Semesta



 
sumber gambar : merdeka.com
Oleh : Dimas  Mandegani

Hai, aku semesta
Kerjaanku diam, mengamati hiruk pikuk dunia Tuhan
Memandangi elok kuasa-Nya, hingga akhir masa tua

Hai, aku semesta
Kini kerjaanku bertambah
Yakni memastikan suatu ulah
Bukan ulah sih, semacam konfrontasi gerakan para jantan
Konfrontasi? Manuver sederhananya
Gerakan cepat dalam sekejap
Mencapai tujuan: cinta peradaban

Hai, aku semesta
Kali ini kerjaanku bertambah lagi
Yakni mengamini, doa insan dalam hati
Yang setia menanti datangnya harapan
Harapan kepastian insan lain yg sedikit terlihat

Namun, lihat semesta
Lihat aku, yang sedari tadi bersembunyi di sudut pandang orang ketiga
Bukan, bukan orang ketiga bermakna konotasi
Melainkan hanya kiasan untuk persembunyian diamku
Hanya diam, menaruh harap agar dia menoleh saat dipanggil
Agar dia memanggil balik saat meminta bantuan
Agar dia menepuk pundak saat dia tertawa atas tingkahku

Hai semesta, aku keluar
Mencoba menepi
Menggali celah di antara harapan
Harapan yang mungkin hilang karena tak segera kuungkapkan
Atau.. Mungkin bertahan karena sedang berproses
Entah, masih seperti kamera depan: blur

Semesta, bantu aku berkata "aku sayang kamu" kepadanya
Aku ingin dia menemaniku bukan hanya sebagai kawan
Namun juga pasangan idaman

Semesta, bantu aku, ya?
Inginkah?
Jawablah, jangan hanya diam
Aku ingin kepastian
Apa aku bisa berucap sekarang?
Atau besok?
Atau... Kapan?

Hai, aku semesta
Sabarlah kawan
Buatlah harimu menyenangkan bersamanya
Buatlah garis senyum merekah di wajahnya
Karena aku tau, hanya kamu yang selalu membuatnya begitu
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar