Perayaan Hari Kelahiran, antara Pengucapan Rasa Syukur atau Berfoya-foya




Oleh: Nida Urrahmah

Tidak sedikit orang yang setiap tahun merayakan hari kelahirannya, mulai dari mengajak temannya atau keluarganya untuk berkumpul dan makan-makan, merayakan hari kelahirannya dengan sebuah pesta baik yang sederhana hingga mewah. Dan tidak sedikit juga yang merayakan hari kelahirannya di sebuah panti asuhan dengan alasan menyantuni anak yatim piatu. Tentu saja berbagai perayaan ulang tahun di atas merupakan hal yang dianggap lumrah dan bahkan ironisnya, perayaan ini seakan-akan menjadi sebuah kewajiban untuk dilakukan setiap tahun tanpa memandang lagi status ekonomi dari si pemilik hari kelahiran, sehingga tidak sedikit pula beberapa dari mereka seakan-akan memaksakan diri hanya untuk melakukan perayaan ini. Seandainya semua orang memiliki waktu untuk sekedar mengkaji apa yang salah dari perayaan ulang tahun ini, mungkin perayaan ulang tahun yang sudah mengakar di kalangan masyarakat ini tidak lagi menjadi sebuah keharusan.

Menurut kitab suci agama Islam, definisi kematian adalah terpisahnya ruh dari jasad sedangkan definisi lahir memiliki makna berbalikan, yaitu bertemunya ruh dengan jasad. Berdasarkan definisi kelahiran dan kematian di atas, coba kita tarik garis penghubung dengan apa yang kita lakukan ketika kita tidur. Bukankah kita semua tahu ketika kita tidur terjadilah pemisahan antara jasad dan ruh sehingga tidak sedikit dari kita yang menyebutnya sebagai kematian sementara. Penelitian kesehatan pun belum dapat menjelaskan ke mana ruh kita ketika kita sedang tidur, tetapi faktanya permasalahan ini sudah jelas tertera pada kitab suci agama Islam bahwa tidur merupakan jenis dari kematian karena Allah mengambil dan menjaga ruh dari jasad kita. Apabila dikembalikan maka kita dapat terlahir kembali sedangkan apabila Allah tidak memiliki kehendak untuk mengembalikan ruh kepada jasad kita maka kita tidak dapat lahir kembali atau dapat dikatakan sebagai wafat. Begitulah bahasan sederhananya tentang lahir dan mati.

Kembali lagi ke topik tentang perayaan ulang tahun, sebenarnya perayaan ini bukan hanya sekedar mendapatkan kesenangan batin karena dapat berkumpul ataupun berbagi. Tetapi tentu juga pengucapan rasa syukur karena masih tetap hidup selama satu tahun dari hari yang dianggapnya merupakan hari kelahiran. Tapi coba kita pikirkan kembali tentang penjelasan teori mati dan lahir. Penjelasan di atas sudah cukup menjelaskan bahwasanya kita terlahir di dunia ini bukan hanya sekali lalu menunggu kematian. Tetapi, kita mati dan terlahir didunia ini setiap hari atau bahkan dalam sehari bisa dua sampai tiga kali. Dengan penjelasan teori tersebut, apabila perayaan hari ulang tahun adalah hari untuk merayakan hari kelahiran seharusnya secara logika perayaan ini juga dirayakan setiap hari atau bahkan dirayakan setiap kita bangun tidur. Bukankah itu berlebihan?

Apa yang ingin saya tekankan adalah perayaan hari ulang tahun yang telah mengakar dalam masyarakat ini bukanlah sebagai sebuah keharusan untuk dilakukan setiap tahunnya. Apalagi kalau sampai memaksakan diri hanya untuk merayakan hari yang dianggap spesial ini. Yang utama dari sebuah perayaan ulang tahun ini sesungguhnya adalah sebagai bukti rasa syukur kita karena masih diberikan umur dan masih diberikan kesempatan untuk terlahir kembali. Kita terlahir kembali atas sebuah kesempatan oleh karena itu dalam melakukan tindakan tindakan bukan lagi melakukannya tanpa pikir panjang tetapi setiap tindakan harus didasarkan dari apa yang Ia suka, tentu agar kesempatan terlahir kembali ini tidak menjadi kesia-siaan.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar