Selamat Datang Pak Presiden di Kampusku!

Sumber gambar: akun Twiter @lppmnuansa
Selamat datang pak Presiden di Universitas Pinggir Ringroad! Pak Presiden lagi ada urusan apa ya di kampus tua mengakhirat kami kemarin? Acara Konvensi-Nasional-Apalah itu ya? Pantas kampusku lagi ribut-ribut, terutama untuk para staf dan mahasiswa yang menjadi panitia Konvensi-Nasional-Apalah. 

Saking dipersiapkannya, “yang tidak berkepentingan” harus disterilkan dari area kampus. Dari hari Minggu pukul 16.00 gedung Student Center kami sudah harus disterilkan dari kegiatan. Kami “yang tidak berkepentingan” juga tidak bisa sembarang masuk di area kampus di hari Senin 23 Mei 2016, hari kedatangan pak Presiden. Padahal “yang tidak berkepentingan” itu sebenarnya lebih berkepentingan di area kampus loh pak, terutama saya yang hanya seorang mahasiswa ini. Sekretariat UKM kami ada di area kampus, perpustakaan terdekat ada di kampus, internet yang cepat ada di kampus. Saya paling senang mengerjakan tugas di kampus, apalagi kalau mau akses jurnal yang sangat membantu tugas kuliah atau diskusi materi kuliah dengan teman, enaknya di area kampus.

Sebenarnya bukan pak Presiden sih yang paling-paling ditunggu untuk datang di kampus tua mengakhirat. Zakir Naik, sang televangelist yang sebenarnya dinantikan, bahkan dari bulan April kemarin dan sempat ada kabar hoaxnya. Tetapi bukan Zakir Naik yang datang malah pak Presiden. Menurut rekan saya yang jadi Liason Officer di acara Konvensi-Nasional-Apalah, surat ke pak Presiden tidak disangka-sangka cepat direspons, sedangkan surat ke Zakir Naik mungkin terselip di antara ribuan surat yang datang ke sang televangelist. Tapi sudah ah bicara tentang kampus tua mengakhirat, nanti dianggap menggeruduk lagi. Ogah UKM saya dapat nasib dengan UKM di kampus sebelah. Lebih baik bicara tentang pak Presiden saja ah.

Sebagai info, saya pendukung pak Presiden loh Pilpres 2014 kemarin. Walaupun saya tidak aktif ikut debat masalah capres-cawapres, di media sosial pada waktu itu saya tidak cuit-cuit mengenai politik, saya cuma mengikuti berita itu pun tidak terlalu sering. Tapi pas hari pencoblosan saya memilih pak Presiden dibanding calon presiden penunggang kuda. Pada waktu itu saya masih punya harapan kalau pak Presiden yang saya pilih ini orang yang sedikit lebih baik dibandingkan politisi-politisi lainnya. Sekarang sudah hampir dua tahun bapak jadi Presiden, dan sekarang ekspektasi saya mengenai pak Presiden sudah jatuh, kalau saya mau jujur.

Mari kita berbicara tentang Papua, karena pak Presiden katanya ingin membangun Papua dan menjadikan Papua sebagai tanah damai. Niatnya baik, saya harus mengakui tapi dalam proses pemerintahan bapak dan bawahan-bawahan bapak agak tak menentu mengenai Papua. Pak presiden kabarnya mencanangkan Papua tepatnya di Merauke menjadi lumbung padi. Sepertinya pak Presiden mau mengikuti jejak presiden-piye-kabare untuk mendapat pujian dari FAO akan swasembada beras. Menurut guru besar IPB Dwi Andreas Santosa program serupa yakni menjadikan Merauke “food estate” telah ada sebelumnya, dan gagal untuk mencapai target. Belum lagi dengan mencanangkan padi di kawasan timur Indonesia yang makanan pokoknya belum tentu beras, seakan-seakan memaksa orang Indonesia untuk memakan lebih banyak nasi. 

Mei tahun lalu pak Presiden kabarnya sudah memberikan grasi ke lima tahanan politik Papua. Tapi Mei tahun ini tepatnya 2 Mei 2016 tapol Papua sepertinya bertambah, sebanyak 1692 aktivis ditangkap kepolisian di beberapa titik di Papua. Okelah kalau kita berargumen bahwa aktivis yang ditangkap itu memiliki tendensi separatis, karena yang ditarget adalah organisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Pemerintah sepertinya lebih senang langsung menangkap aktivis separatis daripada berdialog dengan mereka terlebih dahulu.

Dan juga pak Presiden menjanjikan kalau Papua seharusnya sudah bebas dimasuki jurnalis asing sejak Mei 2015. Tapi praktiknya beda lagi. Wartawan Perancis Cyril Payen dilarang untuk masuk Papua dengan penolakan visa Cyril pada Januari 2016. Walaupun Cyril cuma satu orang jurnalis, tetapi tentunya insiden ini membuat kita bertanya-tanya mengenai janji pak Presiden untuk membuka Papua. Apa sih yang Indonesia harus sembunyikan di Papua dari dunia luar? OPM? Seluruh dunia sudah tahu OPM itu siapa. Penangkapan aktivis? Freeport? Cuma orang Indonesia yang peduli Freeport dan seakan-akan cuma Freeport yang dipedulikan orang Indonesia. Saran saya pak Presiden, lebih baik kita jujur saja mengenai Papua. Lebih baik kita berdialog secara sipil, betul-betul secara sipil tanpa militer gatal untuk nimbrung, dan sama-sama membangun Indonesia, termasuk Papua.

Dibanding calon presiden penunggang kuda, saya punya anggapan awal di bawah pak Presiden Indonesia akan lebih terbuka akan kebebasan berekspresi. Toh, pak Presiden awalnya juga media darling bahkan sejak pak Presiden hanyalah pak Walikota. Tapi setahun terakhir ini sudah ada 46 kasus pelanggaran kebebasan pers menurut SAFENet. Alasannya macam-macam, tetapi yang paling sering adalah tuduhan komunisme, salah satu bentuk paranoia kekirian yang sepertinya dipelihara Indonesia. Mungkin hal seperti ini patut dianggap remeh oleh pak Presiden, toh mungkin pak Presiden bisa berkelit kalau masalah ini terlalu spesifik untuk menjadi perhatian pak Presiden. Tapi saya mau mengingatkan kalau pak Presiden terpilih secara demokratis, dan demokrasi harus dibangun atas kebebasan berekspresi. Kalau tren pelanggaran kebebasan berekspresi terus terjadi, berarti demokrasi melemah. Dan pak Presiden yang terpilih secara demokratis legitimasinya patut dipertanyakan dong. 

Di periode pak Presiden, sepertinya Indonesia mulai mau membuka kembali sejarah 1965-1966. Simposium Nasional 65 sudah selesai dilaksanakan 18-19 April 2016 lalu, di mana baru pertama kalinya Indonesia mengadakan dialog yang lebih terbuka mengenai peristiwa 1965-1966, termasuk mengundang para korban kejadian 1965-1966 untuk berbicara. Tapi sejujurnya, saya belum sepenuhnya yakin kalau pak Presiden dapat menjadi presiden yang betul-betul jujur tentang masalah 1965-1966. Pak Presiden menegaskan kalau negara tidak akan minta maaf akan kejadian 1965-1966, pernyataan yang pak Presiden keluarkan setelah menjadi inspektur upacara. Salah satu menteri pak Presiden menolak kalau ada pengusutan lebih dalam mengenai kejadian 1965-1966 melalui pembongkaran kuburan massal, menuai konflik katanya. Sebenarnya sudah ada forum selain Simposium Nasional 65 yang membicarakan kejadian 1965-1966, yakni Internasional People’s Tribunal 1965, tapi pemerintah, termasuk pak Presiden cuek dengan IPT 1965.

Di dalam Konvensi-Nasional-Apalah pak Presiden menyoroti masalah ekonomi bangsa dan kaitannya dengan perekonomian dunia terutama ASEAN. Menurut pak Presiden, kita tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya, sehingga salah satu resep yang pak Presiden berikan adalah deregulasi, besar-besaran bahkan. Dari situ jelaslah bahwa pak Presiden telah mendengar teknokrat-teknokrat ekonomi untuk meningkatkan kemampuan usaha Indonesia. Tapi apakah pak Presiden mendengarkan ketika sembilan wanita dari Kendeng, Pati, Jawa Tengah memasung kaki mereka dengan semen di depan istana pak Presiden? Yang saya tahu pak Presiden mengirimkan utusan yang akhirnya membuat mereka rela melepaskan cor di kaki mereka. Sembilan petani tadi hanya ingin hak atas tanah mereka dan lingkungan mereka dipertahankan sehingga tak harus beralih profesi dari bertani, yang darinya mereka telah merasa berkecukupan. Ingat ya pak, bukannya perkembangan ekonomi harus ditahan, tetapi perkembangan ekonomi jangan tidak mengacuhkan hak-hak rakyat dan kelestarian lingkungan, hal yang sudah terlalu sering terjadi, termasuk di Indonesia.

Sebenarnya masih banyak yang saya ingin utarakan mengenai ekspektasi saya terhadap pak Presiden yang sudah jatuh. Misalnya tentang komposisi menteri-menteri bapak yang tidak sepenuhnya teknokratis, tentang kartu-kartu sakti pak Presiden yang belum terdengar gaungnya lagi, tentang oposisi pak Presiden di pemerintahan yang semakin impoten, dan lain sebagainya. Tapi saya sudahi dulu sampai di sini, toh belum tentu pak Presiden yang baca mungkin cuma utusannya pak Presiden. Aku mah apa atuh, cuma seorang mahasiswa bukan pengusaha besar atau tokoh politik atau anggota militer. (Qil)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar