UMY Merusak Iklim Akademik bagi Mahasiswanya Sendiri!



“Ih males banget sih harus muter dulu. Kan capek.”

“Duh, gerbang selatan ditutup. Gimana ini mau kerja kelompoknya? Kalo harus lewat gerbang utama kan buang-buang waktu!”

“Walah iya baru inget, kan gerbang utara ditutup. Ga jadi diskusi di kampus deh.”

“Lawan arah aja dah. Daripada ngabisin bensin mau muter dulu. Jauh coy!”

Begitulah ucapan dari mahasiswa-mahasiswa UMY pada hari Minggu ataupun hari-hari libur lainnya. Mereka susah untuk berkegiatan di kampus karena dua dari tiga pintu masuk utama yang ada di kampus ditutup, pintu selatan dan pintu utara. Mereka, khususnya yang tidak memiliki kendaraan bermotor pasti kesusahan jika ingin memasuki kampus, apalagi jika mereka berkos di belakang UMY. Mereka harus berputar jauh untuk mencapai satu-satunya akses masuk kampus pada saat hari libur: gerbang timur. Pun yang memiliki kendaraan bermotor juga pasti akan berisiko lebih tinggi untuk melanggar peraturan lalu lintas, yakni akan berputar lawan arah ketika mereka pulang dari kampus (bagi mereka yang berkos di daerah Unires Putri dan sekitarnya).

Hal serupa juga berlaku ketika mahasiswa yang berkos di daerah Unires Putra dan sekitarnya jika mereka ingin pergi ke kampus pada hari Minggu atau tanggal merah, mereka mempunyai tiga pilihan, pertama, memutar via ringroad, kedua, memutar via Tugu Ngebel, atau ketiga, melawan arah menyusuri tepian ringroad supaya tidak menghabiskan banyak bahan bakar. Walaupun masih ada pintu yang dibuka untuk hari-hari libur itu, yakni pintu timur, tapi itu belum efektif untuk memfasilitasi mahasiswa yang berkos di barat UMY.

Namun, yang pasti, dengan ditutupnya dua pintu utama itu telah mempersempit gerak-gerik akademik bagi mahasiswa UMY. Padahal, kampus adalah tempat di mana mahasiswa bisa bergerak kapan saja karena kampus adalah mimbar akademik yang diperuntukkan penuh untuk menunjang kegiatan akademik bagi mahasiswa. Apalagi dikaitkan dengan bayaran per semester di UMY yang semakin mahal setiap tahunnya, harusnya kampus dibuka selebar-lebarnya untuk kepentingan mahasiswa, bukan untuk kepentingan mantenan. Pernah beberapa kali saya mendapati pintu selatan dan utara dibuka untuk kepentingan mantenan, padahal saat itu adalah hari Minggu, yang mana pada hari serupa biasanya pintu-pintu itu kaku tak bergerak berdiri tinggi seolah berkata, “Kampus haram bagimu untuk hari ini!” Apakah kegiatan mantenan lebih tinggi derajatnya daripada kegiatan akademik? Ataukah karena kegiatan mantenan itu sebagai cara kampus untuk mendapatkan uang lebih banyak sehingga mereka bisa lebih spesial daripada mahasiswanya sendiri?


Apa yang ditakutkan kampus sehingga mereka menutup pintu-pintu itu? Mereka takut kampus dibom saat hari libur? Mereka takut jika semua pintu dibuka akan menyulitkan mereka dalam pengawasan ketika hari libur? Atau mereka takut tidak bisa menggaji lebih petugas karcis dan petugas keamanan untuk mengawasi lingkungan kampus saat hari libur? Untuk alasan terakhir saya rasa tidak mungkin, karena penghasilan UMY dari kertas-kertas formulir pendaftaran calon mahasiswa baru yang gagal saja sudah berapa miliar. Belum lagi dari pendaftaran mahasiswa baru jurusan kedokteran jalur kemitraan. Belum lagi dari amal-amal usaha yang dipunyai UMY. Pokoknya tidak mungkin UMY tidak punya duit untuk menggaji mereka petugas karcis di setiap pintu itu.

Seharusnya mereka sadar mereka mempunyai mahasiswa yang membayar mahal untuk semua fasilitas yang disediakan, tak terkecuali di hari Minggu. Mereka juga harus sadar bahwa tujuan utama sebuah universitas atau perguruan tinggi adalah mempersiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Selain itu, menurut Peraturan Pemerintah nomor 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi, tujuan perguruan tinggi adalah mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian serta mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Namun, jika dilihat dengan keadaan sekarang, UMY tidak lagi menganut tujuan perguruan tinggi berdasarkan Peraturan Pemerintah di atas. Bahkan, dengan ditutupnya pintu-pintu masuk UMY tersebut, UMY telah merusak atau bahkan melanggar tujuan khusus berdirinya UMY pada poin nomor lima, yang berbunyi: “Menciptakan iklim akademik/academic atmosphere yang dapat menumbuhkan pemikiran-pemikiran terbuka, kritis-konstruktif dan inovatif.” (Bisa dilihat di http://www.umy.ac.id/profil/visi-misi.)

Di umur UMY yang ke-35 tahun saat ini seharusnya sudah bisa berbuat lebih banyak untuk kepentingan mahasiswanya, bukan lagi menyediakan fasilitas-fasilitas high-class yang tidak bisa dinikmati oleh seluruh mahasiswanya. Apa susahnya membuka pintu-pintu itu demi kepentingan mahasiswa dan demi mewujudkan tujuan khususmu itu? UMY tidak akan jatuh derajat internasionalisasinya, pun jika membuka pintu-pintu itu. Solusi dari saya adalah bukalah pintu-pintu itu pak, bu, saya jamin UMY tidak akan jatuh miskin ketika membuka pintu-pintu itu. (SAW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

7 comments:

  1. 👍👍👍👍👍👍👍👍

    BalasHapus
  2. Kalo udah dtutup gerbang selatan, lawan arah jadinya, lebih singkat tapi bahaya coy

    BalasHapus
  3. masalah Gerbang ???
    kritis mu dimana ? justru itu megajarkan kedisiplinan, kesabaran,
    faktor lain gerbang utara dan selatan ditutup adalah Keamanan, ga adanya penjaga (karena penjaga liburan dong) menutup menjadi opsi, belum tau berita alat Lab ada yg hilang ?. Keliling makannya.
    mau kaya Tribun, TV One, Metro, dan berita lain-lain, kah ? Judul menarik, tapi isi nya Konyol, Hmmm.... Kecelakaan Berfikir apa lagi.

    BalasHapus
  4. Lucu emang UMY kalo gabisa bayar penjaga di hari libur. Duit aja ngalir terus ke kampus tanpa mengenal libur kok. Duit segitu besar gabisa meningkatkan keamanan dan kenyamanan kampus justru jadi pertanyaan kan? Haduuuh kemana duit kamu, UMY ku :)

    Kedisiplinan? Kesabaran? Lah sekarabgbtujuannya dibangun 3 gerbang buat apa sih? Tolol banget yg komen diatas sumpah

    BalasHapus
  5. Sekalian aja tiap hari gerbang utara selatan ditutup, biar gak bayar pertugas karcis.

    BalasHapus
  6. Aturan udah lama di buat mengenai buka tutupnya gerbang Utara dan Selatan bahkan mungkin jauh sblm mahasiswa/i bisa ngritik aturan itu.sbnrnya bukan perkara jauh atau atau nggknya lewat pintu utama yang ada itu hanya kmalasan semata,kalu mang niat buat belajar ya apa salahnya lewat pintu utama kan 24 jam slalu kbuka,intinya mau itu aja..nggk prlu saling menyalahkan untuk belajar. Jujur saya selaku mahasiswa kurang enak ngbaca judul di atas tentang UMY merusak akademik.. Dan tolong komentarnya yang positif dong jangan pake urat

    BalasHapus