Apakah Televisi Sebuah Media Massa?


Oleh: Rofia Ismania

“Media dapat memberi dampak amat buruk terhadap keluarga ketika ia menawarkan visi yang tak layak dan bahkan terdistorsi atas hidup, keluarga, agama, dan moralitas.” Paus John Paul I

Teror media televisi saat ini merupakan sebuah permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Terutama masyarakat yang hanya menganggap media sebagai alat hiburan saja. Dengan adanya televisi masyarakat disuguhkan oleh tayangan-tayangan yang mematikan pikiran mereka. Memang, televisi menjadi salah satu hiburan di waktu senggang, tapi apa yang mereka dapatkan dengan adanya tayangan-tayangan televisi tersebut? Apakah sebuah pengetahuan baru? Atau bahkan tayangan-tayangan yang tidak ada bobotnya sama sekali? Memang persoalan itu yang menjadi salah satu yang disoroti. Hal itu dikarenakan, kurang adanya sumber daya manusia dan daya kreativitas pekerja media. Karena itulah media televisi menjadi salah satu budaya popular.

Penyeragaman tayangan televisi menjadi tren dari budaya popular. Di mana pola penayangan yang mengeksploitasi mode dan kesukaan masyarakat. Stasiun televisi berlomba-lomba akan hasrat dan selera dari masyarakat. Hasrat untuk meraih rating dan keuntungan semata dari para pengiklan, kemudian mengabaikan tayangan televisi yang berkualitas. Penyeragaman tersebut bisa dilihat dari tayangan reality show, sinetron religi, kuis dan game show, infotainment, komedi, dan lainnya. Mayoritas tayangan tersebut ditonton oleh masyarakat non literasi. Di mana mereka akan menjadikan media televisi sebagai rujukan, sumber referensi atau bahkan sumber inspirasi serta motivasi (Sunardian, 2005 : 148). Maka dari itu teror media memiliki dampak yang buruk bagi masyarakat, yaitu mematikan logika penonton dan menerima tayangan televisi.

Apakah Televisi, Media Massa?

Media semestinya tidak hanya mementingkan modal saja, tetapi juga kepentingan moral masyarakat. Agar masyarakat menjadi rakyat yang terdidik, dan televisi sebagai media yang semestinya mendidik bukan malah membidik. Membidik masyarakat dari kalangan-kalangan yang buta akan apa yang ditayangkan televisi. Dan hanya sekedar melihat, dan menelannya mentah-mentah. Maka dari itu perlu adanya literasi terhadap masyarakat non literasi. Dalam hal ini, dari kalangan mahasiswa maupun pemerintah berperan aktif dalam literasi media televisi. Televisi sebagai salah satu media massa, tapi pada kenyataannya televisi bukanlah media massa. Televisi hanya sebagai media kepentingan para pemilik modal. Semestinya, jika televisi sebagai media massa, televisi lebih mengutamakan kepentingan rakyat, demi massa depan yang lebih baik dan manusia-manusia dengan pandangan yang baru. Kata filsuf Erick Fromm dalam Sunardian (2005) bahwa satu dunia baru akan terwujud jika muncul manusia baru. Di mana manusia baru ialah manusia yang mencintai negaranya karena ia mencintai umat manusia. Manusia yang mencintai kehidupan, bukan hanya mencintai dirinya sendiri.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar