Membangun Pola Pikir Disiplin



Oleh: Kurniasari Alifta R

Saya sedang mengetik kata kunci “Negara Paling Disiplin di Dunia” di kotak pencarian, dan menekan tombol enter sebelum saya tercengang melihat hasil yang muncul di layar notebook. Hampir dari atas hingga bawah, mayoritas nama negara yang disebut di dalam judul artikel yang muncul ialah negara Jepang. Mayoritas dari artikel-artikel tersebut, yang disoroti ialah tentang pendidikan di sana. Karena seperti yang kita ketahui, bahwasanya berbicara mengenai kedisiplinan, tidak terlepas dengan pendidikan pula. Lalu, setelah melihat hasil tersebut, saya mulai bertanya, bagaimana dengan Indonesia? Tulisan ini bukan bertujuan untuk menumbuhkan rasa pesimis kita, atau menjelekkan negara sendiri, namun sebaliknya, untuk berkaca atau melihat ke diri kita sendiri. 

Seperti yang kita ketahui, Jepang terkenal dengan kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi. Negara tersebut sering menjadi contoh atau patokan untuk dibandingkan kedisiplinannya dengan negara-negara lain. Seperti di Indonesia sendiri sering melihat ke Jepang untuk membandingkan kedisiplinannya. Jika ingin membandingkan mengenai pendidikan antara Indonesia dengan Jepang, sebenarnya terdapat kesamaan pada wajib sekolah, yaitu wajib sekolah 9 tahun. Sistem penjurusan jenjang pendidikan atas antara pendidikan di Jepang dan Indonesia pun hampir sama pula. Jika di Indonesia terdapat jurusan IPA, IPS, Bahasa, dan Keagamaan pada Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, juga terdapat beberapa jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan. Di Jepang juga terdapat beberapa jurusan, seperti Jurusan Bahasa, Jurusan Sains, dan Jurusan Kesejahteraan dan Keluarga serta beberapa jurusan kejuruan di SMA Negeri, lalu di SMA swasta terdapat beberapa jurusan yang beragam sesuai minat dan bakat siswa.

Lalu, apa yang menjadikan Indonesia seakan-akan jauh dari Jepang? Padahal, di Indonesia pada tahun 2013/2014 menurut data dari Badan Pusat Statistik, terdapat 3.280 perguruan tinggi swasta maupun negeri, dan terdapat 5.839.587 Mahasiswa dari perguruan tinggi swasta maupun negeri. Juga terdapat 4.292.288 siswa SMA dan 12.409 sekolah SMA pada tahun 2013/2014. Dengan jumlah yang sedemikian, ditambah dengan banyaknya siswa yang mampu menorehkan prestasi di bidang akademik maupun non akademik, sebenarnya Indonesia sudah mempunyai massa penggerak agar mampu menjadi seperti Jepang dalam hal majunya pendidikan.

Namun, seperti yang kita ketahui, tidak hanya satu atau dua aspek saja yang perlu dibenahi. Melainkan, terdapat beberapa aspek yang perlu dibenahi. Salah satunya, yaitu tingkat kesadaran masing-masing individu mengenai kebutuhannya dalam menuntut ilmu. Karena sejatinya, perubahan itu sulit untuk dilakukan tanpa adanya kesadaran dari dalam diri masing-masing individu. 

Tidak hanya tentang pendidikan, salah satu hal yang juga menarik perhatian saya, yaitu mengenai waktu. Disiplin waktu nampaknya sulit untuk diterapkan di Indonesia. Seperti karet, waktu sering diulur-ulur sesuai kebutuhan suatu kelompok. Tak jarang, muncul suatu istilah “jam karet”. Namun sayangnya, “jam karet” ini seolah-olah malah membudaya di beberapa kalangan. Alih-alih menunggu, mereka tidak menyadari betapa banyaknya kerugian yang dibuang untuk kegiatan mengulur-ulur waktu tersebut. Kita ambil contoh saja, seperti kegiatan suatu seminar atau pertemuan, waktu keberangkatan atau waktu dimulainya acara sering kali molor dari kesepakatan awal. Mirisnya, kurangnya kesadaran mengenai disiplin waktu ini ditunggangi dengan pemikiran, “paling juga molor, biasa Indonesia.” Jika “jam karet” tersebut sudah dianggap menjadi suatu hal yang biasa, lalu siapa yang akan menjadi penggerak untuk mengubah pemikiran tersebut?

Waktu adalah uang. Mungkin kalimat tersebut yang mampu menerjemahkan betapa pentingnya menghargai waktu, dan bukankah suatu kesia-siaan jika kita mengulur-ulur waktu untuk sesuatu hal sebenarnya dapat kita manfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain? Dengan demikian, bukan menjadi suatu hal yang mengherankan apabila disiplin waktu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi majunya suatu negara. 

Perubahan itu memang sulit, namun, perubahan bukan suatu hal yang mustahil dan aneh untuk dilakukan. Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengubah pemikiran dan melakukan pembiasaan. Seperti yang saya tulis di atas, karena sejatinya, perubahan itu sulit untuk dilakukan tanpa adanya kesadaran dari dalam diri manusia. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar