rangkaian Mataf pada Rabu (7/9). Bertempat di gedung University Residence (Unires) Putri, semangat mereka mulai tampak ketika menyambut kedatangan Sekretaris Dinas Pendidikan Yogyakarta, Budi Santosa Asrori.
            Mataf FPB tahun ini mengambil tema “Kritis dalam Mendidik untuk Generasi Terdidik”. Menurut Fajar Maulana, selaku ketua Mataf FPB, pengambilan tema tersebut bertujuan untuk menunjukkan kepada peserta Mataf bahwa pendidik tidak harus menggunakan kekerasan dalam mengajar. “Kita ingin menunjukkan kepada seluruh mahasiswa baru bahwa mendidik itu harus tegas namun tidak harus dengan cara kekerasan,” ujarnya.
            Hadir dalam Mataf FPB, Sekretaris Dinas Pendidikan Yogyakarta, Budi Santosa Asrori selaku pembicara inti. Dalam materinya, beliau menyampaikan bahwa pendidikan itu sangat luas dan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang mana peran pendidikan sangat dibutuhkan bahkan sejak manusia dilahirkan. Beliau juga menyampaikan tiga aspek pendidikan yang harus dimiliki oleh pengajar. “Para pengajar harus memiliki aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berkitan dengan tingkat kecerdasan seseorang, afektif berkaitan dengan moral seseorang, dan psikomotorik berkaitan dengan aktivitas fisik seseorang,” ungkap Budi Santosa Asrori.
            Selain itu, Budi Santoso Asrori juga menuturkan bahwa guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Dalam dialognya, ia juga menyampaikan empat faktor yang berkaitan dengan kemampuan guru. Mereka adalah kemampuan untuk menyampaikan materi, profesionalitas, kemampuan sosial, dan kepribadian. Ia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa baru FPB, bahwa mereka tidak perlu merasa minder terhadap profesi guru. “Sepuluh tahun terakhir kesejahteraan guru justru makin meningkat. Dengan adanya tunjangan sertifikasi, baik PNS maupun non PNS. Jadi jangan takut menjadi guru karena guru akan ditempatkan di tempat yang terhormat di mana saja,” ujarnya.
            Selain Budi Santoso Asrori, Mataf FPB juga menghadirkan Gendroyono, selaku Dekan FPB dan Dedi, selaku Wakil Dekan II FPB. Gendroyono menyampaikan pada semester satu dan dua ini mahasiswa FPB akan difokuskan pada pelancaran berbahasa. Ia juga menjelaskan bahwa dengan modifiksi kurikulum baru, mahasiswa dapat lulus dengan tujuh semester. Kemudian, Dedi menuturkan tentang pentingnya organisasi bagi mahasiswa. “Organisasi jangan digunakan sebagai pelarian dari akademik, namun organisasi dan akademik harus tetap seimbang,” ungkap Dedi. (AML, ALF)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar