Wakil Ketua KPK: Tidak Usah Bantu KPK, tapi Bantu Dahulu Diri Kalian Sendiri


Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), La Ode Muhammad Syarif, menyambangi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rabu (11/5). Kedatangan Wakil Ketua KPK ini untuk mengisi Seminar Nasional Anti Korupsi yang mengangkat judul “Gerakan Pemuda Menjadi Harapan Menuju Indonesia Bebas Korupsi di Tahun 2045”, diadakan di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Lantai 4 UMY. Seminar yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Hukum UMY ini juga menghadirkan Dekan Fakultas Hukum UMY, Trisno Raharjo, serta Presiden Mahasiswa UMY Periode 2014-2016, Zainuddin Arsyad, sebagai narasumber seminar.

Dalam sambutannya, Rektor UMY, Bambang Cipto, yang turut serta hadir pada siang hari itu, juga menyinggung tentang penyebab terjadinya korupsi, “Membedakan uang pribadi dan uang negara, kalau kita keliru cara membedakannya maka akan sulit terhindar dari korupsi.” Bambang juga memberikan saran kepada mahasiswa terkait kegiatan mendukung pemberantasan korupsi, “Lebih baik mengajarkan anti korupsi kepada generasi muda, daripada melakukan demo anti korupsi di jalanan.” Zainuddin Arsyad, yang menjadi pembicara pertama pada siang hari itu, menekankan 4 hal yang harus dimiliki oleh Anak Indonesia, yaitu ilmu tentang Indonesia, moral, seni kepemimpinan, dan berani. “Pemuda harus independen,” ujar Zainuddin ketika menegaskan peran pemuda dalam membantu terciptanya Indonesia anti korupsi. Trisno Raharjo, sebagai pembicara kedua memaparkan berbagai kasus korupsi yang terjadi di beberapa sektor utama di Indonesia, yaitu sektor pangan, pelabuhan, penambangan, migas dan energi. Trisno juga turut mengkritisi pemerintah yang sering berseteru satu sama lain, “Kalau maunya cakar-cakaran, cakar-cakaran tidak akan membuat sejahtera,” ujarnya.

Sebagai pembicara terakhir pada siang hari lalu, La Ode Muhammad Syarif menjelaskan masalah yang dialami bangsa ini serta peran yang bisa dilakukan mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam mencegah korupsi. “Masyarakat kita sakit, dan sayangnya 85% masyarakat kita adalah Islam,” ujar Syarif. Muhammad Syarif juga mencontohkan bagaimana kesakitan yang dialami masyarakat Indonesia, yaitu lewat adanya budaya menyontek di kalangan siswa, sebagai bukti Syarif menceritakan kisah seorang siswa di salah satu daerah yang tidak ingin memberikan jawaban kepada temannya ketika Ujian Nasional, berujung dikucilkannya siswa tersebut dari teman-temannya dan terpaksa harus pindah kampung, dan Syarif juga menegaskan kejadian semacam ini sering terjadi di belahan Indonesia yang lain. 

Dalam peran mahasiswa memberantas korupsi, Syarif menegaskan, “Tidak usah bantu KPK, tapi bantu dahulu diri kalian sendiri,” ujarnya. Membantu diri sendiri maksudnya adalah dengan menumbuhkan nilai moral dalam diri sendiri, “Omong kosong kita teriak-teriak di jalan berdemonstrasi, kalau kita masih menyontek di kelas, itu tandanya kita tidak punya moral virtue dalam diri kita,” jelas Syarif. Syarif juga memaparkan salah satu masalah dalam masyarakat Indonesia, yaitu adanya kepribadian ganda, di mana apa yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan, “Kita memiliki split personality, di sini merah di sana jingga,” kata Syarif. Di akhir pemaparan materinya, Syarif berkesimpulan peran mahasiswa dalam pemberantasan korupsi, adalah 80% memperbaiki diri sendiri, dan dapat dimulai dengan kerja keras dan tidak menyontek, dan 20% adalah ketika melihat kemungkaran (korupsi) segera laporkan. (MADA, RAN)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar