Belajar Tentang Media Daring di Journalist Week 2016


Lembaga Penerbitan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan pelatihan kelas media daring pada Minggu (15/5). Acara tersebut merupakan salah satu acara puncak dari rangkaian acara Journalist Week, yang mana dalam acara tersebut terdapat beberapa kelas dan salah satunya ialah kelas media daring. Tujuan dalam kegiatan ini adalah mengenalkan media daring kepada mahasiswa umum sebagai media informasi terkini serta memberikan pemahaman etika dalam menggunakan dan mengelola penggunaan media daring. M Taufiqurohman, Kepala Biro Eksekutif dan Pendidikan PT Tempo Inti Media, selaku pembicara membawa suasana pelatihan dengan santai. Beliau juga mengajak para peserta untuk menjadi jurnalis yang independen dan berani. “Jadi jurnalis itu yang independen dan berani, kalo engga independen ya ga usah jadi jurnalis,” ujarnya mengawali presentasi materi.

Dalam pelatihan kelas tersebut, beliau membeberkan mengenai pangsa pasar media daring yang mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sedangkan media-media lain seperti TV, koran, radio justru mengalami penurunan. Pertumbuhan media-media konvensional seperti koran dan majalah juga mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan semakin canggihnya teknologi informasi dan komunikasi. Terbukti dengan berevolusinya media sosial dengan cepat dalam 15 tahun terakhir ini. 

Beliau juga menjelaskan perbedaan yang mendasar antara media sosial dan media konvensional. Di mana media konvensional lebih dilindungi undang-undang dan terpaku pada norma jurnalistik karena informasi yang dihasilkan berasal dari wartawan profesional, sedangkan media sosial justru bersifat informal dan lebih mudah terancam oleh undang-undang karena informasi bisa dibuat oleh siapa saja. Sebagai tambahan beliau memberikan saran agar lebih berhati-hati dan bijaksana dalam penggunaan media sosial. “Seperti kasus yang di Jogja kemarin yang mengeluh tentang pom bensin, kalau tidak dibantu pihak ketiga pasti sudah dipenjara itu,” ujarnya sambil bercanda. 

Implikasinya dengan adanya media daring dalam bidang jurnalistik ialah informasi dapat diakses lebih cepat, baik informasi yang baik maupun yang buruk dan juga segala bentuk kesalahan dalam memberikan informasi bisa langsung dikoreksi dalam jangka waktu yang singkat dan lebih efektif. Namun dari itu semua, ketepatan ataupun akurasi data tetap harus diutamakan. 

Untuk itu, Taufiqurohman berharap pelatihan seperti Journalist Week terus dilanjutkan untuk dapat memberikan pembelajaran bagi para jurnalis muda agar menjadi jurnalis yang independen dan berani. (GMR,ANS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. I'm interested in your article
    I also have the same article that you can read in http://ps-tsi.gunadarma.ac.id
    thank you

    BalasHapus