Permainan Takdir

 

Oleh: Anisa Cahyani

Vega terus memandang penuh kagum dengan apa yang dilihatnya kini. Ruas-ruas jari itu bergerak lincah mengikuti irama juga selaras dengan lagu aslinya. Setiap petikan nada mampu menembus perasaannya yang paling dalam sekalipun. Membuat sejuk dan membangkitkan ego yang selama ini terus terpendam.

“Hoi, kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan permainanku?”

Seseorang membuyarkan lamunannya yang masih berangan dapat sehebat itu dalam waktu dekat. Ah, tidak perlu hebat. Bisa saja sudah menjadi anugerah yang tak ternilai.

Vega menggeleng seraya menjawab pertanyaan lelaki itu. “Enggak. Menurutku, penampilan kamu bagus banget, malah. Gak ada nada yang melenceng ataupun timing gak tepat. Semuanya pas sesuai ketukan.”

“Ah, kamu bisa saja." Apa ini perasaan Vega saja atau memang ia tersipu? “Di luar sana banyak yang lebih jago daripada aku.”

“Ternyata kamu rendah hati,” ujar Vega. “Apa sifat ini memang ada dalam dirimu atau hanya dibuat-buat hanya karena aku?”

Laki-laki bertubuh jangkung itu tertawa. “Ya, kalau aku memang narsis. Sayangnya aku tidak seperti itu,” ujarnya. “Jujur, aku tidak tahu. Bukankah kelebihan orang itu letaknya di belakang?”

Vega mengangguk. “Butuh seseorang untuk menyadarkan agar kita dapat melihat semua itu dan memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berguna. Dan aku telah menyadarkanmu tentang kelebihanmu itu.”

Ia menaikkan alis. “Kelebihanku?”

“Yap,” Vega mengangguk. “Kamu ditakdirkan memiliki kemampuan itu supaya kamu bisa menjadi lebih dari diri kamu yang sekarang. Itu sudah digariskan.”

“Digariskan? Takdir, maksudmu?” tanya lelaki itu bingung.

“Kamu akan menjadi gitaris terkenal dua tahun lagi. Asalkan kamu serius menggeluti bidang ini, hal itu pasti akan jadi kenyataan,” ucapnya mantap. 

“Dan saranku, berhentilah menjadi penampil café. Lebih baik kamu memainkan jiwamu di luar. Di jalanan. Di alam bebas. Bukankah kamu juga bosan kalau terus-terusan manggung di tempat seperti ini?”

Lelaki itu mengerutkan kening. “Aku memang bosan, tapi…bukankah pendapatannya lebih kecil?”

Vega tersenyum. “Justru di sana lah kamu akan bertemu dengan seseorang yang akan mengubah jalan hidupmu untuk selamanya. Jika kamu terus-terusan di sini, tidak ada yang akan melihat bakat luar biasamu itu. Selamanya bakatmu akan terkurung di jeruji besi ini.”

Dari sinar matanya, laki-laki bermata kayu itu menyiratkan keraguan akan semua perkataan perempuan yang baru ditemuinya saat ini. Ia yakin jika perempuan itu seumuran dengannya, namun entah mengapa ada sesuatu yang membuat dirinya berbeda dengan kebanyakan orang.

“Kamu…peramal?” tanyanya ragu-ragu.

Vega hanya terkekeh tanpa menjawabnya. Justru ia mengalihkan pembicaraan. “Kamu menyukai gitar, kan?”

Lelaki itu merenung. Sebuah senyuman tercetak di wajahnya. “Aku menyukainya. Lebih dari yang kau kira, malah. Awalnya karena hal sepele : ingin dianggap keren. Setelah bersentuhan langsung, entah mengapa…”

Ia membuat jeda. “Seakan jiwaku itu memang disana. Seakan semua ini bukan kebetulan. Aku mencintai gitar, apapun yang terjadi. Dan mungkin hal itu yang membawaku menuju café ini.”

“Dan karena itu juga kau bertemu denganku,” tambah Vega.

“Dan kau berkomentar bagus tentang penampilanku,” tambah lelaki itu. Mereka pun bersahutan.

“Dan aku memperlihatkan garis takdirmu kepadamu.”

“Dan aku yakin kamu pasti peramal.”

“Dan aku yakin kamu gitaris yang hebat.”

“Dan aku yakin kamu juga menyukai gitar.”

Vega terdiam. Ia tidak membalas sahutan lelaki itu. Pekat malam semakin membuatnya terhanyut. Dia pun tertawa getir. “Walau aku jatuh cinta sekalipun, aku tak akan bisa memainkan alat itu.”

“Kenapa?” tanya lelaki itu bingung.


Vega tersenyum nanar. “Karena aku bisa melihat takdirku sendiri. Dan aku memang tidak ditakdirkan untuk itu.” Vega bangkit dari kursinya lalu hendak pergi meninggalkan café.

“Tapi, bukankah takdir dapat diubah?” tanya laki-laki itu lagi dengan suara keras.

Tepat satu langkah menuju pintu keluar, Vega menghentikan langkahnya. Ia terdiam lalu menatap lelaki bermata kayu itu. Hanya dia seorang yang dengan lantangnya bersua seperti tadi.

Takdir.... Dapat diubah?

Vega tersenyum. “Semoga saja.”
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar