Perempuan Indonesia Semakin Berani, 321.752 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Dilaporkan pada 2015


Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) tahun 2016 ini kembali mengeluarkan Catatan Tahunan (Catahu) tentang kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2015. Dalam siaran persnya, tahun ini Komnas Perempuan menyoroti tentang peran negara yang harus hadir dalam penghapusan kekerasan pada perempuan. Komnas Perempuan tengah menyusun RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang saat ini telah masuk dalam prolegnas tambahan 2016. "RUU ini penting sekali untuk menjadi payung hukum bagi perempuan korban kekerasan seksual. Komnas Perempuan menemukan ada 15 jenis kekerasan seksual, yang oleh Negara melalui KUHP dan KUHAP baru mengakomodir tiga jenis saja, dan itu pun terbatas," kata Elwi Gito, Asisten Kampanye Divisi Partisipasi Masyarakat, Komnas Perempuan.

Menurut Catahu 2016 yang dirilis pada Senin (7/3), ada 321.752 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan. Jumlah tersebut bersumber dari laporan 359 Pengadilan Agama se-Indonesia sebanyak 305.535 kasus, lembaga mitra pengada layanan Komnas Perempuan sebanyak 16.217 kasus, dan sisanya bersumber dari Unit Pelayanan Rujukan (UPR), yang merupakan badan yang menerima aduan secara langsung di kantor Komnas Perempuan dan juga aduan-aduan dari surat elektronik yang masuk ke Komnas Perempuan.

Catahu yang dikeluarkan bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini menunjukkan kasus kekerasan terhadap perempuan tahun 2015 naik sekitar sembilan persen dari tahun 2014 yang berjumlah 293.220 kasus. Menurut Elwi, angka ini bisa dipandang positif karena dengan naiknya kasus kekerasan terhadap perempuan bisa diartikan sebagai naiknya keberanian perempuan untuk melaporkan kekerasan yang terjadi pada dirinya. "Jadi bukan kasusnya yang makin banyak, tapi perempuan yang makin berani untuk melaporkan kasusnya," kata Elwi pada Selasa, (8/3).

Lanjut Elwi, Komnas Perempuan membagi kekerasan terhadap perempuan dalam tiga ranah. Ranah personal, jika korban dan pelaku mempunyai hubungan darah dan kekerabatan, perkawinan, atau pacaran. Ranah komunitas, jika korban dan pelaku tidak ada hubungan darah dan kekerabatan, perkawinan, atau pacaran. Ranah negara, jika korban dan pelaku merupakan aparat negara dan sedang dalam kapasitas menjalankan tugas. "Dari ketiga ranah tersebut, ranah personal memegang kasus paling banyak sebanyak 11.217 kasus, diikuti dengan 5.002 kasus di ranah komunitas, dan ranah negara sebanyak delapan kasus," tutur Elwi.

Terkait dengan bagaimana Komnas Perempuan menanggapi peran media dalam pemberitaan kekerasan terhadap perempuan, mereka menyadari pentingnya peran media sehingga masyarakat bisa paham dan berani melaporkan kasusnya. Namun, Komnas Perempuan mengkritik media harus menjalankan kode etik jurnalistik dalam reportasenya. "Komnas Perempuan dalam analisa medianya menemukan banyak pemberitaan media pada kasus kekerasan seksual utamanya, yang melanggar kode etik jurnalistik, seperti menyebutkan identitas korban, atau mencampurkan opini dan fakta," lanjut Elwi.

Elwi berpesan pada masyarakat bahwa jangan takut untuk melaporkan segala bentuk kekerasan. "Masyarakat khususnya perempuan harus berani melaporkan kasus kekerasan yang dialami, percayalah kamu tidak sendiri!" kata Elwi. Elwi menambahkan bahwa masyarakat bisa menghubungi Komnas Perempuan di 021-3903963 atau surat elektronik di mail@komnasperempuan.go.id. (SAW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar