Menghadapi Momok Akan “Kiri”



“Kiri” tidak memiliki konotasi yang bagus bagi rata-rata orang Indonesia. Ketika kita makan, kita tidak dianjurkan untuk menggunakan tangan kiri. Ketika kita buang air, kita dianjurkan untuk menggunakan tangan kiri. Apa saja yang baik, akan mendahulukan kanan, dan apa saja yang buruk akan mendahulukan kiri. Mulai dari makan, kebersihan, dan lain-lain sebagainya. Tidak hanya berhenti di situ saja, di ranah ideologi kiri juga tidak dianjurkan.

Hal yang konyol baru saja terjadi di Indonesia. Seorang aktivis literasi bernama Adlun Fiqri beserta rekannya diciduk oleh petugas Markas Kodim Ternate dua hari lalu. Alasannya? Adlun Fiqri dicurigai menyebarkan paham kekirian yakni komunisme melalui media sosial. Dari berbagai pos media sosial Adlun Fiqri, yang mungkin “memicu” ialah foto Adlun Fiqri memakai kaos berwarna merah dengan ilustrasi palu arit yang tercelup di secangkir kopi dengan tulisan “PKI Pencinta Kopi Indonesia.” Dalam proses pencidukan barang-barang kepemilikan Adlun Fiqri “diamankan” karena dianggap mengandung paham komunis.

Selain Adlun Fiqri hampir tidak terhitung aksi reaksioner yang paranoid terhadap apa saja yang terkesan kekirian. ASEAN Literary Festival sempat dicegat karena dianggap menyebarkan ajaran LGBT, komunisme, dan mendorong disintegrasi Papua. Untungnya, ASEAN Literary Fest tetap dapat dilaksanakan, walau dengan pengamanan khusus. Sewaktu AJI Yogyakarta ingin mengadakan tonton bareng “Pulau Buru Tanah Air Beta”, acara terpaksa dibatalkan oleh kepolisian dan militer. Hal yang patut diingat: acara dibubarkan bertepatan dengan Hari Pers Sedunia, nama anggota kepolisian yang mengotot membubarkan acara AJI adalah Sigit Haryadi, dan Sultan Yogyakarta malah membela pembubaran acara AJI.

Pada 23 Maret lalu, pentas monolog Tan Malaka “Saya Rusa Berbulu Merah” sempat dicegat oleh sebuah ormas di Bandung. Pentas monolog tetap dapat dilaksanakan, tapi dengan pengawalan ketat aparat keamanan pada 24 Maret. Tan Malaka yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1963, memang memiliki pemikiran kekirian. Pemikiran kiri beliau tidak sepaham dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), bahkan berseteru dengan PKI. Walaupun demikian, rezim Orde Baru tetap melakukan stigmatisasi terhadap Tan Malaka, hanya karena beliau pemikir kiri. Efeknya ialah, belum tentu setiap orang Indonesia tahu siapa Tan Malaka, atau bahwa Tan Malaka adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Pencidukan Adlun Fiqri hanyalah puncak dari gunung es. 27 Februari lalu acara bertajuk BelokKiri.Fest dicegat, dari rencana sebelumnya untuk membuka dan melaksanakan kegiatannya di Taman Ismail Marzuki, terpaksa harus berpindah tempat ke gedung YLBHI. Ketika film Jagal dan Senyap mulai beredar dan orang-orang menggelar tonton bareng, selalu ada usaha untuk menghentikannya, termasuk dari Lembaga Sensor Film (LSF) yang melarang pemutaran Senyap di bioskop. Pada sekitar 30 September 2015 lalu, peringatan 50 tahun peristiwa G30S, tiba-tiba muncul ungkapan “Waspada komunisme gaya baru!”, salah satu ormas bahkan mengadakan tonton bareng film Pengkhianatan G 30 S PKI. Sementara itu, International People Tribunal 1965 dianggap dingin oleh dunia dan Indonesia. Stigma terhadap “Kiri” masih sangat lekat.

Ketika “Kiri” dibawa ke ranah publik Indonesia, “Kiri” menjadi sebuah momok. Tahun 1965 lalu MPRS mengeluarkan ketetapan yang berisi pembubaran PKI dan pelarangan ideologi “Kiri”. Walaupun hanyalah TAP MPRS yang seharusnya tidak masuk dalam hierarki hukum Indonesia, notabene MPRS sudah tidak ada, gema isi dari TAP MPRS tersebut masih ada. Beberapa tahun setelah itu, sang jenderal tersenyum naik takhta dan mengangkat para “mafia Berkeley” serta mendekati dunia Barat agar melaksanakan pembangunan besar-besaran. Neoliberalisme masuk tanpa saingan, sementara orang-orang yang tidak sepenuhnya setuju pada rezim (yang notabene adalah pemikir kiri) dibungkam. Percepat ke abad 21, Indonesia masih saja alergi dengan “Kiri”.

Ignatius Haryanto dalam kolom opini Kompas Cetak edisi Sabtu 5 Maret 2016 mencoba menawarkan perspektif yang lain mengenai “Kiri”. Kiri adalah pengimbang bagi kaum konservatif, yakni kaum “Kanan”. Ketika kaum Kanan mendorong pembangunan, kaum Kiri akan mengangkat isu pemerataan. Ketika kaum Kanan ingin menjaga status quo, kaum Kiri senantiasa mempertanyakan status quo. Kanan dan kiri patut bertentangan tapi selalu ada dan diperlukan bersama-sama, termasuk dalam ideologi, agar ideologi yang kita pegang, yang di tangan pemerintahan bertransformasi menjadi kebijakan, terus diperbaiki dan diseimbangkan.

Ada hal yang saya harapkan oleh kaum reaksioner yang momok terhadap hal-hal kekirian. Ada alasan Anda dilabel kaum intoleran. Anda tidak mengadakan dialog atau mencoba memahami paham kiri. Anda hanya menutup mata sembari berteriak “Pemikiran Anda salah! Pemikiran Anda berbahaya!”. Maka dari itu, saya undang Anda untuk datang, dengan damai dan sipil, ke diskusi-diskusi pemikiran kiri. Di sana Anda akan mendengar dari orang-orang yang paham akan pemikiran kiri, argumen mereka sebenarnya apa? Dan mungkin, Anda dapat memberikan sanggahan Anda secara sipil. Saya tidak mencoba meyakinkan Anda untuk serta merta setuju dengan pemikiran kiri. Tapi dari proses tersebut, Anda akan dapat menghadapi paham kekirian secara langsung dan sipil. Sehingga ke depannya, Anda akan lebih paham sebelum melarang dan mencegat sana sini, sebelum Anda berteriak “Waspada komunisme gaya baru!” Percayalah, di Indonesia kapitalisme lebih patut diwaspadai, bukan komunisme atau sosialisme atau pemikiran kiri lainnya.

Bagaimana hendaknya kita menyikapi hal-hal yang “Kiri”? Salah satu hal kita bisa lakukan adalah telaah kritis sejarah. Sejarah Indonesia sudah terlalu lama didikte oleh sebagian kaum saja. Peran kaum kanan dibesar-besarkan sedangkan peran kaum “Kiri” didemonisasi, atau minimal diperkecil perannya. Sudah saatnya kita lebih kritis terhadap narasi sejarah, dan hal tersebut sudah mulai dilakukan. Semakin banyak buku yang mencoba menelaah kritis sejarah, semakin banyak sumber daya tentang sejarah termasuk melalui internet. Satu gema dengan Soekarno, “Jasmerah”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Hal berikutnya ialah kritik ideologi secara adil, ideologi apa pun. Ideologi tidak pantas untuk dilarang, diblokir, atau dihadang secara fisik. Itu hanya menunjukkan bahwa kita takut terhadap ideologi, tetapi tidak memiliki konter argumen yang mumpuni, sehingga hanya dapat menggunakan koersi. Jika kita betul-betul ingin menantang suatu pemikiran, apa pun itu, termasuk pemikiran “Kiri”, maka sepantasnyalah kita melawan dengan pemikiran juga. Tulislah esai, tulislah buku, adakan diskusi, lawan suatu pemikiran secara akademis, jangan hanya berani menggunakan koersi. (Qil)

(Pernah dimuat di Nuansa Kabar edisi April 2016)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar