Berharap Label Halal Pers Mahasiswa

Sumber gambar: persmaideas.com

Aktivitas jurnalistik tidak lepas dari idealisme, wakil khusus bagi kami kaum pers mahasiswa (pers mahasiswa). Kenapa? Karena sebuah idealisme menunjukkan kapasitas dan kemampuan dalam sebuah pemberitaan. Produk jurnalistik tanpa dilandasi idealisme penulis ataupun lembaganya ibarat air panas tanpa kopi dan gula. Nggak jadi kopi dong. Konteksnya di sini ialah sejauh mana idealisme persma akan bergerak?

Dalam pergerakannya persma haruslah mampu mempertahankan idealismenya. Tak jarang idealisme tersebut berbenturan dengan birokrasi yang menghidupi persma tersebut. Mungkin dalam hal ini birokrasi merasa tersentil dengan pemberitaan yang dibungkus apik oleh para aktivis jurnalistiknya. Lalu sejauh manakah kebebasan idealisme persma dapat melalang buana merambah ke seluruh lini birokrasi? Apakah peristiwa Orde Lama dan Orde Baru terkait adanya pembatasan pemberitaan terulang di era reformasi milenium ini? Kami punggawa persma harus tetap istiqomah dengan idealisme yang telah mendarah daging. Karena inilah yang membedakan kita dengan pers media mainstream yang mungkin bergerak sesuai kebutuhan pasar.

Ada baiknya birokrasi untuk sejenak membuka kitab Undang-undang Dasar 1945 yang salah satu pasalnya menyebutkan adanya jaminan kebebasan mengeluarkan pikiran dan pendapat. Pasalnya beberapa kerabat kita di beberapa daerah tidak bisa merasakan kebebasan yang digaungkan dalam UUD 45 tersebut. Tidak perlu disebutkan satu persatu kisah klasik saudara-saudara kita, karena hanya akan menguak luka tanpa penawar. Yang ada hanyalah noda hitam yang membuat cacat kebebasan yang pernah digaungkan pendahulu negeri. Khususnya bagi birokrasi kampus yang menaungi kami persma, berdiamlah sejenak dan bijaklah dalam menyikapi pergerakan kami. Tidak perlu khawatir dengan headline-headline isu yang kami kuak. Pergerakan kami tidak semata-mata menggegerkan civitas academica, tujuan kami sederhana. Kami hanya menginginkan keterbukaan informasi publik. Civitas academica yang Anda-Anda naungi berhak mengonsumsi segala bentuk pemberitaan yang tentunya menyangkut kemaslahatan mereka.

Modal idealisme saja tidak cukup untuk melayangkan sentilan-sentilan kepada birokrasi kampus yang “kurang pro” dengan kemaslahatan mahasiswa. Memerlukan keberanian dan sikap militansi agar keresahan yang dirasakan umat kampus didengar oleh birokrasi. Keberanian tentu tidak diperoleh begitu saja oleh punggawa persma, diperlukan jam terbang tinggi dan jatuh bangun bergerak dengan embel-embel kebebasan berekspresi. Seperti yang diungkapkan Mochtar Lubis bahwa ramainya media massa menulis berita secara berani dan terbuka belum menjadi indikasi kebebasan pers semakin longgar.

Sebagai persma kami wajib mempertanyakan di mana jaminan kebebasan kita saat ini? Apakah kebebasan hanya sekedar klise saja? Kami tidak amnesia dengan istilah pers Pancasila yang katanya menjunjung nilai-nilai demokrasi, tetapi pada kenyataannya gerak persma selalu salah di mata birokrasi. Sejauh mana kebebasan itu berlaku di mata kalian. Atau mungkin kami hanya sebagai alat kampus untuk memberitakan hal-hal yang bernilai positif. Layaknya sebuah media kampus untuk membranding kampusnya agar akreditasi tidak melorot. Ironis memang jikalau hal ini menjadi tujuan birokrasi untuk mendikte gerakan persma. 

Halo saudara-saudara birokrasi yang kami hormati, apakah ketakutan Anda-Anda sekalian dengan sebuah kebebasan? Apakah Anda begitu terusik hingga merasa kebebasan Anda berbenturan dengan kebebasan kami? Jikalau iya, Anda keliru. Kami punggawa persma tidak semena-mena dalam kebebasan yang kami gaungkan. Karena kami sadar sebagai manusia satu sama lain menghormati kebebasan. Pada hakikatnya kebebasan adalah milik setiap individu untuk menyatakan sebuah pendapat dan pemikiran. Selain itu kebebasan menuntut kita untuk bersikap kritis dan mengungkapkan dengan kritis. Karena tanpa sikap kritis kita tidak bisa menjadi manusia intelektual. Sebab kunci kemajuan sebuah bangsa adalah dengan adanya pemikiran dan sikap yang kritis. Kalau kita tidak bisa menjadi manusia yang demikian kita akan menjadi kuli di negeri sendiri. Apakah demikian yang saudara-saudara birokrasi inginkan? (SLS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar