Suara Rock Suara Rakyat



Oleh: Joko Aji Suryawan

Musik sejatinya adalah sebuah seni menyampaikan pesan. Di Indonesia banyak terdapat genre musik, dan setiap genre memiliki arti. Banyak juga band dari Indonesia yang pastinya setiap band punya ideologi masing-masing.

Musik juga dapat menandai zaman. Misalnya musik pada era pemerintahan presiden piye le kabare iseh penak jamanku to, musik yang diusung adalah musik Rock Progresif seperti yang dibawakan oleh God Bless, dan rock balad yang diusung oleh Iwan Fals. Kenapa mereka memilih latar belakang Rock? Ya karena musik Rock adalah musik perlawanan atau musik ancaman. Ciri khas dari God Bless dan Iwan Fals ada pada lirik mereka yang membicarakan dan mencaci kehidupan sosial waktu itu. Seperti "Wakil Rakyat", "Siang Seberang Istana", "Lonteku", dan "Oemar Bakrie" yang dibawakan Iwan Fals. Serta "Semut Hitam", "Kehidupan", "Rumah Kita", dan "Badut-Badut Jakarta" milik God Bless. Berani sekali ya mereka ngata-ngatain isi negaranya Soeharto hehe...

Kedua legenda musik Indonesia ini terus konsisten menumpahkan ketidaknyamanan mereka, hingga pada akhirnya banyak anak muda yang terprovokasi oleh karya-karya mereka. Kemudian anak-anak muda ini memberanikan diri untuk mengikuti pendahulu mereka yaitu bersuara lewat musik yang ditandai dengan lahirnya Slank, yang kemudian disusul Superman Is Dead, Marjinal Predator, dan kawan-kawannya. (Smash 125cc dan penggembala sapi junior nggak termasuk.)

Makin ke sini makin modern dan masyarakat merasa tidak ada lagi yang perlu dilawan. Mereka menganggap setelah era Soeharto semua sudah baik-baik saja, padahal mereka sedang dihegemoni. Di sinilah masa-masa meredupnya sinar God Bless dan Iwan Fals. Sebetulnya penerus mereka tetap menggeliat, tapi lebih berada di komunitas bawah tanah dan label-label indie. Mereka kalah pamor dengan label mayor yang suka mengontrak band-band dengan genre musik menye-menye yang lebih digandrungi oleh anak-anak muda yang gemar beronani dengan lagu-lagu untuk pacar, lagu-lagu yang merayakan keindahan paras, dan lagu-lagu sedih yang seakan mau mati ketika ditinggalkan pacarnya. Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu... Yu no mis so we gel elepyu... (Ya gue nggak tau kenapa bisa cenat-cenut, mungkin hepatitis atau kebelet eek. Gue gak tau)

Kembali ke musik keras...

Memilih jalur Indie merupakan cara supaya karya mereka tidak diintervensi, mereka bebas bersuara, tidak ada hal tabu di Indie. Tidak bekerja sama dengan label mayor bukan berarti band-band Indie Rock tidak bisa bertahan dan mengancam lagi, mengingat pesatnya perkembangan internet saat ini, seperti tidak ada lagi batasan antara mayor dan indie, tidak ada batasan lagi antara aku dan kamu hehe...

Ada beberapa nama band penerus semangat Ahmad Albar cs dan Bang Iwan yang konsisten dari awal terbentuk hingga sekarang. Saya akan sedikit membahas beberapa nama. Seperti Marjinal Predator. Dilihat dari namanya saja sudah memberikan kesan marginal, liar dan mengancam. Karena sesungguhnya mereka memang mengancam. Namun bukan cuma dari nama, secara visual pun sepertinya mereka bakalan langsung ditolak calon mertua hehe. Namun secara lirik mereka banyak membicarakan kehidupan sosial dari era Orde Baru hingga Reformasi. Seperti dalam lagu "Marsinah", "Negeri-negeri", "Buruh Tani", "Aparat Bangsat", "Hukum Rimba". Walaupun mereka segerombolan punk lusuh tapi mereka melek hukum. (Karena memang salah satu personilnya yang bernama Boy adalah seorang sarjana hukum. Keren kan). Namun lagu yang paling emosional menurut saya adalah "Luka Kita", dengerin sendiri deh. 

Ada juga duo Bali yang namanya sangat eksis di luar maupun di dalam Indie. Ya... Superman Is Dead (SID) dan Navicula, mereka merupakan wujud nyata anak muda keren yang sebenarnya. Tembang-tembang SID lebih mengarah pada mempersatukan perbedaan. Sedangkan Navicula lebih vulgar lagi dalam urusan lirik, dengerin aja lagunya yang membicarakan tentang gobloknya hukum di Indonesia (Mafia Hukum), lagu untuk hutan di Kalimantan (Di Rimba, Harimau-harimau, Orangutan), lagu tentang bisingnya polusi di ibu kota (Metropolutan), lagu tentang bullshitnya acara televisi saat ini (Televishit). Duo Bali ini bukan cuma ngeband, tapi mereka juga merupakan aktivis Bali Menolak Reklamasi. Keren kan... Setia Band dan Pasukan Armada nggak bakalan berani demo panas-panasan. Ngomong ngomong soal vulgar rasanya belum lengkap jika belum membahas Forgotten. Band asal Ujung Berung ini merupakan band dengan lirik paling vulgar, hot dan liar di Indonesia. Itu dibuktikan dengan lagu "Sarapan Laknat", "Hidup Adalah Kutukan", dan "Tuhan Telah Mati". Lagu "Tuhan Telah Mati" tidaklah sebusuk yang Anda pikirkan. Lagu ini menceritakan bahwa manusia (kita) seperti telah menemukan tuhan-tuhan baru yang tersebar di mal, brosur, dan gawai kalian. Cerdas kan...

Itu penyebab musik Rock tidak mudah diterima oleh kuping-kuping khalayak ramai. Karena Rock itu batu, batu itu keras. Rock meresahkan Anda, karena musik Rock menyadarkan Anda bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja. Musik Rock itu keras, bising, dan bukan untuk anak kecil. Itu sebabnya mengapa Coboy Junior memilih jalur Boy band.

Sial.. Kenapa nama itu muncul di tulisan saya?
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. artikel anda sangat bermanfaat dan menarik.

    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Publikasi Teknologi Informasi

    BalasHapus