PEMIRA 2016: Saatnya Kita Semua Berbenah!

Aksi mahasiswa di universitas ternama Yogyakarta

Ada hal menarik dari peristiwa aksi demonstrasi ribuan mahasiswa di salah satu universitas ternama di Yogyakarta pada 2 Mei 2016 lalu. Dalam aksi mahasiswa itu, salah satu tuntutannya adalah menolak relokasi kantin yang terletak di dekat salah satu fakultas di universitas ternama itu. Menurut teman saya yang berkuliah di sana, kantin itu nantinya akan dibangun supermarket mewah untuk mendukung visi universitas itu sebagai world class university. Namun, ada juga yang bilang kantin itu nantinya akan dibangun taman dan kafe. Intinya, bekas bangunan kantin itu nanti akan berubah menjadi bangunan modern yang mengikuti zaman. Saya dapat cerita juga bahwa alasan universitas ternama itu menutup kantin karena makanan, minuman, dan aspek kebersihannya sangat rendah kualitasnya. Bahkan kemarin ketika aksi, sang rektor mengatakan bahwa ditutupnya kantin itu karena banyak alumni salah satu fakultas terkena kolesterol tinggi karena sering makan di sana.

Ditutupnya kantin ini, masih menurut sang rektor dalam dialog bersama ribuan mahasiswa universitas ternama itu, karena telah habis masa kontraknya. Para pedagang di kantin tersebut telah jatuh tempo pada bulan Juli 2015 lalu. Kemudian, kampus memberikan Surat Peringatan pertama kepada para pedagang. Setelah beberapa lama tidak ditanggapi, para pedagang kembali mendapat Surat Peringatan kedua, yang mana isinya adalah jika para pedagang tidak juga menandatangani surat persetujuan relokasi, maka mereka dianggap mengundurkan diri dari kantin itu.

Pihak kampus tidak pernah melakukan audiensi dengan pihak pedagang atas kebijakannya itu. Berangkat dari hal inilah, para mahasiswa universitas ternama itu emosinya memuncak, selain ditambah ada masalah mengenai uang kuliah tunggal dan tunjangan kinerja tenaga kependidikannya yang tidak dibayarkan selama 18 bulan, terhitung mulai Juli 2014 sampai Desember 2015. Aksi ini sangat dikawal oleh teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam lembaga mahasiswa tertinggi di universitas itu. Mereka setiap saat mengabarkan bagaimana proses advokasi kantin yang sedang berlangsung hingga kemarin melakukan aksi besar-besaran.

Permasalahan kantin di universitas ternama ini sangat mirip dengan yang dialami oleh universitas pinggir ringroad akhir tahun 2015. Polemik penggusuran kantin di universitas pinggir ringroad telah terjadi sejak bulan Juni 2015. Saat itu para pedagang dikumpulkan oleh pihak kampus untuk diberitahu bahwa dalam waktu tiga hari, mereka harus mengosongkan kantin (baca http://www.lppmnuansa.org/2015/06/gunawan-budianto-tidak-ada-penggusuran.html). Penggusuran kantin itu dilakukan dalam rangka pembangunan twin building yang katanya akan diperuntukkan untuk Fakultas Pendidikan Bahasa dan juga kantin yang lebih modern. Pejabat kampus universitas pinggir ringroad juga beralasan bahwa kantin itu tidak merepresentasikan visi mereka yang bertebaran di berbagai baliho yang bisa dilihat di jalan-jalan utama Yogyakarta, karena masih banyak pedagang yang menjual rokok dan berpakaian tapi tanpa berkerudung. Selain itu, Pejabat kampus ini juga menganggap bahwa makanan yang dijual di kantin itu tidak sehat, tidak higienis, dan banyak menyebabkan mahasiswa terkena sakit diare dan penyakit pencernaan lainnya.

Terlepas dari itu, sebenarnya kontrak para pedagang di sana telah habis pada bulan Juni 2015. Namun, setelah berbagai perundingan, pihak kampus akhirnya menunda penggusuran kantin menjadi November 2015. Penundaan ini dikarenakan adanya desakan dari pedagang untuk menunggu sampai mahasiswa baru datang baru mereka digusur. Salah satu tujuan digusurnya kantin itu adalah untuk menaikkan citra universitas pinggir ringroad sebagai universitas kelas dunia yang telah mendapatkan bintang lima akreditasi internasional dari QS Stars. Tidak berbeda jauh dengan kasus di universitas ternama.

Namun, apa perbedaannya antara kedua masalah tersebut? Perbedaannya terletak pada mahasiswanya yang mengawal isu tersebut. Di universitas ternama kemarin, ketua lembaga mahasiswa tertingginya, dengan lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa terkait penolakan relokasi kantin kepada rektorat. Dengan bercucur keringat ia melakukan negosiasi langsung dengan rektor untuk permasalahan yang menyangkut perut orang banyak. Dari hasil wawancara saya bersama beliau, terlihat sekali ia sangat memperjuangkan suara mahasiswanya sendiri. “Kami telah berkali-kali melakukan audiensi dengan kampus dan dengan pihak dekan. Namun, tidak ada hasilnya sampai sekarang. Jadi, kami memutuskan untuk melakukan aksi besar-besaran hari ini,” katanya di tengah aksi.

Selain dia, ribuan mahasiswa lain juga tergerak hatinya untuk melakukan advokasi terhadap kantin tersebut. Karena mereka sadar bahwa hal itu berkaitan langsung dengan perut mereka. Walaupun banyak mahasiswa universitas ternama yang berkecukupan, nyatanya mereka rela panas-panasan ikut berjuang bersama untuk menolak relokasi kantin itu. “Saya di sini karena saya turut serta merasakan bagaimana perasaan para pedagang yang sudah lama berjualan di sana namun tiba-tiba harus pergi,” kata salah satu mahasiswa yang saya temui ketika aksi. Ia melanjutkan, walaupun ia tidak merasakan langsung dampak dari penutupan kantin itu, namun ia merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya. Mahasiswa di sana tidak apatis terhadap permasalahan kampusnya. Mereka satu rasa satu cita untuk mewujudkan universitas mereka supaya tetap satu.

Berbeda universitas ternama, berbeda pula dengan universitas pinggir ringroad. Isunya sama, namun advokasi mahasiswa terhadap isu sangat lemah jika dibandingkan dengan universitas ternama. Pertama mulai dari ketua lembaga mahasiswa tertingginya. Walaupun nama mereka ada kemiripan, tapi perlakuannya sangat berbeda. Di sini saya tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan salah satu pribadi. Hanya ingin membandingkan saja bagaimana upaya keduanya dalam mengadvokasi kasus yang sama. Ketua lembaga mahasiswa tertinggi di universitas pinggir ringroad telah melakukan banyak audiensi ke rektorat, katanya. Namun, ketika aksi yang digalang oleh salah satu aliansi mahasiswa digelar di depan rektorat, ia bahkan tidak berada di barisan aliansi tersebut. Dalam aksi yang vokal menyuarakan aspirasi adalah perwakilan dari aliansi mahasiswa tersebut. Memang ada lembaga perwakilan mahasiswa yang vokal dalam aksi, namun itupun hanya satu dua orang.

Kalau ingin dilihat lebih dalam pun, lembaga tertinggi mahasiswa yang merupakan representasi dari seluruh mahasiswa semacam tidak ada taring untuk melawan dan menyuarakan aspirasi mahasiswanya kepada rektorat. Seharusnya mereka bersinergi dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa  universitas pinggir ringroad. Intinya, lembaga mahasiswa tertinggi di universitas ternama itu beserta ketuanya lebih sadar bahwa mereka dipilih oleh mahasiswa dan mereka harus bekerja dan memperjuangkan suara mahasiswa di kampusnya sendiri, bukan malah membuat lembaganya hanya semacam event organiser saja. Baiklah, jika tujuannya ingin memperkenalkan universitas pinggir ringroad kepada universitas lain di seluruh Indonesia. Namun, ketika permasalahan di dalam kampus sendiri belum maksimal diperjuangkan, bagaimana pertanggungjawabannya nanti?

Dari segi mahasiswa, mahasiswa universitas pinggir ringroad saya pikir terlalu acuh dengan keadaan di sekitarnya. Mereka bahkan acuh terhadap suatu masalah yang sebenarnya menyangkut kepentingan mereka sendiri. Saya tidak akan mengatakan bahwa inilah perbedaan antara mahasiswa di sana dan di sini, namun itulah yang terjadi. Asal mereka bayar kuliah tepat waktu, masuk kuliah terus tanpa bolos, ujian datang, dan dapat nilai A, ya sudah hanya itu saja. Tidak ada pemikiran, “Saya adalah mahasiswa pinggir ringroad, jadi saya harus ikut mengubah sesuatu yang salah di kampus ini.” Untungnya ada beberapa mahasiswa yang saya kenal ikut vokal menyuarakan berbagai permasalahan kampus. Namun, jika hanya beberapa orang saja, tidak akan berefek besar.

Menyambut Pemilihan Raya Mahasiswa yang akan digelar akhir Mei 2016 nanti, saya dan mungkin seluruh mahasiswa universitas mantenan ya, eh maksudnya universitas pinggir ringroad lainnya, berharap kepada ketua lembaga mahasiswa tertinggi dan jajarannya yang terpilih nanti untuk bisa bekerja penuh dalam rangka memperjuangkan suara mahasiswa di kampusnya sendiri. Kawal semua isu yang memberatkan mahasiswa, macam SPP yang terus naik setiap tahun, permasalahan parkir yang sudah sangat mengganggu sekali, sampai kepada tata kelola dan manajemen dana kemahasiswaan yang seringkali mampet entah ke mana. Begitu banyak permasalahan di universitas pinggir ringroad yang bisa diselesaikan jika ada niat dan keinginan yang kuat. Jangan jadikan lembaga mahasiswa tertinggi itu hanya sebagai tempat untuk belajar mengorganisir sebuah seminar. Untuk seluruh mahasiswa universitas pinggir ringroad termasuk saya sendiri, mari kawal PEMIRA 2016 supaya tidak ada orang-orang jahanam di dalamnya yang nanti akan melahirkan pemimpin yang tidak bijak dan tidak bekerja penuh untuk mahasiswanya sendiri! (SAW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar