Resiko Remaja Tanpa Pendidikan Kespro

sumber gambar : http//www.liputan6.com
Masa remaja merupakan masa transisi yang unik dengan ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Usia remaja menurut WHO yaitu 10 – 24 tahun. Remaja yang sedang mencari identitas diri sangat mudah menerima informasi dunia berkaitan dengan masalah fungsi alat reproduksinya tanpa mencari tahu akan kebenarannya, sehingga berpeluang ke arah pelaksanaan hubungan seksual yang semakin tidak aman. Dalam melakukan hubungan seksual, sebagian besar remaja tidak terlindungi dari dua hal kemungkinan yang dapat terjadi yaitu kehamilan yang tidak diinginkan,dan penyakit menular seksual. Masalah tersebut nyata memberikan dampak yang merugikan remaja dalam menghadapi masa depan yang lebih baik.


Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab, maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. Kehamilan remaja, disebabkan kurangnya pemahaman terhadap kesehatan reproduksi secara komprehensif serta mitos seksualitas masih berkembang di remaja kita. Idealnya, kehamilan terjadi karena memang diharapkan oleh pasangan. Pada kenyataanya, kehamilan dapat terjadi di luar rencana dan harapan perempuan remaja, salah satu di antaranya kehamilan diluar nikah. 


Mayoritas remaja melakukan hubungan seks pra nikah karena :

  • Kesehatan reproduksi masih dianggap tabu

Membicarakan tentang kesehatan reproduksi ini masih dianggap tabu di Indonesia,  sebagian besar masyarakat berpendapat jika pendidikan kesehatan reproduksi ini diberikan maka sama halnya dengan mengajari remaja untuk berperilaku yang berbau seksual. Hal – hal itulah yang membuat remaja menjadi sungkan bahkan takut menanyakan sesuatu yang berhubungan kesehatan reproduksi kepada guru bahkan orang tua mereka. Padahal informasi kesehatan reproduksi ini penting untuk remaja, agar remaja tahu apa itu kesehatan reproduksi, apa guna alat reproduksi, serta resiko – resikonya.

  • Layanan kesehatan yang tidak ramah remaja

Pada tahun 2012, PKBI DIY bekerja sama dengan Youth Forum Kulon Progo mengadakan survei kebutuhan pendidikan kesehatan reproduksi di Kulon Progo. Jumlah respondennya sebanyak 258 siswa. Terdapat 64,7% teman sebayanya mengalami KTD. Hasil survei di atas menunjukan bahwa permasalahan mayoritas remaja adalah KTD. Data dari layanan konseling KTD PKBI menunjukkan, pada tahun 2011 remaja melakukan konseling KTD di klinik PKBI sebanyak 296 orang. Adanya kasus dan fakta hasil survei pada remaja, seharusnya menjadi refleksi dalam pemenuhan hak bagi remaja. Hak mendapatkan informasi tentang hidup sehat dan kesehatan reproduksi serta layanan yang bisa diakses remaja dalam rangka pencegahan juga menyelesaikan permasalahan remaja. (Embrio, 2013:4)

  • Tidak ada pemenuhan hak reproduksi dan seksual remaja

Tidak ada pemenuhan hak ini, membuat remaja rentan dengan dirinya sendiri. Remaja lebih cenderung mencari informasi melalui jejaring internet seperti google, yahoo, dan blog. Padahal kita semua tahu bahwa informasi dari jejaring internet tersebut kurang memadahi dan sumbernya tidak jelas serta tidak dapat dipertanggung jawabkan.

  • Remaja masih mempercayai mitos

Banyak sekali remaja yang masih mempercayai mitos mitos yang tidak masuk akal, misalnya ‘melakukan hubungan seks pertama kali tidak akan menyebabkan kehamilan’. Faktanya kita tahu bahwa melakukan hubungan seks baik pertama maupun kedua kalinya jika perempuan dalam ‘masa subur’ dapat dipastikan hamil. Contoh mitos yang lainnya, ‘loncat loncat setelah melakukan hubungan seks tidak akan menyebabkan hamil’. Faktanya loncat – loncat setelah melakukan hubungan seks jelas tidak akan menyebabkan kegagalan fertilisasi.


Kalangan yang terkait kebijakan di bidang kesehatan harus menaruh perhatian pada besarnya masalah unwanted pregnancy dengan melakukan upaya nyata untuk melakukan pengendalian status dan masalah reproduksi remaja. Keluarga harus diberi pengertian bahwa ada lembaga-lembaga yang mau menerima dan membantu para perempuan (terutama kasus kehamilan remaja) selama mereka hamil dan melahirkan. Bagaimanapun usaha pencegahan adalah lebih baik. Peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi, pemenuhan hak kesehatan reproduksi bagi para perempuan, hak untuk mendapatkan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas yang komperehensif.


Seharusnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas secara komprehensif yang bijak di lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat mutlak diperlukan. Upaya konseling yang bermutu dan pembekalan metode serta materi konseling kepada petugas kesehatan dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan agar dapat dipilih sikap yang terbaik bila berhadapan dengan kasus unwanted pregnancy. (deer)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar