Jangan Takut Bekerja di Organisasi Internasional!


“Tidak usah takut menjadi international professional,” ujar Joyce Sinaga, Human Resources Officer dari United Nations Development Programme (UNDP) di depan peserta Sosialisasi Peluang Bekerja WNI Pada Organisasi Internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan sosialisasi pada Jumat pagi (29/4) bertempat di ruang Drupadi Hotel Neo+ Awana Yogyakarta. Sosialisasi menghadirkan pembicara antara lain Rina P Soemarno Sekretaris Direktorat Jenderal Multilateral Kemenlu, Joyce Sinaga dari UNDP, serta Busrian Mantovani Technical Officer Human Resource Division ASEAN Secretariat. Acara sosialisasi dihadiri sekitar 130 peserta, kebanyakan dari kalangan mahasiswa dari beragam universitas.

Dalam sambutan pembukaan sosialisasi, masalah representasi Indonesia diangkat oleh Ali Muhammad Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UMY selaku perwakilan dari UMY. Masih sedikit warga negara Indonesia yang berkarier di organisasi internasional dibandingkan warga negara lainnya. Di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tercatat hanya ada 80 staf yang berkewarganegaraan Indonesia, di WTO (World Trade Organization) bahkan tidak ada. Sehingga WNI perlu didorong untuk berkarier di organisasi internasional.

“Bekerja di organisasi internasional harus netral, tidak boleh mewakili Negara,” jelas Rina P. Soemarno. Ketika seseorang bekerja di organisasi internasional, ia harus berlaku profesional dengan merepresentasikan organisasinya ketika bekerja dan bukan negara asalnya. Bekerja di organisasi internasional berarti ia telah menjadi pegawai sipil internasional, sehingga kewarganegaraannya bukan hanya dari negara asalnya, tetapi dengan kewarganegaraan internasional. Walaupun WNI yang bekerja di organisasi internasional diharapkan netral, tetapi Indonesia tetap mendapatkan keuntungan, misalnya berbagi info tentang organisasi internasional tempat ia bekerja dengan Indonesia atau meningkatkan representasi Indonesia di organisasi internasional.

Untuk bekerja di organisasi internasional, dapat dari jurusan dan latar belakang mana saja, asal ditunjang kompetensi yang mumpuni. Joyce Sinaga, salah satu pembicara di sosialisasi dari UNDP bercerita bahwa beliau berlatar belakang pendidikan ilmu kedokteran dan sebelum bekerja di UNDP beliau bekerja di Human Resources sebuah rumah sakit.

Di PBB sendiri ada beberapa program untuk yang ingin mencari kerja di organisasi internasional. Salah satunya ialah Young Professional Programme (YPP) yang bahkan fresh graduate boleh mendaftar. YPP berorientasi pada lapangan profesional, sehingga salah satu persyaratannya ialah pendaftar harus dari jurusan yang relevan dengan area ujian yang ditawarkan. Selain itu ada juga UN Volunteer Programme untuk mereka yang ingin bekerja sebagai relawan di PBB. Walaupun berstatus relawan, relawan PBB tetap mendapatkan perlakuan yang sepatutnya melalui berbagai macam uang saku yang nilainya sekompetitif gaji-gaji pegawai. Untuk mahasiswa, ada juga UNDP Internship Programme bagi yang ingin magang di UNDP.

Persaingan untuk bekerja di organisasi internasional cukup ketat, sehingga membutuhkan persiapan yang matang. CV harus mulai dibuat secepat mungkin dan seakurat mungkin. Dalam proses rekrutmen organisasi internasional contohnya UNDP memiliki prinsip objektivitas, di mana pengalaman bekerja dan kompetensi sangat penting. Rekrutmen di organisasi internasional juga sudah mulai pindah melalui internet serta kebanyakan tidak memungut biaya. Sehingga calon pelamar kerja di organisasi internasional harus jeli dan mewaspadai penipuan.

Sosialisasi Kemenlu diikuti dengan antusias, ditandai dengan bersemangatnya para peserta ketika bertanya kepada para pemateri di sesi tanya-jawab. Selain sesi tanya-jawab, juga ada sesi kuis dan enam penjawab kuis menerima goodie bag dari UNDP. (QIL)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar