Gerakan Literasi Jalan Menuju Bangsa Berpribadi dan Berdikari

Sumber gambar: dokumentasi Rumah Baca Komunitas

Oleh: Hanapi Wardhana - Pegiat Rumah Baca Komunitas dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Thomas V Bahtolin mengatakan tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu dan seluruhnya dirundung kegelapan.

Kebijakan pemerintah terus berganti dalam ranah segala bidang kehidupan, demokrasi sebagai keniscayaan belumlah mendatangkan jalan kebahagiaan untuk masyarakat luas yang beragam. Di daerah-daerah pertarungan kekuasaan politik demi mendapatkan sebuah mahkota yang gelarnya tiada tara rela para penjabat dan politis menghabiskan uang demi kepentingan sendiri dan golongan walaupun tidak menutup kemungkinan ada beberapa kota melahirkan pemimpin pembaharuan. 

Biaya-biaya politik yang mahal tidak pernah terbesit dalam pemikiran seluruh penjabat kita untuk membangun setiap perpustakaan paling besar di setiap kabupaten atau kota demi membawa bangsa ini menuju cita-cita konstitusinya. Kenapa harus membangun perpustakaan yang lengkap dan terpadu? Bangsa yang maju kaya akan generasi yang cinta ilmu, generasi yang melakukan inovasi, cerdas, tanggap, tahu perbedaan mana yang baik dan buruk secara jelih. Narkoba yang menghantui kita hari ini karena lemahnya daya tahan generasi muda kita untuk menghadapi pengaruh dari luar apalagi identitas produksi film-film nasional kita telah jauh hilang dari pusaran dan percaturan perfilman dunia yang membawa identitas budaya mereka. 

Gerakan literasi merupakan jalan yang cerah sekaligus menggembirakan untuk mewujudkan negara atau bangsa yang berdaulat. Dengan jalan ini kepribadian bangsa bisa dibangun dan kemandirian bisa tercipta. Selama ini kita hanya menjadi bangsa konsumtif karena tidak punya pemikiran yang maju untuk bangkit ditambah dengan pemerintah yang sibuk mencari kesenangan sendiri, maka jadilah generasi muda korban penguasa yang tidak memikirkan masa depan. Beberapa akhir ini bergulir isu bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kita akan mendirikan perpustakaan terbesar di lingkungan Gedungnya DPR karena hasil studi bandingnya.

isu kebijakan ini mendapat kritikan dari berbagai lapisan masyarakat yang menolak pembangunan perpustakaan terpusat dan terbesar di gedung DPR Republik ini. Melihat pola kebijakan dan pemikiran lembaga perwakilan rakyat ini menunjukkan wawasan kebangsaannya tentang Indonesia sangatlah minim apalagi kalau diukur nasionalismenya karena tidak memikirkan dan memedulikan anak-anak di perdesaan yang jauh dari akses buku. Agus Pramono mengatakan elite politik harus memiliki wawasan kebangsaan seperti memahami Pancasila, Undang-undang Dasar 1945 dan masalah yang kekinian. 

Membaca buku adalah hak semua orang maka seharusnya tidak ada lagi generasi yang tidak dapat membaca buku. Kelangkaan membaca dan keterbatasan akses terhadap buku darus ditiadakan, karena buku adalah milik publik. 

Republik ini kaya akan segala hal mulai dari sumber daya alam yang berlimpah. Jika mengambil ahli pengelolaan PT. Freeport, maka bangsa ini bisa bangkit dengan cepat. Kalau uang itu digunakan untuk membangun sumber daya manusia yang berpribadi cendekiawan demi Indonesia yang berdikari bukan Indonesia yang terjebak korupsi besar yang membunuh rakyat kecil di pelosok negeri. 

Rezim Jokowi ini dengan semangat Marhaenismenya seharusnya secara jelas berpihak pada jalan literasi karena rezim ini berasal dari sebuah tokoh besar yakni: bapak bangsa republik ini Bung Karno yang memiliki spirit literasi yang sangat kuat.

Selain dari segi ketokohan bangsa ini menyimpan kekuatan dahsyat yang belum muncul ke permukaan ini patut disayangkan karena yang kelihatan selama ini kebodohan dilakukan oleh penguasa, agama yang beraneka ragam di Indonesia bisa menjadi kekuatan membangun spirit literasi karena setiap agama menginginkan umatnya menuju surga kebahagiaan maka kalau ingin menuju surga itu literasilah jalannya. Fauzan Anwar Sandiah mengatakan ada beberapa perkara literasi yaitu: pertama, membaca buku beserta maknanya bagi kemanusian; kedua, selesai Tahajud mengerjakan tulisan; ketiga, berkumpul dengan pegiat literasi tanpa henti; keempat, perbanyaklah puasa supaya ada pendanaan beli buku bagus. Perkara literasi ini bisa diamalkan oleh setiap umat manusia demi menciptakan bangsa yang berpribadian cendekiawan. 

Bangsa yang memiliki berkepribadian ialah bangsa yang memiliki identitas kultural, intelektual, serta moral yang kuat sehingga perbedaan kita secara identitas jelas dengan bangsa lain di tengah arus globalisasi yang mengancam hilangnya kepribadian bangsa Indonesia. Menurut penulis ada empat doktrin literasi yang dibutuhkan untuk membangun umat literasi di antaranya: pertama, jalan pencerahan jalan kebahagiaan umat di masa sekarang dan mendatang maka jalan ini harus menjadi kebijakan pemerintah di seluruh Indonesia; kedua, dibutuhkan peran kaum ulama melalui khotbah di tiap tempat untuk mengembalikan semangat iqra semua kalangan agar bangsa ini tidak masuk dalam kriteria nol baca; ketiga, gerakan generasi muda apalagi gerakan sosial mahasiswa kembalilah kepada perjuangan masyarakat jangan terjebak pada politik rendahan, saatnya perjuangan literasi digalakkan dalam agenda-agenda gerakan sosial karena bangsa ini sudah sekarat karena politisi banyak menyumbang malapetaka; keempat, umat beragama di Indonesia bersatulah bangun budaya literasi karena kita tidak bisa mengandalkan pemerintah yang tak serius memperbaiki pendidikan untuk generasi muda.

Jalan literasi ini ialah jalan kemaslahatan yang sangat besar, jalan perjuangan yang harus dilakukan oleh siapa pun demi mencapai cita-cita Republik Indonesia sesungguhnya, menjadi bangsa yang berpribadi dan berdikari serta selalu aktif untuk perdamaian dunia internasional.

Semoga mencerahkan dan membebaskan.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar