Sinetron, untuk Seni atau Komersial?






sumber gambar : kaskus.co.id




Oleh : Shafira Rahmabeta S



Sudah tidak diragukan lagi tayangan sinetron di Indonesia semakin menjamur. Hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron. Jam tayangnya pun beragam. Ada yang pagi, menjelang siang, sore, hingga tengah malam. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Indonesia menunjukan antusiasme yang tinggi terhadap tayangan sinetron. 



Tidak bisa dipungkiri tujuan sebuah sinetron diproduksi salah satunya adalah untuk kepentingan komersial. Namun selain itu, ada juga yang harus terkandung dalam sebuah sinetron, yaitu unsur mendidik dan menghibur. Lalu apakah sinetron yang ditayangkan oleh stasiun televisi Indonesia sudah mencakup unsur-unsur tersebut?



Sayangnya sinetron saat ini lebih condong ke kepentingan komersial. Seperti yang kita tahu, antusias masyarakat terhadap sebuah sinetron bisa dilihat dari tinggi atau tidaknya rating sinetron tersebut. Semakin tinggi antusias masyarakat, episode sebuah sinetron pun akan semakin panjang, bahkan hingga beratus-ratus episode. Sayangnya terkadang jalan cerita sinetron tersebut menjadi tidak jelas. Inti dari sinetron yang awalnya mendidik menjadi hilang. Semakin bertambah episodenya, semakin kurang berbobot isinya. Padahal selain menghibur, isi dari sinetron juga perlu mendidik. 



Adegan-adegan dalam sinetron pun bisa menuntun penikmat sinetron untuk merubah perilakunya. Mulai dari cara berinteraksi dengan orang lain hingga gaya hidup. Tidak jarang masyarakat meniru adegan-adegan dalam sinetron yang tidak seharusnya ditiru. Terutama untuk anak di bawah umur, yang masih belum bisa membedakan mana yang merupakan kisah nyata, mana yang hanya sekedar skenario. Sedangkan adegan dalam sinetron bermacam-macam, yang mengkhawatirkan adalah adanya adegan-adegan yang kurang patut dicontoh. Contohnya menuduh teman, membangkang orang tua, ugal-ugalan di jalan, dan berfoya-foya. Perilaku para aktor dan aktris dalam sinetron tersebut bisa memengaruhi pola pikir anak di bawah umur. Karena memori mereka akan merekam apa yang mereka lihat dan mereka dengar, yang nantinya akan tercermin dalam gaya hidup kedepannya.



Lalu bagaimana seharusnya sinetron itu? Kebanyakan konflik sebuah sinetron berfokus pada percintaan. Padahal masih banyak konflik yang lebih bagus untuk dimasukkan dalam adegan sinetron. Kemudian jalan cerita dari sebuah sinetron harus bisa mendidik. Tidak hanya sekedar adegan tanpa bisa diambil maksud dari adegan tersebut. Kemudian penegasan bahwa sinetron tersebut merupakan sinetron untuk dewasa atau memerlukan bimbingan orang tua harus diperjelas. Pada dasarnya sinetron sudah menjadi kesukaan masyarakat Indonesia, jadi untuk merubahnya merupakan hal yang sulit. Tinggal bagaimana kita memilah jenis sinetron yang pantas ditonton atau tidak.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar