Berjuang Dalam Sebuah Dua Sisi Mata Uang

Sumber gambar: www.itgarla.com

Apa kabar perempuan Indonesia? Semoga ibu pertiwi tetap selalu bangga dengan segala kiprahmu di Bumi Khatulistiwa dengan segala bentuk nikmat Allah SWT yang tidak jarang kita dustakan. Ibu pertiwi senantiasa berbangga dengan segala perjuangan perempuan Indonesia sebut saja di era penjajahan yang sejarahnya tak akan terkikis oleh ruang dan waktu. Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, dan pejuang perempuan lainnya yang sudah tidak diragukan lagi kontribusinya untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia bersama para lelaki hebat yang saat ini jasanya selalu membayangi generasi penerusnya. Entah akan diteruskan perjuangan beliau-beliau ini atau bahkan semangat perjuangannya menguap bersamaan perubahan sistem peradaban manusia. Perlu kita akui bahwa semangat kaum perempuan saat ini condong pada sebuah kemewahan yang tak ubahnya sebagai simbol sebuah keanggunan.

Perbedaan era menjadi alasan kaum perempuan dewasa ini untuk sedikit demi sedikit menghilangkan arus perjuangan pendahulunya, wakil khusus beliau-beliau pejuang perempuan. Abad ke-21 yang disebut sebagai era ledakan teknologi telah sukses mengubah sendi-sendi kehidupan. Khususnya sendi kehidupan yang menyangkut kaum perempuan. Mulai dari lunturnya budaya patriarki, kesetaraan gender yang lari dari kodratinya, eksploitasi anugerah yang Tuhan karuniakan, sampai kedok kader karbitan sebuah pergerakan politik bermunculan . Memang kita tidak dapat menyamakan keadaan masa perjuangan melawan penjajah yang mana senapan api sebagai senjata dengan perjuangan saat ini yang entah siapa yang dijajah dan menjajah. Cukup rumit jika harus dijelaskan satu per satu. Tapi ini perlu untuk kita bahas sahabat-sahabatku perempuan masa kini. Tujuannya bukan karena embel-embel kepentingan, saran saya tarik nafas perlahan dan legowo sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Tanpa panjang lebar dan mengurangi rasa hormat saya, kita perempuan Indonesia sebelum ibu pertiwi dan R.A Kartini dkk. semakin bersedih dan galau melihat penerusnya kita patut untuk merenung sejenak. Pertama, adanya perlawanan kaum perempuan saat masa penjajahan memang sudah meruntuhkan budaya patriarki. Budaya patriarki menuntut perempuan untuk selalu di bawah laki-laki. Memang budaya seperti ini tidak relevan jika diterapkan di era saat ini ketika dihadapkan dengan gempuran di bidang Poleksosbudhankam. Era sekarang ini bagi kalian yang bercita-cita mulia meneruskan cita-cita pendahulunya dituntut mobilitas yang tinggi dengan membawa niat yang tulus untuk kemaslahatan umat. Kedua, kesetaraan gender yang lari dari kodratinya merupakan sebuah aktivitas yang dijalankan para kaum perempuan yang mengaku “berkarier untuk membantu keluarga” yang kemudian lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang wanita. Alhasil kewajibannya sebagai perempuan tidak ditunaikan. Apakah sahabat perempuan masa kini berkeinginan memiliki karier yang segudang? Bebas saja si namun tetaplah dalam koridor kodratmu sebagai perempuan agar ibu pertiwi selalu berbangga dengan karya yang kalian torehkan.

Poin eksploitasi anugerah yang dikaruniakan pada sosok perempuan mengarah pada keindahan yang dipertontonkan, bahkan saat ini televisi swasta berlomba-lomba menyajikan ajang kontes kecantikan. Memang di dalam kontes tersebut bukan saja keindahan ragawi yang dikedepankan, tetapi keindahan ragawi yang diblow-up sesering mungkin. Lalu di mana letak keindahan jika karunia Tuhan diumbar sana-sini. Hal demikian akan memunculkan sebuah stigma “perempuan” yang mana perempuan cantik adalah perempuan yang kurus, langsing, indah dipandang. Hingga memunculkan anekdot ejaan C.A.N.T.I.K. itu K.U.R.U.S. Mahasiswi pun tergiur untuk berbondong-bondong pergi ke salon kecantikan. Yang terpenting adalah gincu (lipstik) dan pupur (bedak) menjadi senapannya sekarang ini. Sahabatku perempuan masa kini, mbok yo larinya ke gerakan yang banyak faedahnya.

Sudut pandang sebenarnya pada sahabat perempuan masa kini yang mencoba lari bersama pergerakan ataupun komunitas yang katanya peduli akan nasib sebuah bangsanya namun terkesan memaksakan bisa dibilang sebagai kader karbitan. Maaf sahabat perempuan masa kini, bukan bermaksud menyinggung, namun demi kebaikanmu dan menghentikan derai air mata dan nelongso berkelanjutan pendahulu, jadilah seorang kader pemimpin wanita yang militan dan mengilhami esensi organisasi/komunitas pergerakanmu. Yaps, pada dasarnya memang tidak ada yang salah dari seorang pemimpin perempuan. Jikalau sanggup dan kuat untuk menghimpun gerakan, lakukanlah!. Masih ingatkan pada tragedi 65 dan 98. Sampai kapan pun mereka tidak menerima jika kader bawahnya loyo dalam mobilisasi massa. Parahnya ketika seorang pemimpin wanita labil menentukan posisinya dalam lingkungan keluarganya sendiri, kos, bahkan perkuliahan. 

Kader karbitan hanya penilaian subjektif saya saja kok, tenang bagi kalian yang merasa bukan sekedar karbitan pasti akan menghilang bersamaan waktu. Nah itulah pembeda antara kader yang militan dan karbitan. Tidak ada salahnya bagi kalian sahabatku untuk merancang kader yang tidak hanya karbitan. Tri Risma Hardiyani dapat menjadi contoh kader yang militan dan bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang menyangkut kebijakannya. Nah loh sudah bagi kalian yang karbitan, mengundurkan diri bukanlah solusi. Saat sekarang bangun fondasi yang kuat untuk tetap berjuang. Malu dong, masa Ibu Pertiwi menderaskan air matanya.

Hemat saya refleksi sebuah perjuangan adalah bagaimana kader dapat meneruskan perjuangan bukan pemutusan rantai yang telah kokoh dibangun.

Selamat berjuang sahabat-sahabatku, raihlah segala perjuangan itu dengan halalan toyiban.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar