Wajah Pendidikan Indonesia


Penulis : Yudhistira Eling P

Pada zaman sekarang ini jika kita berbicara tentang pendidikan, kita ambil Indonesia sebagai contoh. Hal ini tidak terlalu buruk jika kita membandingkan dengan negara lain. Kita bisa mengetahuinya dari berbagai sumber. Seperti di setiap kompetisi sains di tingkat internasional, delegasi Indonesia sering mendapatkan medali, dan sebagian besar dari mereka mendapat medali emas. Itu hanya sebagian kecil dari potret pendidikan di Indonesia. Tapi mari kita lihat lebih dalam tentang pendidikan di Indonesia.
Saya menulis opini ini menurut pengalaman saya dan visi saya tentang pendidikan di Indonesia. Mengapa saya tertarik dengan kasus ini, karena saya merasa ada masalah yang harus diselesaikan tentang pendidikan di Indonesia. Saya menyadari bahwa saya bukan ahli di bidang pendidikan. Tapi saya hanya ingin berbagi apa yang saya rasakan, bahwa saya pikir itu juga dirasakan oleh siswa lain di Indonesia.
Selama saya belajar di Indonesia, saya begitu sulit untuk menemukan prioritas sebenarnya dalam pembelajaran. Ada dua cara yang harus kita pilih, cara berpikir di dalam sistem, dan cara berpikir di luar sistem. Jika kita mengikuti petunjuk dan hanya berjalan di sangkar sistem, kita akan mendapatkan probabilitas besar untuk mendapatkan nilai yang baik. Tetapi jika kita mencoba mengeksplor diri kita di luar kebiasaan, seperti hal nya mencari informasi sendiri, guru kita biasanya mengejek kita sebagai "sok tau". Dan tentu saja pada akhirnya kita akan mendapatkan nilai yang buruk, karena kita tidak mematuhi sistem. Meskipun tidak semua guru seperti itu, itu adalah potret sederhana pendidikan di Indonesia pada zaman sekarang.
Pada saat itu saya masih tidak mengerti,  apakah sistem ini benar-benar penting jika rasa keingintahuan kami untuk pengetahuan terisolasi? Saya rasa, ini adalah masalah utama pendidikan di Indonesia. Dimana sistem mengekang kemampuan siswa untuk berpikir secara luas dan kritis. Dampak lainnya adalah mahasiswa hanya berjuang bagaimana untuk mendapatkan nilai yang baik. Mereka tidak peduli tentang langkah-langkah, proses, dan cara-cara untuk menyelesaikan masalah dalam tugas.
Hal ini seperti kita di setting sebagai sebuah robot. Cukup ikuti sistem, mematuhi instruksi, dan segala sesuatu yang dilakukan. Hal itu yang patut kita sadari yaitu dampak jika kita selalu mengikuti sistem dan memasung rasa keingintahuan kita. Tapi hal tersebut tidak pernah diperbaiki. Tetapi, jika kita mencoba melakukan sesuatu yang baru, tentu saja sesuatu yang baru akan kita dapatkan. Meskipun, kita tidak tahu sesuatu yang baru itu berarti hal yang baik atau buruk, saya pikir itu tidak masalah. Karena, hal-hal yang menakjubkan memerlukan risiko.
Masalah utama kedua adalah dimana mimpi seseorang dikendalikan oleh mimpi sosial materialistik. Tentu saja kita biasanya melihat ketika seseorang ingin menjadi seorang seniman, musisi, penulis, ustadz, pengusaha, dll. Orang-orang selalu menyalahkan kita, mengapa kita memilih cita-cita dimana penghasilan tidak menentu. Mereka selalu menekan kita untuk memilih cita-cita dimana kita dapat mendapatkan penghasilan yang pasti. Seperti insinyur, pegawai negeri, manajer, akuntan, dll. Tapi visi kita tidak lah pada jalan itu. Karena tekanan sosial lah, yang pada akhirnya menjerumuskan kita pada mimpi-mimpi orang lain. Kita tidak bisa mengikuti apa yang menjadi visi dan semangat kita, dan hal itu lah yang menggiring kita ke lembah kepecundangan.
Untuk kesimpulan, saya pikir kita harus membuka mata kita dan bertanya pada hati kita, untuk apa kita sebenarnya menuntut ilmu. Jangan takut jika kita mendapatkan nilai yang buruk. Itu hanyalah seonggok angka yang tak mampu berbuat apa-apa. Mari kita percaya pada kemampuan yang kita miliki dan menunjukkan kepada dunia betapa berharga serta luar biasanya kita. Dan jangan lupakan apa yang menjadi tujuan hidupmu. Hidup bukan hanya berbicara tentang uang. Kebahagiaan yang kita peroleh dari apa yang kita cintai, jauh lebih berharga dari segunung materi.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar