Masa Lalu Jogja Tertinggal di Belanda

Ilustrasi museum dan artefak.

Selama ratusan tahun Indonesia dijajah oleh beberapa negara di antaranya Belanda dan Inggris. Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono pun pernah mengalami perilaku tidak baik yang dilakukan oleh para penjajah. Ketika masa kependudukan Gubernur Jenderal Raffles (1811-1816) Kraton Yogyakarta mengalami peristiwa di mana terjadi pertempuran antara serdadu Kerajaan Inggris dan laskar Keraton Yogyakarta yang mengakibatkan perampasan benda-benda pusaka, perhiasan hingga dokumen-dokumen penting lainnya. 

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai merasa akan pentingnya dokumen-dokumen yang masih berada di luar negeri tersebut untuk didapatkan kembali. Indonesia memulai pencarian tersebut pada tahun 1989 tetapi terhenti begitu saja, kemudian Arsip Nasional Republik Indonesia mulai bergerak pada tahun 2011 hingga 2014 untuk melalukan pengembalian dokumen-dokumen penting yang berada khusus berada di Belanda. Akhirnya pada awal tahun 2016 sebanyak 13.000 arsip dapat dikembalikan. Kemudian diberikan kepada Universitas Negeri Solo (UNS) dan 7000 arsip lainnya diletakkan di Perpustakaan Nasional. Proses pengembalian benda atau pun dokumen yang berada di luar negeri itu memerlukan diplomasi yang dilakukan antara negara dengan negara. 

Pada tahun 1989 pernah terjadi pengembalian arsip tentang Yogyakarta oleh kedutaan Inggris kepada Indonesia yang kemudian diberikan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X. Kemudian mulai tahun 2011 pemerintah pusat menuju langsung ke British Library. Hasilnya mendapatkan dokumen-dokumen yang berkaitan mengenai nusantara, akan tetapi masih terdapat 14 titik di mana dokumen-dokumen itu perlu dicari lagi. Dokumen-dokumen tersebut berbentuk manuskrip (surat yang bertuliskan aksara Jawa kuno), surat-surat antara Gubernur Jendral Raffles dengan Sri Sultan Hamengkubuwono. Dokumen asli yang berada di luar negeri ada beberapa yang tidak dapat dikembalikan ke Indonesia, karena mereka merasa memiliki dokumen tersebut, sehingga Indonesia hanya mendapatkan dalam bentuk digital saja. Selain di British Library terdapat dokumen-dokumen yang berada di Yayasan Royal Asiatec. Royal Asiatec menyimpan beberapa dokumen antara lain ada Babad Mataram Kartasura yang berisi mengenai Keraton Solo dan masih banyak lainnya. 

Proses pencarian dokumen, arsip dan manuskrip yang dilakukan oleh pemerintah ini bermaksud untuk mengetahui sejarah yang dapat membantu peradaban Indonesia untuk ke depannya. Karena di dalam dokumen tersebut banyak menceritakan peradaban Indonesia yang maju. Sehingga perlu adanya pencarian lebih mendalam lagi. Ke depannya agar dapat menceritakan pada generasi selanjutnya, khususnya terhadap daerah Yogyakarta. (NZ & AWN)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar