Problematika Sepak Bola Tanah Air

Sumber gambar: www.dribble9.com

Oleh: Aulia Nur Satria 

Baru saja berakhir, pergelaran Kompetisi Bhayangkara, sebuah kompetisi sepak bola nasional yang dihelat untuk kesekian kalinya sebagai pelupa sakitnya luka yang dialami dunia persepakbolaan di Indonesia. Sebuah liga yang sejatinya merupakan hal fundamental dalam dunia sepak bola justru dihentikan dan dibekukan entah sampai kapan. Kedua belah pihak yang “katanya” mempunyai visi memajukan sepak bola Indonesia justru makin menenggelamkannya secara perlahan. FIFA selaku induk sepak bola dunia pun kehabisan kesabaran melihat pertikaian kedua belah pihak tersebut dan menjatuhkan sanksi berat kepada Indonesia yang berlaku hingga waktu yang tak ditentukan. 

Sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada Indonesia merupakan tamparan keras bagi sepak bola tanah air. Sanksi tersebut langsung berimbas pada peringkat Timnas Indonesia yang sudah tidak diakui keberadaannya oleh FIFA. Hal tersebut juga berimbas pada kehidupan para pemain , wasit, dan bahkan pedagang-pedagang pun menjadi tumbal atas pertikaian kedua belah pihak yang sama-sama keras kepala. Pemain yang mencari nafkah dari dunia sepak bola pun harus gigit jari dan pasrah dengan apa yang terjadi pada sepak bola tanah air ini. Mereka hanya bisa berkeluh kesah dan meminta kedua belah pihak agar segera memberikan solusi atas semua permasalahan ini. Namun tetap saja tidak terjadi perubahan.

Memang sudah menjadi watak negeri ini, bukannya membawa kondisi ini membaik tapi malah mendiamkan permasalahan ini. Berbagai macam kompetisi pun digelar sebagai penghibur duka negeri ini. Namun tetap saja tidak membuat kondisi persepakbolaan ini membaik. Kompetisi yang hanya diikuti klub-klub kaya tidak dapat memberi kesempatan bagi klub yang berada pada kasta bawah yang memilik kekuatan finansial yang lemah. Padahal terdapat ribuan pemain yang membutuhkan pertandingan untuk mengisi jam terbang atau bahkan untuk mencari nafkah bagi keluarga. 

Setali tiga uang dengan kondisi sepak bola negeri ini, pendidikan sepak bola usia dini yang merupakan kekuatan besar dalam dunia sepak bola juga ikut amburadul. Bibit-bibit muda yang seharusnya menjadi generasi penerus pun terlantarkan. Sungguh sangat miris, Mereka tidak memiliki wadah untuk mengembangkan bakat mereka. Kompetisi bukan langkah yang tepat bagi mereka karena tidak dapat memberikan jam terbang dan pengalaman yang cukup. Salah satu cara terbaik untuk memberikan wadah bagi usia muda adalah dengan liga. Liga dapat memberikan jam terbang dan pengalaman yang cukup untuk menjadikan mereka pemain yang hebat. Lagi-lagi pihak yang seharusnya memberi perhatian kepada mereka malah sibuk bertikai yang tak jelas ke mana alurnya. Hal ini membuat Indonesia ketinggalan ratusan langkah dari negara-negara tetangga yang terus melakukan perbaikan diri dari hulu hingga hilir. 

Sudah saatnya semua masa gelap sepak bola Indonesia ini berakhir. Kondisi pemain semakin parah, mereka sudah menggantungkan kehidupannya di dunia sepak bola. Mungkin tidak menjadi masalah jika pemain tersebut adalah pemain top sekelas C. Gonzales, Zulham Z, Tony S, A. Bustomi dan pemain lainnya yang memang sudah eksis di Tim Nasional dan di liga kasta tertinggi. Namun bagaimana nasib pemain yang bermain di kasta kedua, ketiga, atau bahkan di liga amatir? Sekaranglah waktunya menghentikan pertikaian tersebut. Memang tujuan semua pihak adalah membuat sepak bola Indonesia semakin berjaya dan maju. Tetapi dengan mengorbankan pihak-pihak yang tidak bersalah juga merupakan kesalahan. Sudah seharusnya semua pihak menundukkan ego masing-masing dan dapat berpikir jernih. Demi Indonesia demi garuda di dadaku.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar