BEM FAI Selenggarakan Seminar Nasional Kepenulisan Ajak Mahasiswa Untuk Menulis


Seminar Nasional Kepenulisan diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM FAI UMY). Kegiatan seminar mengambil tema “Merangkai Kata, Menggugah Dunia, Menggapai Surga” dilaksanakan di Ruang Mini Theater Gedung D lantai 4, pada Rabu (5/4). Seminar Nasional ini mengundang Fajar Junaedi, Penulis dan Dosen Ilmu Komunikasi UMY serta Kurniawan Gunaedi penulis buku “Hujan matahari dan Langit-langit” sebagai pembicara.

Dalam sambutan acara Sultan Komala Pontas N selaku Ketua BEM FAI sekaligus moderator pada seminar berharap kepada peserta untuk menggali ilmu yang disampaikan pembicara tentang kepenulisan. Setelah memperoleh ilmu menulis itu, dipraktikkan ke dalam bentuk tulisan dan menyampaikan aspirasinya melalui media massa, jelas Sultan. Menurutnya mahasiswa dalam melakukan aksi tidak hanya turun ke jalan melainkan menulis juga salah satu bentuk aksi.

Penyampaian materi berlangsung kurang lebih selama dua jam tersebut diawali oleh Kurniawan Gunaedi. Pembicara yang tidak suka sepakbola ini menyampaikan kepada peserta bahwa keresahan dan ketidaknyamanan saat kuliah menjadi tujuan awal menulis. Kurniawan mengaku suka menulis tentang hal apa pun yang terjadi dalam keseharian seperti kegalauan kuliah, asmara, agama, orang tua dan lainnya.

Ide menulis dapat diperoleh melalui referensi, pengalaman, dan imajinasi. Selain itu arsip untuk ide diciptakan dengan banyak menulis agar ide tidak mudah lepas dan hilang. “Kalau setiap saat kepikiran ide langsung saya tulis pakai gadget atau bisa juga pakai voice note,” ujarnya. Untuk mempunyai arsip ide dapat dilakukan dengan merekam jejak kepenulisan melalui buku harian. Penulis buku yang berasal dari Purworejo Jawa Tengah ini mengatakan setiap tulisan yang dibuat akan menemukan pembacanya sendiri.

Pembicara kedua oleh Fajar Junaedi mengatakan cara mudah menulis dengan mengetahui tentang kejadian di kehidupan sehari-hari dan memiliki catatan mengenai hari besar nasional. “Misalkan 3 Mei merupakan hari kebebasan Pers Internasional, maka hari besar tersebut dapat dijadikan momentum untuk menulis,” katanya. Dalam penyampaian materinya beliau banyak mendiskusikan tentang artikel, buku-buku karya mahasiswa ilmu komunikasi yang sudah terbit dan masuk dalam jurnal.

Saat berjalannya diskusi, Fajat Junaedi melemparkan pertanyaan kepada peserta. “Siapa peserta di sini yang masih hafal nama kakek, nenek, atau buyutnya?” Dengan pertanyaan tersebut tidak ada lebih dari lima peserta yang tunjuk tangan. Kemudian beliau menyebutkan nama-nama penulis terkenal seperti Pramoedya Ananta Toer, Buya Hamka dan banyak peserta yang mengenal. “Hal itu terjadi karena nenek buyut kita tidak pernah menulis,” terang Fajar yang bermaksud mengajak peserta untuk mulai menulis agar tulisan yang tercipta dapat dikenang selayaknya penulis-penulis terkenal. (GWR)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar