Di Mana Lagu Anak Berada?



sumber gambar : onedeadline.blogspot.com

Oleh: Tyas Titi Kinapti




Apakah anda masih ingat dengan lagu “Anak Gembala yang dinyanyikan oleh Tasya?  Atau lagu “Diobok-obok” yang dinyanyikan Joshua semasa kecilnya? Lagu tersebut populer di masa 90-an, namun saat ini sudah jarang terdengar di telinga kita lagu-lagu anak dengan cerita tentang anak-anak dan keceriaannya. Lantas ke mana lagu anak-anak yang dulu? Lagu anak-anak kini pun sudah berangsur menghilang gaungnya. 

Dalam hal hilangnya lagu anak, media memegang peranan penting karena saat ini tayangan televisi untuk anak-anak dengan nuansa anak-anak jarang kita temui. Beberapa acara musik lebih diperuntukkan remaja, seperti Inbox dan Dahsyat ditayangkan setiap pagi di salah stasiun televisi swasta. Meskipun terdapat tayangan pencarian bakat untuk anak-anak, seperti Idola Cilik, namun lagu yang dinyanyikan bukanlah untuk anak-anak. Mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang bertema cinta. Ketika jam tayang acara tersebut berlangsung, stasiun televisi tidak menyadari bahwa anak-anaklah yang banyak menonton TV. Sayangnya stasiun TV tetap mempertahankan acara tersebut karena rating  yang tinggi. Rating yang tinggi menunjukkan acara tersebut banyak diminati oleh masyarakat dan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Munculnya boyband, girlband, dan band  baru merupakan salah satu faktor hilangnya lagu anak. Bahkan boyband maupun girlband tersebut tak jarang personilnya masih anak-anak dan mereka menyanyikan lagu yang bertema tentang  hubungan sepasang kekasih. Lagu tersebut tidak sesuai dengan usia mereka yang berkisar 5 sampai 12 tahun, contohnya seperti lagu “Eaaaa” dari Coboy Junior. Lagu-lagu tersebut akan mempengaruhi psikologis anak, membuat anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Contoh kasus ketika seorang anak menonton tayangan video klip lagu orang dewasa yang ditayangkan di TV yang secara umum terdapat adegan seksual seperti memeluk lawan jenis, bercumbu, dan sebagainya yang dapat memungkinkan anak akan meniru. Seorang anak apabila diibaratkan seperti sebuah kaset kosong, apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat akan mereka tiru. Tayangan video klip lagu dengan adegan nuansa cinta yang diputar secara  berulang-ulang  dapat mempengaruhi anak yang menonton, dengan tidak sadar anak akan mampu menghafal lagu-lagu orang dewasa dan mengingat adegan tayangan di TV.  Ironisnya, saat ini banyak anak yang  tidak mengerti lagu anak dan tidak dapat menyanyikan lagu anak.

Lagu orang dewasa sangat berbeda dengan lagu anak, lagu anak biasanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,  seperti tema sekolah, persahabatan, orang tua atau mengenai ajakan kepada anak dalam hal kebaikan.  Contohnya dalam lagu Kasih Ibu, lirik lagu tersebut  mudah dihafal, ringan, dan menceritakan bagaimana kasih sayang ibu kepada buah hatinya. Berbeda dengan lagu dewasa, lagu dewasa bermakna dalam dan umumnya bertema tentang percintaan, seperti galau, patah hati, dan lain sebagainya.

Selain faktor media televisi yang menyebabkan hilangnya lagu anak, kurangnya pencipta lagu (musisi) dengan tema anak-anak juga menjadi salah satu faktor hilangnya lagu anak.  Para musisi merasa lagu anak kurang memberi profit, mereka menganggap bahwa lagu dewasa lebih menjanjikan laba yang lebih besar dibandingkan memproduksi lagu anak.  Tanah air kita rindu akan sosok AT Mahmud, Ibu Sud yang semasa hidupnya menciptakan lagu anak. 

Musik sangatlah penting bagi pertumbuhan anak karena dengan musik, otak kanan dan otak kiri dapat berjalan seimbang. Dengan mendengarkan musik yang ceria, dapat mengurangi stres atau ketegangan. Selain itu media musik juga merupakan sarana yang tepat bagi proses pembelajaran. Karena proses pembelajaran dengan musik lebih mudah dihafal dan dipraktikkan serta menyenangkan.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengingatkan kembali anak-anak ke jamannya dengan nuansa dan tema anak-anak.  Orang tua memegang peranan penting dalam mengembalikan lagu anak yang hilang, yaitu dengan cara menjadi sahabat anak, mengajarkan lagu anak-anak sejak dini, mendampingi anak ketika sedang menonton acara televisi, menegur anak jika anak menyanyikan lagu yang tidak sesuai dengan umurnya atau orang tua dengan anak membuat lagu sendiri sesuai dengan kreativitasnya, dan lain sebagainya. 


Para musisi juga sebaiknya ikut serta, cobalah untuk membuat lagu anak-anak walaupun tidak mendapatkan keuntungan yang besar. Setidaknya satu lagu anak bisa menyelamatkan 10 perkembangan psikologis anak, tidak perlu sampai hingga proses perekaman, cukup di upload dalam youtube dan dipromosikan lagu tersebut. Selain para musisi dan orang tua, media merupakan peranan yang penting dalam mengembalikan lagu anak, karena dengan medialah lagu anak dapat terekspos kembali. Sebaiknya media televisi lebih memperbanyak acara khusus untuk anak-anak yang bersifat edukatif atau acara adu bakat menyanyi khusus anak namun dalam adu bakat tersebut anak-anak dituntut untuk menyanyikan lagu yang sesuai dengan umurnya.



Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar