Parasitosis Gawai

Sumber gambar: nationalgeographic.co.id

Peradaban baru membuat dunia berubah, di mana saat teknologi dan gawai telah berkembang pesat membuat pemakainya mendapatkan efek yang begitu besar. Ternyata di balik kecanggihannya, gawai tidak hanya memberikan efek baik. Tetapi, gawai bisa menjadi terapi yang membutakan pemakainya. Di sisi lain, gawai mempermudah setiap pemakainya untuk mendapatkan informasi dengan cepat, berinteraksi dengan sesama melalui media sosial, dan masih banyak lagi. Saat ini gawai seperti menjadi sebuah kebutuhan primer yang harus dimiliki oleh setiap individu. 

Hampir semua kalangan memiliki gawai dari anak-anak hingga dewasa bahkan orang lansia pun ada yang memilikinya. Tak heran, jika banyak dari mereka yang memiliki gawai lebih dari satu. Gawai seolah menjadi primadona terutama di kalangan remaja. "Nggak punya gadget, nggak gaul!" Itulah kata-kata yang sering ditujukan kepada orang yang tidak mempunyai gawai terlebih kepada para remaja. 

Perkembangan gawai seolah membuka mata para industri-industri teknologi untuk terus mengembangkan dan memberikan inovasi-inovasi baru untuk membuat gawai yang lebih canggih lagi dan saling berlomba-lomba dalam menciptakan gawai canggih dengan kualitas yang bagus dan harga yang bisa dijangkau oleh masyarakat. Tak heran jika saat ini gawai telah banyak dimiliki baik oleh kalangan bawah, menengah, maupun atas. Gawai seperti mempunyai daya ikat tersendiri yang seolah memaksa kita untuk memilikinya dan juga gawai memiliki tingkat kecanduan yang tinggi, sehingga membuat pemakainya tidak bisa lepas dari gawai yang mereka miliki. 

Gawai yang merupakan suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Contoh gawai adalah laptop, netbook, MP3/MP4 Player, kamera, tablet, ponsel pintar, dan lain-lain. Gawai yang paling banyak ditemukan pada setiap individu adalah ponsel pintar. Dalam sudut pandang lain, memiliki gawai sering dijadikan sebagai ajang pamer satu sama lain. Hal ini juga yang memicu kesombongan seseorang atas apa yang dimilikinya. 

Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya tentang apa itu parasitosis gawai? Sesuai dengan judul yang saya berikan di atas. Baiklah, menurut pemahaman dan pengetahuan penulis Parasitosis adalah penyakit atau infeksi yang disebabkan oleh parasit. Istilah parasit yang dimaksud di sini adalah gawai. Sehingga dalam pemahaman sederhananya, Parasitosis Gawai adalah efek buruk yang ditimbulkan dari gawai itu sendiri. Banyak contoh kasus orang-orang yang mengabaikan pekerjaan maupun kewajiban mereka hanya karena asyik atau sibuk dengan gawai mereka sendiri. Contohnya bisa kita lihat di kehidupan nyata seperti seseorang anak yang sedang asyik bermain dengan gawai yang dimilikinya, tiba-tiba terdengar suara azan. Tetapi, anak tersebut masih sibuk dan asyik dengan gawai yang dimilikinya dan bukannya segera pergi beranjak untuk salat. Kemudian setelah waktu salat hampir habis, barulah anak tersebut beranjak untuk salat. Kemudian contoh berikutnya, seorang remaja ketika disuruh pergi belanja ke luar oleh orang tuanya, dia menolaknya dengan alasan sedang sibuk mengerjakan tugas. Tetapi, kenyataan yang sebenarnya dia sedang asyik bersama gawainya. Contoh lainnya, seorang siswa atau mahasiswa ketika di sekolah dan kampus, dia tidak mendengarkan guru atau dosen yang sedang menjelaskan materi di depan. Tetapi, dia malah asyik atau sibuk sendiri dengan gawainya untuk misalnya bermain game, Facebook, Twitter, BBM, Instagram, Path dan sebagainya. Dalam kasus ini gawai telah membuat anak tersebut menjadi malas.

Gawai telah banyak menimbulkan efek yang luar biasa terutama di kalangan remaja yang masih mengenyam dunia pendidikan. Misalnya, seorang siswa saat ingin mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya, mereka tidak perlu bersusah payah mencari jawaban dengan membaca buku. Cukup dengan berselancar di internet menggunakan gawai mereka, semua informasi atau jawaban yang mereka inginkan akan dengan mudahnya didapatkan. Hal ini justru menimbulkan kurangnya minat baca siswa karena mereka telah dipengaruhi oleh gawai dan kecanggihan teknologi. 

Gawai bisa membuat orang menjadi malas, sibuk dengan dunianya sendiri atau dengan kata lain mereka akan lebih bersifat individualistis, membuat pikiran seseorang tidak fokus terhadap apa yang ingin dilakukannya karena tidak bisa lepas dari gawai, membuat orang malas untuk berinteraksi secara langsung, melainkan mereka akan lebih sering berinteraksi secara tidak langsung melalui media sosial yang dimiliki oleh gawai mereka.

Ketergantungan akan gawai juga telah membuat pola pikir berubah. Kita yang dulunya ketika ingin melakukan sesuatu kita pasti akan bergerak dengan penuh perjuangan, sedangkan sekarang ketika kita ingin melakukan sesuatu, kita bisa melakukannya dengan mudah. Seperti, belanja daring cukup dengan menggunakan gawai, ketika ingin mentransfer uang kita tidak perlu bersusah payah pergi ke bank tetapi, cukup dengan menggunakan aplikasi mobile banking di gawai mereka semuanya bisa diproses dengan cepat, bagi siswa mereka lebih senang belajar dengan menggunakan internet di gawai mereka karena dinilai lebih efektif sehingga menimbulkan kurangnya minat baca siswa, ingin membeli tiket dengan menggunakan gawai semuanya bisa didapatkan dengan cepat tanpa takut kehabisan tiket dan masih banyak lagi contoh lainnya. Ya, memang ada dampak positif dan negatif yang diberikan tersendiri oleh gawai.

Solusi yang bisa dilakukan agar kecanggihan gawai tidak merusak moral, karakter, perilaku, serta budaya dari bangsa kita adalah: Pertama, perlunya pengawasan dari orang tua, di mana dalam hal ini orang tualah yang sangat berperan penting dalam memberikan atau menyaring gawai yang akan diberikan kepada anak. Kedua, dewasa dan bijaklah dalam menggunakan gawai. (ASN)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar