Problematika Buta Huruf Alquran di Negara Muslim Terbesar

Sumber gambar: www.channel4.com
Tentu tidak ada yang menyangkal bahwa saat ini Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. Terbesar dari kuantitas populasi muslim di suatu negara dan dibandingkan dengan negara lain. Total populasi penduduk muslim di Indonesia sendiri kurang lebih mencapai angka 205 juta jiwa atau 88% dari total keseluruhan penduduk. Hal ini menjadikan Indonesia berada di atas Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Iran, Turki, Aljazair, dan Maroko, dalam daftar 10 negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. 

Kuantitas yang tinggi tidak serta-merta menjamin kualitas muslim yang juga tinggi. Namun di Indonesia sendiri, hadirnya sekolah-sekolah berlabel pendidikan agama seperti pesantren-pesantren maupun madrasah-madrasah mencerminkan adanya usaha untuk mencetak muslim yang berkualitas. Kementerian Agama pada tahun 2012 mencatat sebanyak 27.230 pesantren tersebar di seluruh Indonesia. Kehadiran pesantren dan madrasah tersebut tidak sepenuhnya menjamin terselesaikannya segala permasalahan umat muslim di Indonesia. Masalah ini terutama menyangkut tingkat pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam, serta masalah kemampuan membaca Alquran.

Buta Huruf Alquran

Salah satu permasalahan umat Muslim Indonesia yang harus menjadi sorotan utama adalah angka buta huruf Alquran yang masih tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Agama, sebanyak 54% muslim Indonesia buta baca Alquran. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk muslim Indonesia, yaitu lebih dari seratus juta jiwa, merupakan muslim buta huruf Alquran. Di samping itu, kualitas bacaan Alquran yang sesuai dengan aturan yang ada (Tajwid) juga perlu menjadi perhatian yang lebih.

Masalah kualitas bacaan Alquran ini sangat saya rasakan ketika saya beribadah di dua masjid yang berbeda dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini. Saya tidak mengetahui jelas bagaimana mekanisme pemilihan Imam salat maupun khatib Jumat di dua masjid tersebut. Namun banyaknya Imam maupun Khatib di dua masjid tersebut yang kurang fasih membaca Alquran mencerminkan adanya masalah bacaan Alquran yang sangat pelik. 

Terkait hal ini, saya tidak menghakimi bahwa saya lebih pintar dari mereka dalam membaca Alquran, tentu tidak! Namun komentar yang saya tuliskan ini mengacu pada sedikit ilmu yang sudah saya dapatkan sejauh ini. Contoh sederhananya adalah cara membaca bacaan Mad Thobi’i yang notabene adalah pelajaran dasar dalam ilmu Tajwid. Bacaan Mad Thobi’i tersebut yang seharusnya panjang, namun berkali-kali tidak dibaca panjang oleh beberapa Imam dan Khotib di dua masjid tersebut. Beberapa khatib bahkan terbata-bata membaca teks khotbah Jumat berbahasa Arab yang ia bawa. Masalahnya dalam beberapa kosa kata bahasa Arab, berbeda panjang pendek atau harakat saja dapat berpengaruh kepada arti bacaan.

Masalah Bersama

Permasalahan buta huruf Alquran tentu merupakan permasalahan bersama bagi umat Islam. Semua kalangan harus sadar dan peduli terhadap permasalahan ini. Bagi muslim yang telah memahami cara membaca Alquran, menjadi kewajiban baginya untuk berbagi ilmu yang telah ia ketahui. Bagi kalangan yang belum dapat membaca Alquran dengan baik, tentu menjadi kewajiban baginya untuk memperbaiki bacaan Alqurannya. 

Dalam menjawab permasalahan ini, semua muslim tentu harus bersatu untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan buta huruf Alquran. Semua muslim harus tidak memandang sekat-sekat sektarian satu sama lain, kaum ekstremis pun bahkan juga harus bersatu. Daripada membicarakan dan memperdebatkan perbedaan satu sama lain yang menimbulkan konflik dan memecah belah umat Islam. Daripada mengorbankan nyawa untuk berjihad dengan alasan yang samar-samar dan penuh intrik politik. Lebih baik bersatu dan berjihad mengajarkan Alquran kepada bapak-bapak maupun ibu-ibu yang sudah terlanjur tidak fasih membaca Alquran. Ataupun kepada remaja maupun anak-anak yang di masa depan nanti akan menjadi imam salat dan khatib Jumat di masjid-masjid.

Permasalahan ini bukan saja merupakan tanggung jawab bagi kalangan alim ulama maupun ustaz-ustaz. Kaum muda yang mencakup pelajar dan mahasiswa pun dapat berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan ini. Langkah sederhananya adalah dengan mengajarkan Alquran kepada teman dekat ataupun orang-orang di sekitarnya yang belum bisa membaca Alquran. Dengan melaksanakan langkah sederhana tersebut, secara tidak langsung mereka mulai menanamkan rasa kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim dan juga rasa keikhlasan dalam mengajarkan ilmu tanpa pamrih. 

Tentu peran-peran semua kalangan tersebut dilakukan agar mata rantai buta huruf Alquran dapat segera berakhir. Karena Alquran adalah pedoman hidup utama. Karena Alquran merupakan ladang pahala bagi siapa pun yang membaca, memahami, dan mengamalkannya. Tentu juga agar kualitas muslim di seluruh dunia pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya, semakin membaik, sebaik kuantitasnya. (arf)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar