Ironi Media Sosial



sumber gambar : www.technofaq.org

Oleh: Tyas Titi Kinapti 


Seperti kita ketahui, belakangan ini publik dihebohkan dengan maraknya kasus pencemaran nama baik melalui media sosial.  Contohnya kasus Prilly Latuconsinna yang merasan nama baiknya tercemar karena tersebar foto editan Prilly telanjang. Selain itu, apakah Anda  masih mengingat kejadian yang menimpa mahasiswi S2 UGM bernama Florence Sihombing?

Kejadian yang menimpa Florence pada saat itu bahkan menjadi trending topic di berbagai media, baik portal berita besar, blog, ataupun media sosial lainnya. Awalnya wanita bernama Florence Sihombing mengunggah status yang menghina Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akibat kesal karena tidak dilayani saat ia menyerobot mengisi BBM. Florence menyebut Yogya tolol dan dia mengajak teman-temannya agar jangan tinggal di Kota Pelajar tersebut. Hal itu dijadikan status akun jejaring sosial Path-nya. Postingan Florence Sihombing tersebut ternyata berbuntut panjang. Bukan saja mendapat kecaman dari berbagai orang, postingan pun menjalar ke ranah hukum. Sungguh ironi, seorang mahasiswi S2 yang seharusnya berpendidikan malah menulis status di akun pribadinya dengan menjelek-jelekkan Kota Yogyakarta.

Hal tersebut tidak akan terjadi apabila Florence bisa dengan bijak menggunakan akun Path-nya tersebut. Walaupun Path  merupakan aplikasi yang bersifat pribadi bukan berarti kita bisa dengan seenaknya mengunggah status yang berisikan pencemaran nama baik. Apalagi menjelek-jelekkan sebuah kota yang merupakan sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat banyak masyarakat. Dari kasus ini kita bisa belajar untuk menghargai orang lain dan belajar bagaimana jika kita hidup di kota orang lain serta menghormati berbagai etnis yang ada di kota tersebut. Walaupun itu masih tetap di Indonesia, di negara kita sendiri kita harus tetap menghormati karena Indonesia sendiri mempunyai berbagai suku, budaya maupun bahasa yang beragam.

Sementara itu, banyak orang yang sering mengunggah status di twitter dengan berisikan, “It’s my twitter, I can tweet whatever I want.” Dan nyatanya kutipan tersebut tidaklah seutuhnya benar. Di dalam media sosial seperti twitter, facebook, path dan sebagainya tidak mungkin apabila hanya kita yang membaca status kita sendiri. Ada banyak orang di seluruh dunia yang bisa saja membaca status kita tersebut. Kita tidak bisa melarang orang lain untuk tidak membaca, tidak memedulikan ataupun berkomentar di dalam status kita tersebut karena media sosial sendiri diciptakan untuk bersosialisasi dengan orang lain dan belum tentu orang lain yang membaca status kita bisa sepaham dengan kita.

Sayangnya, banyak dari kita yang ternyata secara tidak sadar kurang bijak dalam memanfaatkan media sosial. Kita terlalu terlena dalam menggunakan media sosial yang justru bisa saja mengakibatkan kebablasan dalam berpendapat. Kita sendiri sering dengan sengaja mengumpat di media sosial, berkata buruk, dan bahkan melakukan kejahatan di media sosial. Media sosial nyatanya tidak selamanya menghasilkan hal-hal positif. 

Dengan diciptakannya berbagai macam media sosial sebenarnya diharapkan agar kita bisa lebih dimudahkan dalam hal berkomunikasi. Kehadiran media sosial juga tidak selamanya negatif, banyak hal positif yang kita dapatkan akan tetapi banyak dari kita yang menggunakan secara berlebihan sehingga justru akan merugikan dirinya sendiri dan juga bisa merugikan orang lain.

Media sosial yang kita miliki merupakan contoh dari cerminan diri kita sendiri. Semakin sering kita mengumpat, berkata buruk ataupun mengunggah status vulgar itu mencerminkan jika kita bukanlah seorang yang terdidik dan bijaksana. Kita harus sebisa mungkin mengunggah status maupun gambar yang sekiranya memang pantas untuk diunggah. Apabila kita sedang merasa kesal ataupun dalam kondisi marah, akan lebih baik dan lebih bijak jika kita menjauhi media sosial. Karena saat kita kesal, kita tidak bisa berpikiran jernih apalagi untuk mengunggah status. Florence sendiri pun tentunya tidak pernah menyangka, buah kekesalannya di media sosial akan mendapat perhatian luas dari masyarakat dan menuntunnya hingga ke ranah hukum. Oleh karena itu, kita harus lebih selektif dan bijak untuk mengunggah sesuatu, karena tidak semua pantas untuk kita tuangkan ke dalam media sosial.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar