Aksara Nusantara dan Eksistensinya


Penulis: Elsi Yuliyanti

Ketika kita memutuskan untuk berkomunikasi, kita akan selalu terikat dengan proses menyimbolkan makna dalam pesan yang akan kita sampaikan, baik dalam bentuk bunyi maupun tulisan. Berbicara akan selalu membutuhkan bahasa, dan menulis dituangkan menjadi aksara. Kita tidak akan pernah mampu menyampaikan gagasan atau emosi dengan tepat tanpa simbol-simbol tersebut, sekalipun kita bisa menggunakan ekspresi non-verbal.

Sebagai bangsa yang dikenal kaya raya akan kebudayaan, sudah barang tentu Indonesia tidak kekurangan keragaman bahasa. Pada 2012, sekitar 546 bahasa tercatat digunakan oleh penduduk kita dari Sumatera hingga pelosok Indonesia bagian timur sana. Kita patut berbangga menjadi generasi yang mewarisi keragaman bahasa tersebut, terlebih lagi, kalau kita menjadi bagian generasi yang tahu, bahwa Indonesia juga kaya akan aksara-aksara nusantara.

Dalam sejarahnya, aksara-aksara nusantara tersebut mengalami banyak perkembangan. Kita akan menemukan aksara Pallawa, Siddhamatrka, dan aksara Kawi atau Jawa Kuno berasal dari zaman klasik. Menuju zaman pertengahan, maka kita akan tahu kemunculan aksara Buda, Sunda Kuna, dan aksara Proto-Sumatera. Zaman Kolonial adalah masa aksara-aksara nusantara kian beragam, termasuk di antaranya aksara Batak, Rencong atau Kerinci, Lampung, Jawa Baru atau Hanacaraka, Bali, Lontara, Baybayin, Buhid, dan aksara Tagbanwa. Sedangkan di zaman modern ini, aksara Sunda Baku menjadi entah salah satu atau menjadi satu-satunya yang dicatat sejarah.

Namun sayang, pada realitasnya tidak banyak orang-orang yang tahu bagaimana bentuk, cara penulisan, maupun proses membaca aksara-aksara nusantara tersebut. Bahkan penduduk asli yang berasal dari tempat di mana aksara tersebut muncul, yang mungkin beberapa daerah di antaranya memasukkan materi mengenai aksara daerah ke dalam kurikulum pembelajaran, kita akan tahu bahwa tidak banyak yang mau repot-repot merekam bagaimana aksara tersebut harus ditulis.

Ketidaktahuan itu semakin ditindih dengan penggunaan seratus persen aksara Latin. Akibatnya bukan hanya aksara-aksara nusantara tersebut menjadi semakin tidak dikenal, melainkan juga membuatnya kehilangan tempat. Masyarakat juga rupanya sudah merasa tercukupi dengan menemukan aksara-aksara itu digunakan hanya untuk menuliskan nama sebuah jalan, toh mereka tidak memiliki jawaban bilamana mereka menanyakan apakah harus aksara tersebut diaplikasikan, apakah penting untuk melakukannya, dan di mana sekiranya mereka bisa mengaplikasikannya.

Di sisi lain, pesatnya teknologi informasi menyuguhkan kita sudut pandang lain, bahwa untuk mengikuti perkembangan zaman, kita tidak semestinya melupakan akar kebudayaan kita sendiri, salah satunya mengenai aksara. Jepang saja seiring dengan kemajuan negaranya, tidak lantas mengganti penggunaan aksara Kanji dengan aksara Latin. Begitu pun Korea yang masih mempertahankan aksara Hangeulnya, China dengan aksara Han Zi atau Mandarinnya, Thailand yang khas dengan aksara Thainya.

Pertanyaan lain yang muncul, bisakah salah satu aksara nusantara yang bangsa Indonesia miliki itu dijadikan aksara nasional? Maka serta merta pertanyaan tersebut langsung terjawab, bahwa riskan membawa-bawa SARA untuk mempersatukan negara. Aksara adalah hasil kebudayaan dari sebuah suku. Ketika kita mengambil satu dari sekian banyak, maka akan menimbulkan kecemburuan lain. Itulah Indonesia; ketika banyak dibiarkan, ketika berpusat pada satu akan diperdebatkan. Seperti kalimat yang pernah dilontarkan seorang teman, “Apa gunanya bahasa Indonesia ada jika nasionalisasi aksara akan menimbulkan perpecahan. Biar bangsa kita bersatu karena kesamaan bahasa. Mengenai aksara, cukup kembali pada kesadaran masing-masing.”

Kendati begitu, sebagai bangsa yang beruntung telah diwarisi keragaman aksara nusantara tersebut, sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus memaksimalkan segala daya dan upaya untuk mempertahankan agar hasil kebudayaan luhur tersebut tidak hilang sama sekali. Kita bisa memulainya dengan bercermin pada tempat asal kita, menggali apakah daerah kita memiliki aksaranya sendiri atau tidak, lalu mulai mempelajari bentuk demi bentuk dan proses pembacaan makna dari bentuk-bentuk tersebut. Kalaupun daerah kita bukan tempat salah satu aksara nusantara muncul, kita bisa mempelajari aksara dari daerah lainnya, selayaknya alasan kenapa bangsa Indonesia harus mempelajari Bahasa Inggris.

Di sini, aksara bukan semata berfungsi untuk melakukan komunikasi. Melainkan juga sebagai cerminan bahwa Indonesia memiliki nenek moyang yang berbudaya. Kebudayaan dihasilkan dari peradaban yang cerdas dan tinggi, dan bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempertahankan kebudayaannya dengan cara beradab.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar