Pleno 1 KNIB: Jangan Sampai Kemajuan Menghilangkan Identitas Diri Bangsa



Senin (23/5) bertempat di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berlangsung Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) Jalan Perubahan Membangun Daya Saing Bangsa. Konvensi ini dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, menteri-menteri, pejabat pegara, pejabat daerah, tokoh politik, agama, seniman serta masyarakat. 

Rangkaian puncak acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) Diawali Seminar Pleno 1 : Membangun Daya Saing Bangsa yang bertempat di lantai dasar masjid KH Ahmad Dahlan. Dengan pembicara Zulkifli Hasan, Taufik Abdullah, A. Malik Fadjar, Boediono, Prof. M. Din Syamsudin, serta dimoderatori oleh Hajriyanto Y. Tohari. Adapun dalam seminar ini pembicara diberi kesempatan menyampaikan materi selama seminar Pleno 1: Membangun Daya Saing Bangsa. 

Boediono datang dengan membawa tema Gagasan Negara Kesejahteraan Indonesia dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam seminar Pleno 1 : Membangun Daya Saing Bangsa, Boediono lebih banyak menyinggung peran negara dalam menyejahterakan warganya. “Konsep negara kesejahteraan adalah isu strategis dan tak asing bagi Indonesia. Negara Kesejahteraan merupakan tujuan akhir negara yang dibangun melalui aspek kehidupan oleh karena itu negara harus bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas hidup Masyarakatnya.”

Adapun Taufik Abdullah yang merupakan salah satu ahli sejarah di Indonesia ini lebih banyak bercerita mengenai Membaca Kembali Pikiran-pikiran Dasar Founding Father NKRI, bagaimana peran pendiri bangsa dulu dalam mendirikan bangsa hingga keadaan zaman sekarang. “Jangan sampai kemajuan menghilangkan identitas diri bangsa” tuturnya. Di sesi selanjutnya disambung oleh A. Malik Fadjar yang merupakan anggota Dewan Kebijakan Presiden ini mengatakan “Salah satu tugas pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dan Muhammadiyah hadir sebagai ujung tombak gerakan dakwah dan pendidikan dalam kegiatan mencerdaskan kehidupan bangsa.” Akan tetapi realitas di Indonesia cukup memprihatinkan, menurut survei dari Central Connecticut State University, mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 dalam hal literasi dunia. ”Saya pikir ini merupakan sebuah momentum, konvensi ini sangat tepat sebagai gerakan membaca, gerakan kebangkitan Muhammadiyah dalam literasi,” tambahnya.

Indonesia berkemajuan harus menitikberatkan dalam daya saing dalam segala bidang oleh karena itu Indonesia berkemajuan mutlak perlu menuntut budaya berkemajuan dan kolaboratif lintas agama, suku dan gender. Seperti yang disampaikan oleh M. Din Syamsudin, “ Konvensi ini sangat penting, karena Indonesia mendukung visi Indonesia berkemajuan, yaitu Indonesia yang maju, adil, berdaulat dan bermartabat.” Dalam sesi ini M. Din Syamsudin juga menyampaikan sebuah gerakan yaitu: Budaya Maju, Dasa Cita Budaya Maju di antaranya Indonesia harus maju dari kebiasaan mementingkan diri sendiri dan kelompok, dari Tirani, sifat-sifat primordialisme, nepotisme, hedonisme, mencela belaka, kekerasan, ketergantungan kepada bangsa lain, dan Indonesia harus maju dari kecintaan dunia fana sehingga dapat bersaing dengan negara lain.

Seminar Pleno 1: Membangun Daya Saing Bangsa ini diakhiri oleh Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan. Dalam hal ini Zulkifli Hasan menyampaikan “Konvensi ini penting untuk membahas haluan negara seperti apa yang kita butuhkan, ingat dulu Indonesia merdeka peran-peran tokoh Muhammadiyah sangat luar biasa, Ki Bagus Hadikusumo, Kahar Muzakir dan lainnya.”

Karena keterbatasan waktu Seminar Pleno 1: Membangun Daya Saing Bangsa cuma bisa berlangsung dari 09.00 sampai 11.00 yang diakhiri dengan pemberian cendera mata kepada pemateri dan moderator oleh ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. (AWN & SAW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar