Komap UMY Ajak Diskusi Wakil Ketua DPRD DIY

Sumber gambar: dokumentasi Komap
Korps Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (Komap) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan kunjungan ke kantor DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus berdiskusi dengan Wakil Ketua DPRD DIY, Arief Noor Hartanto pada Senin (18/4). Kunjungan yang merupakan rangkaian dari acara Government Tour ini membawa sebanyak 85 pengurus Komap untuk berdialog seputar permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat Yogyakarta seperti persoalan jalur Transjogja, maraknya transportasi daring, perlindungan pasar tradisional, pengadaan ruang terbuka biru, dan lain sebagainya. 

Arief Noor Hartanto menjelaskan bahwa ke depannya pemerintah provinsi akan terus mengembangkan fasilitas Transjogja, seperti menambah armada bus dan jalur apabila kajian terkait penumpang dan lainnya memungkinkan untuk itu. Masalah transportasi daring juga disinggung oleh Wakil Ketua DPRD DIY ini, “Menurut saya problematika bukan hanya dari sisi legalitasnya saja, tetapi lebih ke sisi kesiapan seluruh pelaku untuk menyesuaikan dengan kekinian, era kekinian, yang harus kita lalui.” Tidak hanya soal legalitas saja namun juga terkait evolusi pelayanan transportasi publik. Seperti yang sudah terjadi pada transportasi tradisional becak yang semakin tergusur oleh bentor (becak motor), kemudian taksi pelat hitam yang beroperasi liar dimana-mana. Untuk mempertahankan transportasi tradisional yang sudah ada sejak dulu, perlu adanya perbaikan pelayanan.

Upaya pemerintah provinsi dalam mengentaskan ekonomi kerakyatan juga menjadi salah satu fokus mahasiswa ilmu pemerintahan dalam diskusinya. DIY telah memiliki Peraturan Daerah tentang perlindungan pasar tradisional, meskipun adanya perda ini melampaui batas-batas kewenangan pembuatan peraturan karena pengelolaan pasar berada di naungan Pemerintah Kota dan Kabupaten. “Ini usulan inisiatif dari DPRD DIY, kita berharap bahwa pasar tradisional mendapat perhatian yang sangat serius dari pemerintah kabupaten dan kota agar dilindungi keberadaannya sebagai bagian dari pusat pergerakan ekonomi,” ujar Arief. Selain sebagai pusat perekonomian rakyat, ada nilai-nilai budaya yang harus dijaga dari keberadaan pasar tradisional. Komunikasi yang terjalin antar konsumen dan pedagang menjadi lingkungan sosial tersendiri yang sarat akan budaya Jawa di Yogyakarta. “Kultur Jawa dipahami bahwa pasar tidak boleh hilang suara-suaranya. Oleh karena itu, kabupaten dan kota dengan perda ini di harapkan sangat serius untuk melindungi pasar tradisional,” lanjut Arief. 

Hal ini termasuk perlindungan terhadap toko-toko pribumi yang sekarang digembur habis oleh toko-toko modern berjaring. Ke depannya pemerintah provinsi telah menghimbau pemerintah kabupaten dan kota untuk berani tegas terhadap toko-toko tersebut. “Kalau saya ke depannya yang sudah terlanjut terbangun harus diperdayakan dengan sangat luar biasa. Artinya harus adanya rekapitalisasi toko-toko modern untuk pro kepada usaha kecil, dengan menyiapkan etalase khusus untuk jajanan tradisional. Bagi yang belum berizin, daerah (pemerintah - red) wajib harus memberanguskah untuk tidak beroperasi,” tegas Arief. 

Antusias mahasiswa ilmu pemerintahan juga sangat baik, terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang ikut bertanya dan mengutarakan pendapatnya. Budi Nugroho, selaku Ketua Divisi Humas dan Pers Komap menjelaskan tujuan diadakannya kunjungan ini sebagai salah satu cara bagi mahasiswa ilmu pemerintahan untuk mengetahui lebih dalam soal DPRD DIY. “Selain itu kami juga ingin tahu soal kebijakan-kebijakan apa saja yang telah di keluarkan DPRD Yogyakarta, dan menyampaikan aspirasi dari teman-teman yang sebelumnya sudah di bahas di kajian-kajian sebelumnya.” Selanjutnya acara Government Tour akan melanjutkan kunjungan ke kantor Kedaulatan Rakyat pada Kamis, 21 April 2016. Halip Nuryanto, salah satu peserta mengungkapkan kesannya selama acara berlangsung. “Acara ini meriah, walaupun diburu-buru waktu tapi menurut saya cukup ngena. Dan salut sama Pak Arief, karena sesibuk apa pun, beliau menyempatkan diri untuk menemui kita, mahasiswa yang pengen banyak tahu,” ujarnya. (LR) 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar