Jurnalis Video Dhandy Laksono Berikan Kuliah Umum Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY


Jurnalis video yang dikenal melalui film-film dokumenter, Dhandy Dwi Laksono memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa konsentrasi Broadcasting jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Kamis siang hingga sore hari (14/4) bertempat di Ruang Multimedia Ilmu Komunikasi UMY.

Dalam kesempatan tersebut, Dhandy Laksono menyampaikan pentingnya riset data dalam pembuatan sebuah film dokumenter agar film tersebut dapat dipertanggungjawabkan dengan data dan fakta yang akurat. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa selain riset ada satu hal yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan film dokumenter, yaitu ide cerita. “Lupakan hal-hal teknis seperti kamera shaky (goyang) dan lain-lain, dalam film dokumenter ide cerita adalah hal yang paling mahal, pikirkan ide, asah panca indra agar dapat mengantisipasi momen,” terang Dhandy.

Dhandy juga menceritakan pengalamannya turun ke lapangan ketika memproduksi film-film dokumenter bersama rekan-rekannya di rumah produksi WatchDoc seperti Belakang Hotel, Samin vs Semen, The Mahuzees, Kala Benoa, hingga yang terbaru Rayuan Pulau Palsu. Dalam kesempatan kuliah umum tersebut. Dalam produksi film-film dokumenter yang merupakan hasil dari rangkaian Ekspedisi Biru mengelilingi Indonesia selama satu tahun itu, Dhandy bersama WatchDoc melakukan riset yang mendalam baik sebelum produksi, saat produksi, dan pascaproduksi. Ia mencontohkan ketika WatchDoc memproduksi film Alkinemokiye yang menceritakan tentang mogok massal karyawan Freeport yang menuntut kenaikan gaji di mana sangat terbantu dengan hasil riset. “Rekan-rekan saya di WatchDoc melakukan riset yang cukup mendalam dalam film ini, mulai dari riset harga emas sepuluh tahun terakhir, laporan keuangan Freeport, hingga pergerakan saham Freeport di Wall Street pun kami pantau,” tutur Dhandy. Riset tersebut tidak harus dilakukan sebelum produksi, namun juga dapat dilakukan saat produksi maupun setelah produksi. “Dalam pembuatan film Alkinemokiye riset kami lakukan setelah produksi, saat produksi kami tidak berbekal informasi apa-apa, karena yang terpenting adalah mengejar momentum, maka riset kami lakukan setelah produksi dan itu memerlukan waktu berbulan-bulan,” ungkapnya.

Dalam acara yang dimoderatori oleh dosen Ilmu Komunikasi UMY, Fajar Junaedi tersebut juga diadakan acara peluncuran buku terbaru karya para dosen Ilmu Komunikasi UMY dengan judul Membaca Budaya Layar, Menikmati Film. Kuliah umum ini merupakan salah satu rangkaian acara Pesta Sinema di mana pada malam harinya akan dilanjutkan dengan acara pemutaran film dokumenter karya para mahasiswa Broadcasting UMY. (YSA)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar