Refleksi Hari Pers Sedunia: UMY Harus Belajar kepada UGM tentang Melek Media

Mahasiswa UGM berdemonstrasi di "Pesta Rakyat"

Kemarin, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2016, mahasiswa Universitas Gadjah Mada UGM melakukan aksi demonstrasi besar-besaran yang ditumpahkan di halaman Balairung yang megah itu. Menurut Presiden Mahasiswa UGM, M. Ali Zainal Abidin, aksi kemarin merupakan puncak dari kegelisahan mereka mengenai berbagai masalah yang mengguncang UGM sejak tahun lalu. Masalah-masalah tersebut mengerucut dan kemarin mereka suarakan tiga hal, pertama tentang uang kuliah tunggal yang naik setiap tahun dan tidak merata berdasarkan penghasilan orang tua, kedua tentang penolakan mahasiswa terhadap relokasi kantin sosio-humaniora (Bonbin), dan ketiga tentang tidak dibayarkannya tunjangan kinerja karyawan-karyawan di UGM. 

Kebetulan, kemarin saya bersama rekan pers mahasiswa Nuansa lainnya meliput aksi demonstrasi yang diikuti oleh lebih dari 7000 mahasiswa dari semua jurusan di UGM itu. Rasa merinding tidak terelakkan ketika saya melihat lautan manusia memakai jaket “karung goni” membanjiri halaman rektorat. Mereka sangat kompak menyanyikan yel-yel yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari dan yel-yel itu mampu membuat saya, mahasiswa non-UGM, ikut bernyanyi terbawa dengan rasa kegelisahan mereka terhadap kampusnya. Bahkan, ketika ada demo di kampus saya pun, saya memilih untuk tidak mau ikut bergabung. Saya salut dengan kekompakan ribuan mahasiswa UGM ini. Mahasiswa UGM yang biasanya berorientasi akademika bahkan rela bolos kuliah hanya untuk ikut aksi ini. Betapa satu rasa satu cita mereka sudah kuat tertanam di sanubarinya masing-masing.

Lebih dari itu, saya juga salut dengan aktor penggerak aksi demonstrasi ini. Bagaimana tidak? Aksi kemarin serasa semuanya sudah diskenariokan dan tinggal dijalankan oleh aktor dan aktrisnya. Bayangkan, rektor UGM, Ibu Dwikorita, mau turun dari singgasananya sebanyak empat kali untuk menemui mahasiswanya. Kalau di kampusku, boro-boro rektor, massa aksi palingan sudah dihajar oleh petugas keamanan lebih dulu sebelum bertemu rektor – itu pun kalau rektor yang menemui, biasanya hanya wakil-wakil rektor yang menemui. Sekali lagi, saya salut kepada teman-teman mahasiswa UGM yang mampu membuat rektor untuk bertemu dengan massa aksi sampai empat kali.

Selain beberapa hal di atas, sesuatu yang paling saya kagumi dari aksi demonstrasi kemarin adalah media-media sangat dimudahkan untuk meliput aksi. Pertama, dari segi petugas keamanan. Satuan Keamanan dan Keselamatan Kampus atau SKKK UGM mampu dengan sangat ramah mempersilakan wartawan untuk dekat dengan rektor Dwikorita. Ketika Dwikorita turun dari ruangannya dari lantai dua ke lantai satu ingin menemui massa aksi, rekan saya bermaksud ingin mengambil foto detik-detik Dwikorita menemui massa aksi. Namun, ada seseorang yang ingin menghalau rekan saya itu supaya menjauh dari rektor, dengan segera SKKK UGM menegurnya dan bilang kalau rekan saya itu adalah wartawan. Semacam SKKK UGM ini telah mendapatkan pelatihan tentang bagaimana menghadapi wartawan ketika ada sebuah peristiwa. Jika ingin dibandingkan dengan kampus saya, tidak ada apa-apanya. Mereka bahkan mungkin tidak mengerti peran media sekarang ini macam apa. Kampus saya masih buta media. Ada yang melek, tapi itu pun hasil bayaran.

Kedua, dari segi karyawan dan pegawai di UGM. Mereka sangat kooperatif terhadap media. Mereka dengan sangat ramah melayani pertanyaan para awak media. Mereka tidak ada meminta surat terlebih dahulu, dengan hanya memperkenalkan diri saya dengan lancar menanyakan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan tuntutan mahasiswa yang berkaitan dengan tunjangan kinerjanya. Mereka menjawab apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi. Bahkan ketika saya bertanya, “Berapa nominal tunjangan kinerja yang belum dibayarkan oleh kampus?” dan beliau dengan lantang menjawabnya. Mereka sangat terbuka dengan media. Hal ini menunjukkan bahwa literasi media mereka sudah sangat apik. Berbeda dengan pegawai dan karyawan di kampus saya. Mereka masih saja mengandalkan proses administratif semacam persuratan ketika kami, pers mahasiswa kampusnya ingin meminta informasi tentang suatu hal. Tidak jarang bahkan mereka menutup diri ketika ingin diwawancarai.

Dalam rangka Hari Pers Sedunia hari ini, saya ingin sekali mengajak kampus saya, belajarlah dengan UGM untuk kemelek-mediaan yang mereka punyai. Belajarlah bagaimana ramah terhadap awak media yang non-bayaran seperti kami ini. Selama ini kami memang dilayani dengan ramah, namun informasi-informasi yang harusnya terbuka tetapi tidak dibuka untuk publik. Soal urusan kemudahan juga kami merasa sangat dipersulit. Harus membuat surat dulu sebelum wawancara dan itu tidak bisa langsung wawancara. Harus menunggu dulu beberapa hari baru dikonfirmasi. Pernah surat permohonan wawancara kami ditolak beberapa kali karena mereka menganggap kasus yang ingin kami gali informasinya sudah selesai dan tidak ada yang perlu dibahas lagi. Padahal kami juga memiliki kartu tanda pers yang dibuat berdasarkan SK Rektor. Apa masih kurang untuk menunjukkan bahwa kami ini legal di kampus dan harus membuat surat terlebih dahulu? Belajarlah dari UGM bagaimana mereka mendidik pegawai dan karyawannya untuk melek media. Semoga ke depannya, UMY tidak lagi apatis terhadap kehadiran media mahasiswa yang berjuang untuk kepentingan mahasiswa. Selamat Hari Pers Sedunia 3 Mei 2016. SALAM PERSMA! (SAW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar