Kehadiran Pancasila sebagai Cultural Competence di Nusantara




sumber gambar : www.donisetyawan.com
Oleh : Muhammad Adel Aditya

Nusantara, kata yang seringkali dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah di Asia Tenggara dengan perairan yang sangat luas, di mana di dalam perairan itu terdapat beribu-ribu pulau, wilayah penghubung antara dua samudera dan dua benua. Wilayah tersebut kini telah menjadi sebuah nation-state (negara-bangsa) bernama Indonesia. Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki keberagam budaya (cultural diversity), akan tetapi kebudayaan yang beragam tersebut mampu melebur menjadi satu dalam konsep sebagai Bangsa Indonesia. Apa yang menyebabkan suatu wilayah yang memiliki kekayaan budaya yang begitu besar bisa saling menerima satu sama lain dan bahkan saling mengisi dan mebentuk suatu konsep kebangsaan, adalah hal yang akan dijelaskan lebih lanjut lagi.

Budaya bisa terbentuk karena adanya sebuah behaviour (tingkah laku) yang khas dan berulang di suatu wilayah. Apabila behaviour itu tidak mengalami sentuhan kontak dari behaviour wilayah lain, maka akan berkembang menjadi sebuah budaya (culture). Faktor utama yang membuat Nusantara mengalami kekayaan budaya yang luas, adalah minimnya kontak antar budaya yang satu dan yang lainnya, disebabkan oleh kondisi geografi Nusantara yang  lebih dari setengah wilayah Nusantara adalah laut. Budaya dari suatu pulau dengan pulau lain menjadi berbeda karena persebaran budaya terhalangi oleh wilayah perairan yang luas. Bahkan tak hanya antar pulau, di dalam pulau juga demikian, terdapat kenampakan alam yang menyulitkan budaya untuk tersebar, mulai dari anak pegunungan Mediterrania yang melintas dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga ke Sumbawa, serta hutan hujan yang luas bersama pegunungan yang terjal di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Tidak tersebarnya budaya secara merata ke tempat lain, serta terpusatkannya budaya hanya di suatu wilayah saja. Itulah yang menyebabkan Nusantara memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.

Berkembangnya teknologi juga mempengaruhi perkembangan transportasi. Adanya transportasi yang kian maju membuat masyarakat dari suatu wilayah dapat bertemu dengan masyarakat dari wilayah yang tentunya memiliki budaya yang berbeda. Bertemunya dua budaya yang berbeda itulah yang dapat menimbulkan cultural conflict. Cultural conflict apabila tidak segera diredakan dapat menimbulkan hal-hal yang berbahaya, contoh paling buruk adalah terjadinya perang. Faktor yang menyebabkan terjadinya cultural conflict adalah kurang kesadaran (awareness) serta pengetahuan (knowledge). Kesadaran diperlukan di setiap individu serta masyarakat, bahwa nilai serta norma yang terkandung di suatu budaya berbeda dengan budaya yang lain. Serta pengetahuan tentang budaya yang lain juga diperlukan sehingga memudahkan seseorang atau masyarakat untuk bisa lebih menerima budaya yang berbeda.

Dalam konsep negara modern seperti saat ini, negara modern dapat terbentuk apabila memiliki rakyat di dalam wilayahnya. Negera-negara di Eropa cenderung mudah untuk membentuk sebuah sistem negara yang kuat karena rakyatnya memiliki budaya yang cenderung sama. Lalu, bagaimana dengan Nusantara, apakah dengan budaya yang sangat beragam bisa menjadi sebuah negara modern? Untuk membuat hal itu terjadi, maka yang harus dilakukan adalah membentuk suatu cultural competence. Cultural competence adalah suatu bentuk integrasi dan transformasi dari pengetahuan tentang budaya-budaya yang ada menjadi sebuah kebijakan bersama yang berlaku untuk setiap masyarakat walaupun berbeda budaya. Dengan menggunakan cultural competence ini maka  Nusantara yang mempunyai keragaman budaya yang sangat besar dapat berdiri bersama dan menjadi suatu negara modern. 

Para founding fathers kita telah membuat suatu tatanan paham yang diharapkan mampu menjadi alat pemersatu bangsa yang terdiri dari beragam budaya. Pancasila, sebuah konsep paham yang sengaja dibuat oleh founding fathers kita sebagai respon terhadap kondisi realitas bangsa Indonesia yang kaya akan budaya. Pancasila didapat setelah melalui perumusan yang dimulai sejak 1 Juni 1945 hingga akhirnya disahkan pada 18 Agustus 1945, yang mana setelah waktu itu maka Pancasila secara otomatis telah mengikat secara konstitusional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat perumusan itulah, dilibatkan pula berbagai unsur dan golongan yang mewakili keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Dari perumusan yang sangat alot, mereka mampu menggali dan menemukan kesamaan dari berbagai budaya yang ada di Nusantara yang mana persamaan itu tertuang dalam ke-5 sila Pancasila.

Pancasila, seiring berkembangnya zaman mengokohkan dirinya sebagai suatu ideologi yang khas dari negara Indonesia, yang di dalamnya terdapat sebuah cultural diversity yang sangat besar. Hal itu juga yang membuat Pancasila secara langsung telah menjadi sebuah cultural competence yang hadir di tengah masyarakat di Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Sifat dari Pancasila yang menampung nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara, serta sifatnya yang mempersatukan budaya yang ada, membuat Pancasila pantas disebut sebagai cultural competence. Nusantara yang begitu luasnya baik dalam wilayah ataupun keberagaman budaya, diintegrasikan ke dalam tatanan negara moderen Indonesia melalui Pancasila. Masyarakat Nusantara yang berbeda-beda budaya dan terbagi menjadi berbagai macam suku, ditransformasikan oleh Pancasila sebagai Bangsa Indonesia. 

Jelaslah bahwa Pancasila adalah sebuah cultural competence yang merupakan karya bersama milik bangsa, dan oleh karena itu telah menjadi kewajiban bagi kita generasi muda untuk menjaganya dan mewarisinya kepada anak cucu kita kelak sehingga Nusantara tetap bersatu.    


Sumber Referensi
Latif, Yudi. 2011. Negara Paripurna : Historisitas, Rasionalitas, dan Aaktualitas Pancasila. Jakarta : Gramedia.
Ali, Virot. 2016. Eredicate Cultural Conflict through the Concept of Cultural Competence.  Makalah pada Kuliah Umum Cultural Problems in the Global Level and Education as its Solution, International Govermental Studies Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar