Menolak Pemberangusan Buku: Maklumat Buku dari Jogja



Merespons maraknya aksi teror terhadap para penggiat buku di berbagai kota di Indonesia, termasuk di kota Yogyakarta, Masyarakat Literasi Yogyakarta mengeluarkan Maklumat Buku dari Jogja yang dibacakan di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Yogyakarta. Aksi pembacaan Maklumat Buku yang dihadiri oleh puluhan aktivis, wartawan, dan mahasiswa, diadakan pada Selasa pagi (17/5). Maklumat Buku dikeluarkan dengan tujuan untuk memberi tahu publik bahwa pegiat literasi di Yogyakarta tidak diam terhadap upaya pemberangusan buku.

Faiz Ahsoul, perwakilan dari Masyarakat Literasi Yogyakarta mengatakan dalam pembukaan pembacaan Maklumat Buku, bahwa “Buku sebagai ibu peradaban yang menjaga demokrasi.” Jika terjadi pemberangusan terhadap buku, maka demokrasi telah tercoreng. Faiz juga mengatakan bahwa pegiat literasi tidak diam dan harus merespons atas upaya pemberangusan buku, maka dikeluarkanlah Maklumat Buku dari Jogja. Di Yogyakarta sendiri belum terjadia razia buku-buku, tetapi telah ada penerbit dan toko buku yang diteror oleh aparat.

“LBH melihat teman-teman secara konstitusi mempunyai hak secara hukum,” ungkap Hamzal Wayudin Direktur LBH Kota Yogyakarta dalam sambutannya. Didin, sapaan akrab dari Hamzal Wayudin, mengatakan bahwa pegiat literasi dilindungi secara hukum dari tindakan ingin memberangus buku. LBH sendiri, menurut Didin, berkomitmen untuk mendampingi pegiat literasi dan menyediakan tempat perlindungan, termasuk memfasilitasi Maklumat Buku dari Jogja hari ini.

Di dalam rilis pers Masyarakat Literasi Yogyakarta, Adhe Ma’ruf dari Masyarakat Literasi Yogyakarta menyebutkan bahwa aksi teror telah menimpa setidaknya dua penerbit dan satu toko buku. Mereka adalah penerbit Narasi dan penerbit Resist Book, sedangkan toko buku yang diteror ialah Toko Buku Budi yang bertempat di Caturtunggal. Dua penerbit dan satu toko buku tersebut diteror oleh aparat dari kepolisian dan tentara yang bertanya-tanya mengenai buku-buku kiri yang diterbitkan atau dijual. Adhe Ma’ruf menyatakan bahwa teror terhadap buku merupakan upaya pembungkaman akan pandangan yang berbeda merupakan bentuk penyeragaman secara paksa yang bertentang dengan konstitusi dan asas-asas demokrasi.

Yogyakarta sendiri merupakan kota yang penting bagi perbukuan Indonesia. “40 persen buku berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya,” tutur Garin Nugroho. Yogya merupakan kota inspirasi, dan sejak pasca 1998 Yogyakarta telah menelurkan figur-figur politik yang belajar di Yogyakarta dan belajar dari komunitas literasi di Yogyakarta. Dalam sejarah perbukuan Indonesia pun, Yogyakarta sangat penting, sebagai kota pertama yang ditempati Perpustakaan Nasional pertama di tahun 1922, dan pada tahun yang sama Kanisius Press salah satu penerbit awal di Indonesia dibuka.

Pembacaan Maklumat Buku dari Jogja dibacakan oleh Muhidin M. Dahlan. Di dalam Maklumat ditekankan pentingnya buku bagi Indonesia dan mengecam upaya pemberangusan buku. Maklumat Buku dari Yogyakarta disusun oleh MLY yang terdiri dari 128 akademisi, aktivis, organisasi, komunitas, serta lembaga pegiat literasi di Yogyakarta. Setelah pembacaan Maklumat, MLY akan terus mengadakan aksi, dengan merencanakan kegiatan dan aksi lainnya yang diperuntukkan untuk masyarakat untuk memperkenalkan dan membumikan tujuh maklumat. (qil)


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar