Mahasiswa UGM Berhasil Membuat Dwikorita Memenuhi Tuntutan Mereka



Tepat pukul 17.00 WIB pada Senin (2/5) akhirnya para mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil membujuk rektorat untuk kedua kalinya menemui para demonstran. Dari pertemuan tersebut akhirnya menemukan beberapa kesepakatan, antara lain:



1. Rektor beserta seluruh pimpinan fakultas dan berbagai komponen telah mempertimbangkan beberapa masukan dari beberapa mahasiswa dan sudah sepakat bahwa Uang Kuliah Tunggal (UKT) tahun ini tetap sama dengan tahun lalu.

2. Bahwa rektorat menyetujui ada keringanan secara temporal namun ada juga yang permanen. Mengenai mekanisme penyesuaian UKT akan disesuaikan dengan kondisi mahasiswa.

3. Rektor dan para dekan telah sepakat untuk penurunan UKT bagi yang tidak sesuai per kapitanya dan memasukkan tanggungan orang tua sebagai salah satu pertimbangan pembayaran UKT

4. Akan melakukan pertimbangan mengenai penolakan pemberlakuan UKT di atas semester delapan untuk mahasiswa strata satu (S1) dan semester enam untuk mahasiswa diploma dan profesi.

5. Pada prinsipnya bisa untuk meninjau ulang mengenai besaran UKT tahun 2014 dan 2015 yang tidak proporsional seperti vokasi dan biologi.

6. UGM akan mengusahakan akan adanya beasiswa untuk peningkatan prestasi akademik (PPA) dan bantuan biaya pendidikan (BBP).

Sedangkan untuk tuntutan mengenai Bonbin (kantin FISIP UGM) akan diusahakan berupa relokasi ataupun pilihan lain bagi para pedagang. Terakhir mengenai tunjangan kinerja tenaga kependidikan yang tunjangannya belum dibayarkan selama 18 bulan. Rektorat mengatakan segala perkembangan akan melibatkan mahasiswa untuk memenuhi tuntunan mereka

Berdasarkan kesepakatan dengan para mahasiswa dan pihak rektorat segala perkembangan mengenai tuntunan UKT dan tukin akan disampaikan kembali hasilnya pada tanggal 16 Mei 2016. Sedangkan mengenai tuntunan Bonbin akan dipaparkan kembali pada tanggal 30 Mei 2016. "Kami akan meninjau beberapa poin tuntutan mahasiswa," kata rektor UGM Dwikorita Karnawati yang langsung diteriaki oleh massa aksi.

Setelah kesepakatan tersebut disepakati, kondisi kembali memanas ketika dari pihak mahasiswa menuntut rektor UGM untuk mencabut pernyataan beliau bahwa pada 2 Mei 2016 merupakan aksi simulasi. Namun sang rektor tidak memberi jawaban malah justru beliau meninggalkan para demonstran. Proses pun kembali memanas dan dramatis ketika para demonstran mengejar rektor dan bersikukuh untuk meminta pencabutan pernyataannya. Proses saling kejar-kejaran tersebut tak berlangsung lama. Karena jumlah mahasiswa yang cukup banyak yang kemudian berhasil memblokade pihak rektor beserta pengawalnya. Tepat di salah satu taman kecil di antara gedung akhirnya sang rektor pun menyerah, para mahasiswa berhasil menahan sang rektor dari tempat tersebut.

Tetap pada keinginan terakhir perwakilan dari mahasiswa menyampaikan keinginan yang terakhir. "Kami hanya meminta ibu untuk mencabut statement ibu bahwa hari ini bukan merupakan simulasi tapi ini adalah aksi," ujar salah satu mahasiswa. "Kami hanya meminta ibu untuk mencabut statement ibu bahwa hari ini bukan merupakan simulasi tapi ini adalah aksi, setelah itu selesai bu," ujar salah satu mahasiswa.

"Terima kasih sekali atas dorongan-dorongan yang membuat saya tidak bisa bergerak seperti ini, saya ingin tanya bagaimana perasaan Anda ketika ibu Anda didorong-dorong seperti ini padahal tuntutan sudah saya turuti dan saya layani sejak pagi," sanggah Dwikorita.

Namun para mahasiswa justru menegaskan tuntunan mereka. "Apa maksud statement ibu mengenai aksi kami ini adalah merupakan simulasi, atau gladi dan sebagainya dalam siaran ibu di radio tadi malam?" ujar mahasiswa lagi.

"Jadi perlu saya jelaskan bahwa untuk mengatasi sesuatu dengan baik itu perlu gladi dan perlu latihan, karena kita ini menyiapkan kehidupan demokrasi untuk membangun peradaban baru dunia. Jadi yang dilakukan adik-adik pada hari ini adalah suatu pembelajaran yang berarti." Bu rektor melanjutkan, "Impian saya satu kejadian latihan pada hari ini akan membuat adik-adik dan dosen dosen belajar bagaimana mengembangkan metode politik praktis agar jangan sampai terjadi di abad keemasan 2030 nanti itu cara menyampaikan pendapat, memilih isu, melakukan provokasi dapat dilakukan dengan baik."

Namun pernyataan tersebut justru kembali memantik suasana kembali panas oleh para mahasiswa. Pernyataan tersebut menjadi pernyataan terakhir oleh sang rektor.

Ditemui di tempat lain, reporter Nuansa berkesempatan mewawancarai salah satu koordinator aksi Syahdan Husein memaparkan bahwa para mahasiswa sangat kecewa dan kurang puas karena jawaban-jawaban yang diberikan masih berupa perjanjian secara verbal dan tidak ada perjanjian hitam di atas putih, selanjutnya ketika ia ditanya mengenai tanggapan bu rektor yang tetap tidak mencabut pernyataan bahwa hari ini adalah merupakan aksi, "Ya ini kan merupakan strategi mereka untuk membuat opini publik dan media nasional bahwa hari ini UGM akan melakukan aksi besar yang berupa simulasi, mereka seperti EO (event organizer/penyelenggara acara – red) dan kita sebagai objeknya."

Syahdan juga mendapatkan kabar bahwa hari ini Iwan Dwiprahasto selaku wakil rektor menyatakan hari ini adalah aksi bukan simulasi, terkait pernyataan tersebut telah membuktikan bahwa kebenaran akan tetap berdiri.

"Semoga pendidikan kita menjadi lebih baik ke depan dan revolusi akan di depan mata kita," tutup sang koordinator. Acara selanjutnya akan ditampilkan beberapa pembacaan puisi, dan penampilan musik. Rencananya para mahasiswa akan menginap untuk merayakan pesta rakyat tersebut. (SAW, GYS, & AWN))
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar