Bias Konfirmasi Mengganggu Pencarian Kebenaran



 Sumber: http://www.elconfidencial.com

Oleh: Rizqi Maulana Yoesoep 

Setiap orang berhak memiliki sebuah hal yang ia yakini betul dengan sepenuh jiwa raga. Namun setiap orang yang memiliki keyakinan berkewajiban untuk membuktikan bahwa yang ia yakini adalah benar. Karena apa yang diyakini belum tentu benar. Untuk menguji itu, maka akal dan pengetahuan kita harus digunakan agar kebenaran yang dimaksud tercapai.

Dalam contoh keyakinan yang sederhana saja, misalnya keyakinan pada calon pemimpin atau keyakinan kita sebagai masyarakat kebanyakan pada partai politik mana yang benar-benar baik dan dapat dipercaya. Dalam proses meyakini sesuatu, tidak perlu berlama-lama bagi kita untuk mendapatkan keyakinan itu sendiri. Hanya dengan pidato berapi-api dari calon pemimpin ataupun dari perwakilan partai yang berharap mendapatkan suara dari masyarakat kebanyakan, kita akan mudah yakin dan menaruh keyakinan kita pada salah satu pihak.

Pekerjaan lain yang sebenarnya masih harus dilakukan adalah proses mengonfirmasi keyakinan kita untuk mendapatkan kebenaran. Proses ini tidak akan berlangsung dalam sekejap mata. Hal ini disebabkan karena ada banyak faktor yang harus menjadi bahan pertimbangan; pendapat ahli, pendapat akademisi, hasil penelitian—yang eksak maupun sosial tergantung konteks—yang valid, hingga pemberitaan dari media cetak maupun elektronik.

Proses ini pada akhirnya akan menentukan status kebenaran dari hal yang kita yakini, seperti contoh di atas misalnya. Sayangnya, dalam proses penggalian kebenaran ini, kondisi psikologis seseorang sering bermain dan memengaruhi. Seseorang dengan rasa fanatik atau yang keyakinannya terlalu kuat cenderung ingin mempertahankan keyakinannya tanpa menimbang dan mengamati faktor-faktor lain. 

Karena keyakinan itu sebenarnya bukan kebenaran. Keyakinan hanya konsep-konsep yang kita anggap benar sesuai realitas1. Seseorang yang memiliki rasa keyakinan yang teramat kuat terhadap sesuatu cenderung akan mencari informasi yang sekiranya akan memperkuat keyakinan atau pendapat mereka. Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut ‘Bias Konfrimasi’ atau “Confirmation Bias’.

Bias Konfirmasi atau Confirmation bias adalah kecenderungan seseorang untuk mencari informasi yang dapat mendukung atau menyokong pendapat atau kepercayaannya saja. Istilah ini pertama kali dikembangkan oleh psikolog asal Inggris, Peter Wason pada sekitar tahun 1960-an.

Konfirmasi Bias juga dikenal sebagai pengumpulan bukti secara selektif. Pengumpulan ini dilakukan untuk mewujudkan ekspektasi-ekspektasi mereka menjadi nyata. Orang-orang cenderung memilih dan memercayai informasi yang mengonfirmasi hipotesis mereka dengan bebas tanpa memperhatikan kebenaran atau kesalahan informasi tersebut2. Sikap bias konfirmasi ini, dalam proses mencari kebenaran, akan membuat seseorang menjadi orang yang selalu melakukan penyangkalan (denial) pada fakta lain yang tidak sejalan dan tidak mendukung argumen atau asumsi mereka. 

Hal yang perlu dilakukan dalam mencari kebenaran yang sebenar-benarnya adalah dengan memperluas penerimaan kita terhadap sesuatu. Karena dengan kita membuka atau menerima sesuatu, apalagi yang tidak sejalan dengan keyakinan kita, perlahan-lahan perspektif kita dalam memandang sesuatu akan semakin kaya dan beragam. 

Karena dengan penerimaan yang luas, dan perspektif yang beragam, kita akan lebih mudah dalam mencari kebenaran. Tidak ada keberpihakan sehingga dalam proses pencarian itu, hasil yang ditemukan akan lebih netral. Dengan perspektif yang luas juga, kita tidak akan melakukan penyangkalan (denial) pada sesuatu yang berada di sisi lain dari posisi kita berkeyakinan.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar