"Kesuksesan" Hasil Copy Paste




Sumber gambar : liputan6.com

 Oleh : Rosania Ayu Ningtyas

Tidak ada orang yang tidak ingin memperoleh kesuksesan di masa depan. Sukses adalah tujuan semua orang dalam menjalani hidup di dunia. Demi mendapatkan kesuksesan seperti yang mereka inginkan, mereka rela bekerja keras, menguras tenaga dan fikiran, bahkan mengorbankan kebersamaan dengan orang tua bagi yang merantau. Karena dengan kesuksesan, bahagia akan turut mengikuti kehidupan mereka. Dengan sukses martabat mereka terangkat, dan menjadi orang yang disegani, serta mereka bisa memiliki apa yang mereka inginkan.

Setiap orang di dunia ini memiliki kriteria suksesnya masing-masing. Ada yang menginterpretasikan kata “sukses” itu seperti mendapatkan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan besar, memiliki smartphone canggih hasil kerja keras sendiri, mampu membeli mobil dan rumah, atau bahkan mampu membuat acara pernikahan yang mewah hingga mengundang tamu lebih dari seribu orang. Ya, setiap orang punya pandangan mereka masing-masing terhadap kata “sukses”. Karena memang pada hakikatnya manusia memiliki pemikiran yang berbeda satu sama lain.

Meski setiap orang berbeda-beda dalam menerjemahkan kata “sukses” dalam bentuk spesifiknya, namun bentuk umum dari terjemahan atas kesuksesan mereka kebanyakan sama. Yaitu, menjadi orang kaya (pengusaha atau kerja kantoran). Kriteria yang mereka bangun dalam fikiran mereka adalah sukses itu  memiliki banyak uang dari hasil bekerja membuka usaha besar atau bekerja kantoran. Hal ini tak bisa disangkal karena mayoritas orang berpikiran seperti ini. Sehingga muncul mindset bahwa menjadi orang yang bekerja menggarap sepetak sawah itu tidak sukses, menjadi nelayan itu tidak sukses, menjadi tukang ojek di pengkolan itu tidak sukses, karena penghasilannya yang kecil.

Lalu, apa akibatnya? Akibatnya adalah orang-orang akan membuat dinding antara pekerjaan yang mereka katakan sukses dan yang mereka katakan tidak sukses. Dinding itu adalah pembatas mereka agar jangan sekali-kali berfikir untuk bekerja menjadi petani, nelayan atau tukang ojek, sebagai contohnya. Maka jangan heran jika orangtua yang bekerja sebagai petani – sebagai contoh – banting tulang bekerja demi anak mereka bisa sekolah tinggi dan mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor besar. Tidak salah, namun jika banyak orang tua yang berfikir seperti ini, maka regenerasi petani akan sangat lambat, produksi beras menurun, karena yang mengurus sawah bukan lagi anak-anak muda dengan tenaga yang masih ekstra, tapi para orangtua yang menjelang lansia, atau bahkan  simbah-simbah yang sudah sepuh dan tenaganya juga menipis. Bukan sepenuhnya salah pemerintah jika Indonesia harus mengekspor beras dari luar negeri.

Lalu, sebenarnya apa titik sumber permasalahan ini? Globalisasi adalah jawabannya. Memang, jika dilihat saat ini globalisasi membawa banyak pengaruh positif, yang berwujud gadget canggih, transportasi, mode pakaian, dll. Inilah wujud dari pengaruh positif globalisasi. Bagaimana dengan pengaruh negatifnya? Efek negatif yang paling besar akibat dari globalisasi adalah perubahan pola fikir manusia.

Globalisasi adalah proses menyeluruhnya segala aspek kehidupan. Termasuk pola fikir. Globalisasi nyatanya telah merubah pola fikir masyarakat dari tradisionalisme menjadi modernisme. Modernisme dalam hal ini adalah mengikuti pola pemikiran kaum-kaum yang berasal dari negara adikuasa. Konsep modernisme dalam masyarakat sekarang adalah menyamai kehidupan dan pola fikir negara-negara maju, sebagai contoh Amerika Serikat. Segala aspek kehidupan, Amerika Serikat menjadi contoh mutlak dalam membuat perkembangan dalam kehidupan. Contohnya, di Amerika Serikat orang sukses adalah orang-orang yang bekerja di kantor, perusahaan besar, dan memakai jas saat bekerja. Kemudian banyak orang berlomba-lomba untuk membangun rumah, gedung yang besar, seperti yang ada di Amerika Serikat. Masyarakat dewasa ini dengan mudah meng-copy-paste pola-pola kehidupan atau pola fikir negara lain. Padahal, belum tentu cocok untuk diimplementasikan pada negara sendiri, khususnya Indonesia.

Secara logika, pekerjaan di kantor, perusahaan besar, dan memakai jas saat bekerja adalah hal yang wajar bagi negara sekuat Amerika Serikat, karena jika mereka ingin bertani, menjadi nelayan, atau menjadi penambang minyak, mereka tidak memiliki lahan yang baik, perairan yang produktif, ataupun lahan penghasil minyak. Namun mereka “cerdas” dalam menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang kaya sumber daya alam (SDA) namun tidak pintar dalam mengolahnya, dengan cara memberi bantuan bagi negara-negara tersebut untuk mengolah sumber daya tersebut. Tetapi ini bukanlah tanpa syarat begitu saja. Setelah negara-negara dengan minim pengolahan SDA tersebut berhasil mengolah sumber dayanya, mereka harus menjual kepada katakanlah Amerika Serikat. Dalam hal ini bisa dilihat dari hubungan Indonesia dan Amerika Serikat dalam perusahaan multinasional Freeport. Semakin ironi ketika dalam kenyataannya Indonesia masih kekurangan hasil produksi sumber daya alamnya. Jangan tanyakan mengapa kemudian Indonesia mengimpor beras dan bahan bakar minyak dari negara lain hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Singkatnya, penerjemahan yang keliru dari konsep “sukses” ini  dikarenakan negara-negara adikuasa memiliki kemampuan untuk mempengaruhi negara-negara yang berada di bawah naungannya melalui produk-produk hasil globalisasi (internet, media massa, dll). Sehingga bagi negara-negara yang “lemah”, mereka hanya mampu mengikuti apa yang dijadikan contoh oleh negara-negara adikuasa. Tidak sepenuhnya salah, namun jika segala macam bentuk aspek kehidupan negara adikuasa tersebut kemudian di-copy paste­-kan dalam kehidupan negara dengan latar belakang yang beda, akan cenderung menjadi kacau.

Dalam hal ini, tidak seharusnya konsep “sukses” itu selalu diinterpretasikan dengan keadaan dimana seseorang memiliki banyak uang dengan bekerja jadi pengusaha atau di kantoran. Karena sukses memiliki arti yaitu kondisi dimana seseorang berhasil mencapai apa yang menjadi cita-citanya dengan penuh kerja keras. Bisa saja sukses dalam menjual beras hasil panen dengan bayaran yang lebih banyak dari hasil panen sebelumnya. Tidaklah baik jika menyalin pola-pola kehidupan atau fikiran dari kebudayaan lain tanpa melihat, dan menimbang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar