Bincang Sore dengan Eka Kurniawan


“Pertama terkejut, kedua senang,” ujar Eka Kurniawan ketika ditanyai mengenai kesannya mendapatkan nominasi Man Booker Prize. Eka menceritakan kesan dan pengalamannya sebagai penulis pada acara bercakap-cakap yang diadakan di Radio Buku, Sewon, Bantul, Yogyakarta pada pada Rabu sore (27/4). Dimoderatori oleh Bernard Batubara, acara bercakap-cakap bertema “Aku, Buku, Pembaca” merupakan salah satu agenda dari serangkaikan pergelaran Kata Rupa Festival di Selatan yang dihelat oleh Radio Buku. Acara bercakap-cakap ini cukup ramai dihadiri oleh berbagai peserta, serta diikuti dengan pertanyaan dari peserta yang antusias.


Salah satu hal yang diceritakan oleh Eka Kurniawan dalam acara bercakap-cakap ialah pengalamannya sebagai penulis yang karyanya telah diterjemahkan ke bahasa asing. “Sebagian besar penulis tidak tahu pintu-pintu,” jelas Eka mengenai peluang penulis-penulis Indonesia agar karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Penulis juga harus berperan aktif jika ingin karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. 

Menurut Eka sendiri, menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Indonesia lebih penting daripada sebaliknya. Dengan begitu, orang Indonesia dapat menikmati karya yang bagus serta ke depannya dapat memproduksi karya yang bagus juga. Jika ada karya sastra Indonesia yang bagus, maka karya sastra Indonesia akan dilirik untuk diterjemahkan ke bahasa asing. Menulis dianalogikan sebagai memasak, kita dapat memasak apa saja yang kita mau, tetapi apakah sasaran yang ditujukan perlu dan akan menyukai masakan kita?

Salah satu pertanyaan yang diajukan Bernard Batubara selaku moderator ialah bagaimana ekspektasi khusus Eka Kurniawan ketika karyanya mencapai tingkat luar negeri. Eka sendiri mengaku tidak tahu begitu banyak dikarenakan industri buku di tiap negara cukup berbeda dan unik, termasuk di Indonesia. Terjemahan buku ke dalam bahasa Inggris juga belum menjamin buku tersebut akan mencapai mancanegara, karena tiap penerbit memiliki pangsa pasar tersendiri. Karya Eka Kurniawan yang diterjemahkan ke bahasa asing sendiri melalui penerbit yang pangsa pasarnya tidak begitu besar, tetapi memiliki pangsa pasar khusus, yakni penikmat sastra.

Di dalam acara bercakap-cakap juga didiskusikan mengenai novel terbaru Eka Kurniawan, “O”. Eka Kurniawan mengakui bahwa salah satu inspirasi novel O adalah Hikayat 1001 Malam. Dalam proses penulisan O sendiri, seperti gaya menulis Eka Kurniawan secara keseluruhan ialah menulis bebas yang mengalir, tanpa outline, yang setelahnya tetap diikuti dengan penulisan ulang dan penyelesaian draf tulisan. Melalui novel O Eka Kurniawan juga menerapkan pengalamannya menulis naskah untuk TV di karya-karyanya dalam bentuk lain yakni novel.

Di penghujung acara bercakap-cakap salah seorang hadirin bertanya kesan Eka Kurniawan ketika ada mahasiswa yang menjadikan karyanya sebagai topik skripsi. Eka berkata menemukan tulisannya silakan dikutip untuk karya akademik, dan jika belum cukup atau ada yang Eka belum pernah dibahas di tulisannya silakan hubungi saja. Eka agak kesal jika ada mahasiswa berskripsi yang langsung bertanya ini-itu ke Eka, apalagi jika berkaitan dengan skripsi mahasiswa tersebut. “Yang skripsi siapa, yang mikir siapa,” tandasnya.

Yogyakarta sendiri memiliki kesan tersendiri bagi Eka Kurniawan sebagai penulis. Di Yogyakartalah Eka mengaku mulai mengenal sastra, didukung dengan adanya perpustakaan, toko buku, dan teman di Yogyakarta. Rekan kerja Eka sendiri mengatakan bahwa Eka anak Yogya, walau berasal dari Tasikmalaya dan telah bekerja di Jakarta. (QIL)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar