Peluncuran Bulakomik Edisi #13 : Masih Adakah Ruang Publik Mahasiswa?



Bulakomik merupakan salah satu produk dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur Universitas Gadjah Mada (UGM). Di mana SKM tersebut telah menyelenggarakan acara peluncuran Bulakomik edisi #13 pada 20 Mei 2016, dengan tema “ Ruang Publik”. Peluncuran komik dilaksanakan di ruangan terbuka yaitu di Amfiteater, tepatnya di belakang Perpustakaan Pusat UGM. Acara dimulai dengan sambutan Candra Kirana M. selaku Pimpinan Umum SKM Bulaksumur. Dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, Elvan Arydoni Budi.

“ Peluncuran produk kita di tempat yang terbuka, katakanlah ini sebagai publik space juga. Kita ingin mengangkat publik space yang ada di kampus kita terlebih dahulu untuk dikenal oleh mahasiswanya sendiri dan kalangan umum,” sambut Elvan.

Diskusi diambil alih oleh Vikra Alizanovic, selaku moderator acara. Di mana ia memaparkan terkait tentang kenapa mempermasalahkan keberadaan ruang publik di kampus biru sebelum diskusi dimulai. Ia mengatakan bahwa beberapa minggu ini UGM lagi seru-serunya antara mahasiswa dan rektorat yang kemarin sempat ada Pesta Rakyat. Mahasiswa menuntut tiga poin, salah satunya membahas mengenai relokasi kantin humaniora yang sudah berdiri lama, terletak di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Psikologi. Di mana kantin tersebut merupakan salah satu ruang publik mahasiswa, yang dijadikan sebagai ruang dialektika, ruang kreatif mahasiswa untuk berkembang, dan mengembangkan aktualisasi diri mahasiswa. Tetapi para petinggi UGM memutuskan untuk memindahkan kantin tersebut ke luar UGM dan memindahkannya ke Pusat Jajanan Lembah (Pujale). Artinya keputusan ini akan mengurangi keberadaan ruang publik di UGM.

Pentingnya Publik Space Mahasiswa ?

Ruang publik sangatlah penting, terutama bagi mahasiswa. Di mana ruangan tersebut dapat menciptakan kebersamaan. Sebagaimana telah dipaparkan oleh Principal Architect A+A Studio, Ardhyasa Fabrian Gusma, selaku pembicara peluncuran Bulkom, bahwa ruang publik juga memiliki fungsi-fungsi yaitu: Pertama, ruangan yang memiliki makna yang di dalamnya mengandung kenangan. Kedua, bersifat responsif, dapat merespon civitas kegiatan. Ketiga, bersifat demokratis, dapat diakses oleh siapa saja. Tetapi, keberadaan ruang publik mahasiswa hanya seperdelapan.

Derajad Widhyharto, selaku dosen sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM juga mengatakan bahwa ruangan publik merupakan sesuatu yang sangat penting, salah satunya sebagai transfer informasi. Tetapi ruangan publik tersebut sering kali hanya mementingkan estetika saja.

“Ide-ide dan gagasan hanya untuk manusia saja, yang terpenting adalah estetika. Dan hal itulah yang menjadi kritik terhadap ruang publik tidak hanya mementingkan keindahan saja,” tegas Derajad.

“Ruang publik harus diperjuangkan. Untuk itu Anda harus terlibat di dalam perjuangan itu, untuk menciptakan ruang publik. Ketika Anda terlibat, Anda bagian dari masalah itu, Anda terlibat menyelesaikan. Di situlah esensinya, dan di situlah Anda setuju dengan adanya ruang publik.”

Sebagai Informasi, di edisi ke-13 ini Bulkom mengangkat tema ruang publik. Di mana Bulkom ini sendiri memiliki tokoh maskot yang memiliki dua karakter yang berbeda, yaitu Gaboel dan Sithok. Karakter Gaboel merupakan anak eksak, yang sukanya belajar. Sithok merupakan anak kuliah yang memiliki hobi main GTA, yang jauh dari kata belajar, dan memiliki karakter yang nyeleneh ala anak Fisipol. Di Bulakomik edisi ini mengulik tentang realitas-realitas yang ada ditafsirkan sedemikian rupa, dengan beragam kritik terhadap keberadaan, ketiadaan, maupun kekurangan ruang publik di UGM. (ras)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar